Mistisisme, Kesabaran, dan Penyelenggaraan Ilahi
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad, amin. Pada tanggal 16 April 2023 terjadi suatu pengalaman mistik, yang segera terlupakan. Isi dari pengalaman itu memang dilupakan, tapi bahwa pengalaman itu terjadi tetaplah teringat. Dampak dari pengalaman itu buruk. Karena aku dengan segera berusaha mencari-cari informasi yang “instan” tentang mistisisme dan seperti ingat mendapat pengalaman mistik yang instan. Di discord aku sempat mencari dan bergabung dengan komunitas-komunitas yang di mata Gereja sebenarnya sesat atau bidat. Persis hari ini aku berusaha mencari informasi instan tentang Kabbalah yaitu mistisisme Yahudi. Namun, setelah itu aku ditegur Kristus, dan aku mempelajari suatu hal yang penting.
Dalam hidup ini ada nilai
dan keutamaan yang amat penting yaitu kesabaran, yang adalah turunan dari iman
kepada Allah. Aku seringkali tidak bersabar dan hendak memperoleh semuanya
segera cepat, karena ada rasa beban yang amat berat pada jiwaku. Sehingga aku
ingin dilegakan dengan segera. Namun, Allah mengajarkan aku untuk berdamai
dengan segala beban berat itu dan bersabar. Artinya percaya kepada Dia bahwa
aku akan dilegakan dan dipuaskan pada waktu yang tepat, yaitu pada waktu Allah
dan bukan waktuku. Jadi, kehausanku akan Allah akan digenapi pada waktu yang
paling tepat, sekalipun waktu itu setelah tubuhku mati, bahkan sekalipun jika
waktu itu setelah pemurnian jiwa yang amat lama di alam roh.
Mistisisme bukanlah
suatu hal yang dapat dipermainkan dan harus dipahami tujuan sejati dari
mistisisme yaitu persatuan manusia dengan Allah. Maka, untuk mencapai tataran
mistik, dibutuhkan suatu persiapan yang amat matang, dan aku tahu bahwa aku
masih harus dimatangkan oleh Kristus. Sehingga aku sungguh harus bersabar dan
percaya kepada penyelenggaraan Ilahi yaitu rencana Allah terhadap hidupku. Lagipula,
belum tentu aku membutuhkan pengetahuan mistik yang amat mendalam seperti
Kabbalah atau yang lainnya. Barangkali aku membutuhkan suatu hal yang lain,
jadi aku harus kembali lagi menyerahkan diri kepada Allah, dan bukan
mengandalkan diriku sendiri. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment