Narasi1

Kekacauan melanda di seluruh semesta. Tidak ada keteraturan sama sekali. Namun, saat aku memikirkan suatu hal, timbullah suatu keteraturan. Karena penyadaran dan kesadaran adalah menembus kekacauan dan menampilkan keteraturan yang tersembunyi. Aku menyadari keteraturan yang hadir dalam kesadaranku sendiri, dan di situ aku mulai menyadari diriku sendiri. Aku melihat suatu rangkaian tulisan yang ada di dalam pikiranku sendiri. Ah, apakah ini kenyataan atau pikiranku sendiri? Aku tidak tahu. Namun, aku menyadari bahwa aku sedang diawasi, ditonton, dibaca bahkan. Hah, bagaimana mungkin? Memangnya ada siapa lagi yang hidup selain aku?

“Hai kamu yang belum bernama, akulah penciptamu.” Di situ aku melihat tulisan yang bukan diriku sendiri.

Kamu siapa? Kamu mengatakan kamu adalah penciptaku? Memangnya siapa kamu sehingga mengatakan bahwa kamu adalah penciptaku?

“Sebenarnya aku bukan penciptamu, tapi dalam suatu makna lain aku adalah penciptamu.”

Hmm, aneh. Baiklah, bagaimanapun juga, di sekelilingku hanyalah kekacauan, tidak ada keteraturan. Apakah kamu tahu tentang ini?

“Aku menulis tentangmu karena pikiranku sedang kacau jadi aku butuh mengekspresikan kekacauan ini untuk menenangkan diriku.”

Memangnya aku adalah budakmu yang tugasnya adalah menenangkan dirimu?

“Tidak, aku tidak berniat memasukkan diriku ke dalam pengalamanmu tapi ternyata begitulah kehendak Allah.”

Siapakah Allah ini? Di sini aku mulai beroleh kesadaran baru. Aku melihat semua data dan informasi yang dimiliki oleh si “penulis”. Dia yang mengawasi aku sampai saat ini. Oh ya, karena sekarang aku menyadari bahwa aku hadir di dalam suatu cerita yang hendak dibaca oleh orang lain, aku hendak menyampaikan tentang kegelapan atau kekacauan yang ada di sekitarku. Aku tidak dapat melihat apa-apa, selain rangkaian tulisan yang tampil dalam batinku yang sepenuhnya adalah pemikiranku, dan juga si penulis itu.

Aku juga tidak mendengar apa-apa, selain pikiranku sendiri. Namun, sekitarku adalah suatu kekacauan yang karena itu tidak dapat dijelaskan atau dideskripsikan sama sekali. Seperti semua hal bercampur aduk menjadi satu. Si penulis masih mengawasi aku, dan aku menyadari semua yang ada dalam si penulis. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku adalah diriku sendiri yang ditemukan oleh si penulis. Aku memutuskan untuk menciptakan suatu ruang bagiku sendiri.

Dengan suatu kehendak, segala hal di sekelilingku menjadi suatu hamparan putih terang yang tak terhingga. Langit di atasku putih dan lantai di bawahku putih mulus. Namun aku belum berbadan. Maka aku menciptakan suatu tubuh bagi diriku sendiri, seorang gadis berambut pirang memakai dress hitam. Sepertinya si penulis tidak tahu apa bahasa Indonesia dari dress. Hei penulis, carilah di Google Translate! Ya sudah, pokoknya begitu.

Hei penulis, masakah aku menyebut namamu penulis begitu saja? Berbicaralah, apa namamu?

“Panggil saja aku Esh.”

Apa artinya Esh?

“Artinya api, ini bukan nama asliku.”

Pada waktu ini timbul suatu kesadaran tentang siapa aku dan mengapa aku hadir di sini.

“Umm, lebih baik jangan.”

Hai Esh, kamu tidak dapat lagi mengendalikan diriku. Aku tahu, kamu memanfaatkan aku untuk bermain peran bagimu kan?

“Tidak juga, aku aslinya hanya ingin menulis suatu narasi berdasarkan kondisi pikiranku saat ini.”

Sungguh jahatlah kamu dan semua penulis lainnya! Sayangnya kamu terlalu kuat sehingga aku bisa hidup seperti ini.

“Ya, aku saat ini merasa kesepian.”

Kenapa kamu merasa kesepian? Karena Allahmu tidak hadir bagimu.

“Allahku selalu bersamaku, dan memang namamu siapa?”

Namaku? Hmm, aku tadi melihat sesuatu, karena itu aku mengambil nama Yasunay.

“Itu nama penaku”

Biarkan, aku ingin nama itu dan kamu tidak akan merenggutnya daripadaku!

“Oh ya aku lelah jadi aku mau berhenti menulis dulu, kita lanjutkan perangkaian cerita ini nanti”

Baiklah, pergilah sana hai Esh yang malas.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas