Examen 29 January 2023

 

Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira! Bagi Kristus yang telah menebus kita. Bersyukurlah kepada Allah. Kita bangkit bersama Kristus. Kata-kata ini menggaung di dalam batinku setelah pengalaman hari ini. Sungguh hari ini adalah hari Tuhan, hari yang dikuduskan oleh Allah, hari yang ditetapkan bagi Allah. Pujilah Tuhan, karena Dia membangunkan dan menghidupkan aku. Pujilah Tuhan, karena Dia mendorong kami untuk merayakan Ekaristi. Pujilah Tuhan, karena Dia memberikan kami rahmat untuk berpertualang di Jakarta dan sekitarnya. Pujilah Tuhan, karena Dia memberikan kami rahmat untuk menikmati petualangan kami sepenuhnya, dengan cara mengalihkan tujuan makan kami ke tempat yang lebih baik, mengabulkan doaku untuk menaiki satu lajur bis tertentu, dan dengan memberikan aku rahmat pengendalian diri untuk tidak makan terlalu banyak. Pujilah Tuhan, karena Dia mengaruniakan kami rahmat untuk mengenali segala pekerjaan dan karya-Nya yang kudus dan mulia. Pujilah Tuhan, yang telah menyelamatkan kita dari kegelapan maut, dosa, dan kekacauan ketiadaan. Pujilah Tuhan, yang telah memberikan kita rahmat untuk bersyukur dan memuji Dia. Sebab ingatlah, “Sungguh benar dan pantas, layak dan menyelamatkan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah di manapun kita berada.” Tanpa rahmat-Nya kita bahkan tidak dapat mengenali Dia dan menyembah-Nya. Segala kebaikan yang kita terima, berasal dari Allah. Namun, segala kejahatan yang kita terima, berasal dari kodrat dosa dan ketiadaan.

Exult, sing a song of joy! For Christ who redeems us. Give thanks to God. We rise with Christ. These words resound in my mind as I enjoy the graces of today. Truly the day is a day of God, a holy day, a day established for God alone. Praise Him! For He has awakened me and sustained me. Praise Him! For He has moved us to the Eucharist. Praise Him! For He graces us to journey and adventure together. Praise Him! For He has answered our prayers and guided us to a better place. Praise Him! For He has graced me with self-mastery. Praise Him! For He has given us the grace to recognize His holy and glorious acts and works. Praise Him! For He has saved us from the darkness of death, sin, and the chaos of the void. Praise Him! For He has given us the grace to thank and praise Him. Remember, “It is right and just, proper and our salvation, to give thanks to God wherever and whenever we are.” Without His grace, we cannot even recognize and worship Him. All goodness that we receive, comes from God. However, all evil we receive, comes from the nature of sin and nothingness. Glory be to the Father, and the Son, and the Holy Spirit, as it was in the beginning, is now, and ever shall be, world without end, amen.

Pelayanan dapat diartikan sebagai pekerjaan baik atau karya baik (good works). Aku tidak ingin membahas perdebatan teologis antara Gereja Katolik dan reformasi, tapi aku hanya ingin menyampaikan refleksiku sendiri tentang pelayanan. Pelayanan adalah esensi dan makna kehidupan. Di mana segala kegiatan kehidupan harusnya berpuncak kepada pelayanan. Sebab Allah sendiri adalah puncak dari segala pelayanan, Dia adalah Pelayan Sejati dalam Kristus, tapi juga Dia melayani sebagai kodrat-Nya, sebab segala yang Dia lakukan ditujukan kepada kebaikan ciptaan-Nya terutama kita manusia dan bukan bagi diri-Nya sendiri. Maka kita yang hendak menjadi kudus harus serupa dengan-Nya dengan menjadi pelayan bagi orang lain dan bagi Allah. Kita sudah membahas hati dan hidup. Pelayanan berakar dalam hati dan bertumbuh dalam hidup. Hati yang baik adalah hati yang siap melayani, karena dia yang selamat adalah dia yang melaksanakan kehendak Allah, bukan yang sekadar mengetahui kehendak Allah. Hati di sini dapat bermakna akal budi kita, kehendak kita, atau keseluruhan diri kita. Kita harus mengalami perubahan dulu dalam hati kita, dari hati yang berdosa menjadi hati yang seputih salju. Namun kita harus mengingat, sekalipun kodrat kita berperan dalam pertobatan kita atau metanoia, Pribadi yang sungguh mempertobatkan kita bukanlah diri kita sendiri melainkan Allah. Maka, kita harus benar-benar mengandalkan Allah untuk mengubah hati kita menjadi hati-Nya sendiri. Dalam hidup, saat hati kita sudah berubah menjadi hati yang benar, maka secara kodrati kita akan memanfaatkan segala hal dalam diri kita untuk melayani Allah dan sesama. Ada 2 cara kita dapat melayani, secara langsung dan secara tidak langsung. Pelayanan langsung adalah segala pelayanan yang memang langsung mendatangkan kebaikan bagi sesama. Pelayanan tidak langsung adalah segala kegiatan yang mempersiapkan diri kita untuk melayani secara langsung. Jadi saudara-saudariku yang terkasih, dengan belajar untuk melengkapi kemampuan kita termasuk pelayanan tidak langsung, jika digunakan untuk melayani pada akhirnya. Begitu pula dengan segala hal yang kita lakukan bagi diri kita sendiri, kalau tujuannya adalah untuk membuat kita mampu melayani dengan baik, sudah termasuk bagian dari pelayanan itu sendiri. Adapula pelayanan kodrati dan adikodrati. Pelayanan kodrati atau natural atau alamiah artinya kita melayani dengan kodrat kita sendiri, dengan apa yang dapat kita lakukan. Misalnya memberi makan yang lapar, menafkahi yang miskin, mengunjungi mereka yang dipenjara dan sakit, mengubur yang meninggal, mengajar yang tidak tahu, menegur yang salah, dan segala hal yang lain adalah pelayanan kodrati. Di lain pihak, pelayanan adikodrati atau pelayanan supranatural hanya berwujud satu hal, yaitu doa. Saat kita mendoakan orang lain, kita memohon kepada Allah untuk memberikan rahmat kepada orang lain. Allah memang yang menentukan segala sesuatu, tapi dengan doa kita kita dapat menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam memberikan rahmat kepada orang lain. Sebab semua orang mampu berdoa kepada Allah, hendaklah semua orang tidak jemu-jemu berdoa sebagai bentuk pelayanan mereka yang paling sederhana tapi paling kuat bagi sesama kita. Namun, karena setiap orang juga memiliki talenta dari Allah untuk melayani, hendaklah doa dan pekerjaan digabungkan dan bekerja sama untuk melayani sesama dan melaksanakan kehendak Allah. Ora et Labora. Doa adalah kerja dan kerja adalah doa. Doa adalah pelayanan dan pelayanan adalah doa.

A reflection on grace. Grace is every good which God gives to us and it culminates in the ultimate grace that is God Himself as He gives Himself to us in the beatific vision in heaven. Therefore, there are many graces in our life, everything that God does to us is a grace. The first grace that God gives to us is the existence of our self. The second grace that God gives to us is the cleansing of our sins so we may be holy and be permittable to receive the final grace of union with God in the beatific vision. The third grace is every grace that gives us for the increase of our sanctification for greater merited rewards in heaven.

It is to be understood that every grace God gives a person is eventually directed for the ultimate union of that man with God. Now in order for the person to actually receive the fullness of these graces, that is union with God, he must cooperate with those graces. In other words, he must “respond” to the graces God gives us, be it his creation, redemption, or sanctification. The failure to respond to grace is sin. The Church teaches infallibly that cooperation with the grace of God is necessary for all of salvation. Yet here is a good question, must we cooperate with God to be created? At a glance, no. However, consider this, that our essence, the soul, communicates to God in all of eternity its 2 desires, to exist or not to exist, and to be united to God, or to be in eternal torment. God observes these desires and elects the soul to exist or not to exist, and to be saved or to be damned according to these desires AND His own wisdom. This is the maximum limit of conditional election.

On the other hand, we may say that God elects who exists and who does not exist irrespective of the essences. Rather He elects purely on His own Wisdom. This is unconditional election. Yet Scripture provides evidence of the contrary, that there is a union of conditional and unconditional election. That God both elects based on His Wisdom AND the desires of the people. The evidence is simple, prayer. If God elects completely based on His Nature, then prayer would be unnecessary and ineffective, as God’s acts are completely unconditional of His creatures. Yet if God elects only based on the desires of man, then all prayer should be effective. Yet none of these are true. God shall fulfill our desires if those desires are according to His Will, yet if we did not desire them, then God will not fulfill them either because those desires never exist in the first place.

This is why prayer is effective to obtain grace in our lives. Prayer is simply a means of expressing our desires to God and then having God decide according to the existence of those desires. If we do not pray, then we do not desire, then God does not decide on anything as there is nothing to decide upon, God can simply elect to give nothing to the person.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas