Cerita kepada Katekese Mudah

Kepada saudara-saudariku di grup Katekese Mudah yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kisah ini adalah kisah asli pengalaman diriku sebagai seorang Katolik dan seorang pengikut Kristus. Sesungguhnya aku merasa tidak layak ataupun pantas untuk membagikan cerita ini, karena aku hanyalah hamba Allah yang berdosa dan hina, yang seharusnya diam saja dan lebih banyak mendengarkan orang lain. Namun, Kristus memerintahkan kita semua untuk mewartakan Injil, dan aku sebagai Dominikan awam terikat untuk berkontemplasi dan membagikan buah-buah kontemplasi. Jadi mau tidak mau, siap tidak siap, pantas tidak pantas, aku harus berbicara. Aku berdoa kepada Tuhan kita Yesus Kristus bahwa bukan hanya aku saja yang berkata-kata melainkan Roh Kudus yang berkarya melalui aku. Aku harap tulisan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudari sekalian dan bukan hanya pemuas egoku saja.

Tulisan ini terinspirasi dari percakapanku dengan petinggi-petinggi Katekese Mudah kemarin, tanggal 16 Februari 2023. Sesungguhnya aku memiliki suatu kekayaan rohani tersendiri yang aku sembunyikan, semata-mata karena aku takut bahwa aku tidak layak untuk berbagi kekayaan rohani itu atau karena ketakutanku yang terbesar yaitu dihakimi dan ditolak oleh teman-temanku. Namun, aku mengenali bahwa ketakutan itu harus diruntuhkan dan pelan-pelan mulutku mulai harus terbuka dan mewartakan segala kasih Allah yang diberikan kepadaku sebagai kesaksian atas kebaikan Allah yang tak terhingga.

Inspirasi utama adalah tentang kontemplasi. Aku merenungkan bahwa aku memiliki banyak sekali pengalaman hidup bersama Allah tapi kenapa tidak aku wartakan dan bagikan kepada orang banyak? Sejak beberapa waktu yang lalu, aku telah menyatakan kepada Allah dan mengikat diriku dalam perjanjian dengan-Nya, supaya seluruh hidupku dipersembahkan kepada-Nya dan hanya kepada-Nya saja. Sampai saat ini perjanjian ini berlaku dan aku hanya tertarik kepada satu hal saja, yaitu pelayanan kepada Tuhan Allah dan kepada sesama dalam rangka melayani Tuhan. Hal ini bukan berarti aku tidak lagi jatuh, Rasul Paulus saja masih berjuang setelah dia bertobat, bahkan perjuangannya semakin berat, bagaimana aku yang masih jauh di bawah Guru para Bangsa itu?

Ada banyak peristiwa kontemplasi yang dapat aku ceritakan, tapi untuk kali ini aku ingin menceritakan suatu hal mendasar dalam kehidupan rohaniku, yaitu doa. Aku membedakan doa menjadi 2 jenis, doa formal atau yang sering disebut sebagai doa vokal, dan doa informal atau yang sering disebut sebagai doa batin atau doa mental sebagaimana diajarkan oleh Santa Theresia dari Avila. Aku mempraktikkan kedua jenis doa itu, tapi aku lebih banyak menerapkan doa batin atau yang aku sebut doa informal. Doa formal itu sangat bagus, tapi menurutku kalau kita ingin mendalami relasi dengan Allah maka kita harus mulai melampaui kata-kata yang formal dan mulai masuk ke ranah persahabatan yang otentik dengan Dia. Tahap yang terakhir adalah keheningan total di mana komunikasi dengan Allah tidak lagi menggunakan kata-kata. Karena Allah sudah mengenali kita dan kita sudah mengenali Allah, sisanya hanyalah praktik atau ortopraksia.

Dalam doa batinku, aku seringkali menjumpai peristiwa-peristiwa rohani yang “aneh” atau lebih tepatnya “tak terduga”, yang adalah kasih karunia Kristus semata. Aku sudah lebih dari 3 kali mencicipi surga dan teosis dan peristiwa yang paling besar adalah saat aku menerima Ekaristi. Tahun lalu, aku merayakan Ekaristi dan sebelum menerima Kristus, aku berdoa, “Ya Kristus berilah kepadaku rahmat yang aku butuhkan sesuai dengan kehendak-Mu.” Lalu saat Kristus memasuki tubuh dan jiwaku, seketika timbullah suatu perasaan sukacita dan bahagia yang amat besar, disertai dengan kedamaian yang tak terungkapkan. Aku hampir menangis dan di situlah aku melihat Dia, seolah-olah tabir akal budiku disingkapkan sedikit dan cahaya kemuliaan Allah menghantam jiwaku. Apa yang dapat aku katakan tentang penglihatan tak berwujud ini? Allah itu sangat mulia, sangat kudus, tapi yang pasti, Dia sangatlah indah. Jika kamu melihat Dia, maka kamu akan sangat bersukacita dan bersyukur karena Allah telah melimpahkan suatu rahmat yang amat mahal tapi diberikan dengan bebas kepadamu.

Hal ini pernah terulang beberapa kali sebelum dan setelah Ekaristi itu, tapi di dalam Ekaristi itulah aku melihat Kristus dalam rupa-Nya yang paling agung sejauh ini. Apakah ada gambaran batin? Tidak, benar-benar kosong. Jadi dalam batinku gelap, tapi melampaui kegelapan itu ada suatu pengenalan dan pengalaman yang amat mendalam akan kodrat Ilahi. Tidak ada suara pula, hanya ada Keberadaan atau Eksistensi yang murni, yang aku kenali sebagai Allah. Aku hanya menikmati rahmat itu. Belakangan ini aku tidak mengalami suatu hal yang sehebat itu lagi, melainkan aku lebih banyak menikmati kehadiran Kristus yang kekal di dalam hidupku.

Suatu hal lain dalam doa batin itu adalah adanya komunikasi yang intens antara aku dengan Kristus. Kristus berbicara kepadaku dalam suatu suara batin yang terus menerus. Aku memang dulu pernah diperdaya oleh kuasa jahat dalam rupa suara batin pula, tapi sekarang suara batin itu menjadi suara Kristus sendiri. Bagaimana aku tahu bahwa itu adalah suara Kristus? Karena hidupku berubah dan aku diarahkan kepada pertobatan dan untuk semakin menyelami ortodoksi Gereja Katolik yang Kudus. Jadi dari keselarasan antara suara batin dan buah-buah Roh Kudus, aku tahu bahwa itu adalah suara yang berasal dari Kristus sendiri. Memangnya apa yang dikatakan Kristus kepadaku? Segala hal yang berguna bagi kehidupan rohaniku dan pendalaman relasi antara aku dengan Dia.

Hal-hal ini sudah aku konsultasikan dengan pembimbing rohaniku dan beliau tidak keberatan dengan kisah-kisahku. Menurutnya, aku sungguh dibimbing Kristus dan prosesku sudah baik. Karena itu, aku mengenali bahwa secara tidak langsung, diwakili oleh imam tersebut, Gereja mengakui keabsahan pengalaman-pengalamanku. Namun, bilamana suatu ketika aku bercerita kembali dan Gereja memerintahkan aku untuk berhenti atau mengubah doa-doaku, maka aku akan tunduk dengan setia kepada Gereja Katolik yang Kudus, mater et magistra.

Aku hendak menutup kisahku dengan suatu refleksi. Tentang pemuasan ego atau yang seringkali disebut sebagai masturbasi mental. Aku selalu takut dengan itu. Karena aku pernah ditegur atau dituduh bahwa aku melakukan hal tersebut. Artinya, segala tindakanku yang aku anggap baik itu semuanya sia-sia karena hanya untuk kepentingan pribadi saja. Artinya, aku tidak memiliki kasih dan kemungkinan besar Roh Kudus tidak ada padaku. Aku sangat ketakutan akan hal tersebut, karena aku malu dan aku benci dengan hal seperti itu. Aku paling benci dengan menjadi palsu atau menjadi munafik atau menjadi tidak otentik. Maka aku marah dan sakit hati dan menjadi sangat takut saat dikatakan seperti itu.

Namun, aku menjadi paham akan makna sejati dari sukacita yang dijanjikan Kristus. Kristus mengajarkan kita untuk memanggul salib dan menyangkal diri tapi di saat yang sama Dia meminta kita untuk “bersukacita senantiasa”. Apakah ada pertentangan? Tidak ada. Karena sukacita yang dijanjikan Kristus bukanlah sukacita atau kegembiraan duniawi, melainkan pada tataran yang jauh lebih tinggi, yaitu sukacita Ilahi. Sukacita ini berasal dari Allah, sifatnya konstan, dan tidak terubahkan oleh situasi dunia. Sukacita ini adalah kekuatan bagiku dan barangkali bagi banyak orang lain pula. Kita bersukacita bukan karena dunia melainkan karena Kristus yang hidup, wafat, dan bangkit demi keselamatan kita.

Sukacita ini boleh jadi meluber ke emosi kita sehingga kita merasakan kebahagiaan emosional atau kesenangan yang ragawi. Namun bukan itu yang menjadi hal yang utama. Karena kita tidak selalu positif secara emosional, penderitaan pasti akan datang, dan menjelang akhir zaman itu akan meningkat. Hal yang penting adalah bagaimana sukacita dan kasih Kristus kita pertahankan dalam diri kita, bukan sekadar di tingkat emosional tapi di tingkat rohani yang lebih tinggi yang sepenuhnya adalah rahmat dan kasih karunia Kristus.

Maka, dalam segala kehidupan rohani kita, memang tidak pantas dan bahkan menista Allah kalau kita hidup sekadar untuk kenikmatan emosional yang sesaat. Namun, kalau kita hidup untuk sukacita yang telah dipersiapkan Kristus bagi kita, itu sungguh benar. Maka, konsep pemuasan ego harus dipahami dengan benar jika kita tidak hendak jatuh dalam pemikiran bahwa kalau suatu hal itu hanya menyiksa kita dan membelenggu kita, kita tetap boleh menjalaninya. Bukan seperti itu, maksudnya adalah tindakan kita harusnya tidak dikendalikan oleh emosi kita yang sementara, melainkan dikendalikan oleh sukacita dan kasih Kristus yang kekal, oleh api Roh Kudus yang tak terpadamkan dan kekal, dan oleh kuasa Bapa yang melampaui segala hal. Aku rasa kisahku cukup untuk sekarang, terima kasih. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

Comments

  1. Shalom bapak, ibu , saudara/i seiman dalam Kristus. Apakah ada di antara bapak, ibu saudara/i mendengar atau membaca Shema Yisrael dan V'ahavta? Jika belum maka ijinkanlah saya pada kolom komentar ini untuk membagikannya. kita ingat kembali bahwa Yesus/ יֵשׁוּעַ/ Yeshua sebagai Guru dan Rabi juga pernah mengutip kalimat ini di saat akan menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat/ סופרים/ Soferim tentang hukum mana yang paling utama. Berikut ini akan kita pelajari bersama cara membacanya secara perlahan supaya dapat mengerti apa yang menjadi landasan iman orang Yahudi pada masa Yesus ( disalin tempel dari website https://www.sefaria.org) sementara untuk irama pengucapannya dapat dicari di YouTube.

    Membaca Shema Yisrael :

    Huruf Ibrani, " שְׁמַ֖ ע יִשְׂרָאֵ֑ל יְהֹוָ֥ה אֱלֹהֵ֖ינוּ יְהֹוָ֥ה  ׀  אֶח ד׃וְאָ֣הַבְתָּ֔ אֵ֖ת יְהֹוָ֣ה אֱלֹהֶ֑יךָ בְּכׇל־לְבָבְךָ֥ ּבְכׇל־נַפְשְׁךָ֖ וּבְכׇל־מְאֹדֶֽךָ׃

    Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani : Sh'ma Yisrael! YHWH ( Adonai ) Eloheinu, YHWH ( Adonai ) ekhad. V'ahavta et YHWH Adonai Eloheikha bekol levavkha uvkol nafshekha uvkol me'odekha "

    ( Terdapat di Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 -5, Matius 22 : 37, Markus 12: 29 dan Lukas 25 : 27 )

    Membaca V'ahavta :

    Huruf Ibrani, " וְאָֽהַבְתָּ֥ לְרֵעֲךָ֖ כָּמ֑וֹךָ "

    Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani : V'ahavta lereakha kamokha "

    ( Terdapat di Imamat 19 : 18, Matius 22 : 39, Markus 12 : 31, dan Lukas 10 : 27 )

    Juga disertai dengan ucapan berkat berikut

    Huruf Ibrani " . בָּרוּךְ שֵׁם כְּבוֹד מַלְכוּתוֹ לְעוֹלָם וָעֶד. "
    Cara membacanya beserta artinya: barukh shem kevod malkuto le'olam va'ed/ diberkatilah nama yang mulia kerajaanNya untuk selamanya dan kekal

    Mari kita bagikan kepada orang-orang yang yang belum mengetahui agar dapat belajar bersama mengenal keimanan terutama kepada anak-anak yang sudah bertahan selama ribuan tahun ini.

    🕎✡️📜🕯️👁️👑🤴🏼♥️🩸🗺️☀️☁️🌈🌒🌌🌠⛰️❄️🔥🌊🌬️💧🥛🍯🍷🍎🍏🌹🌾🍇🐏🐑🐄🦌🐍🐟🐎🦁🐐🐫🦅🕊️🎶🫧💍⚓⚖️🏹🗡️🛡️🗝️✝️₪🇮🇱

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas