Eksamen 23 Maret 2023
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Ya Allahku, aku ingin mendalami eksamen ini. Aku ingin semakin mendekat kepada-Mu melalui eksamen ini. Jadi tolonglah aku ya Allah! Hari ini aku sudah bangun pagi hendak ke gereja dan segera berangkat ke kampus. Namun, karena suatu hal yang tidak aku ketahui, aku malah tidak jadi ke gereja ataupun kuliah dan bermalas-malasan sepanjang hari. Aku hanya mengingat bahwa belakangan aku berhasil menulis sedikit filsafat setelah berfantasi lagi tentang akhir zaman dan akhirnya pergi ke KEP. KEP berjalan dengan lancar seperti biasa. Hanya saja, ada perkara yang aku ingat hari ini. Inilah yang ingin kudalami lebih lanjut.
Perkara pertama, ada entri
di kanon jiwa yang akan aku bagikan bersama di eksamen ini. Perkara kedua, aku
untuk pertama kalinya ingin bebas dari penderitaanku yang saat ini, kenapa?
Supaya aku dapat bergerak menuju penderitaan yang berikutnya. Lalu aku akan
mengalahkan penderitaan yang berikutnya itu dan terus bergerak menuju
kesempurnaan kekudusan dan pemurnian. Tapi Tuhan, kenapa aku terus menerus
hidup melarat seperti ini? Dalam ketidakdisiplinan dan inkonsistensi dan
kejatuhan-kejatuhan yang beruntun.
“Ada misteri di dalam
hidupmu, misteri dari penyelenggaraan-Ku. Di satu sisi, segala hal akan terjadi
pada waktu yang tepat. Namun, kamu harus bekerja sama dengan waktu yang tepat
itu.”
Jadi aku harus bangkit
dan berjuang dengan sepenuh tenagaku dan diriku untuk mencapai Engkau, ya
Kristus. Rasanya ingin hening saja setelah ini. Ah sebelum aku lupa…
Aku lelah Tuhan! Aku
lelah harus dikorbankan terus menerus, sementara keluargaku tidak menghargai
aku sama sekali.
“Dalam cara apa mereka
tidak menghargai kamu?”
Mereka tidak menghadap
Engkau.
“Jadi kamu tidak
peduli kalau kamu ditelantarkan, asalkan mereka menghadap Aku?”
Ya benar. Lebih baik
aku disalibkan bersama Engkau tapi mereka taat menyembah kepada-Mu daripada aku
diberikan ini itu tapi hati mereka berpaling daripada-Mu.
“Hatimu sungguh adalah
hati-Ku, Ignas. Bertahanlah dalam pengorbanan dan penderitaanmu. Kelak kamu
akan dibebaskan dan naik tingkat dalam pemurnian. Makanlah Ignas, makanlah
sebagai bentuk puasamu kepada-Ku. Ingat Ignas, jangan hidup untuk pemenuhan
rohanimu sendiri.”
Tuhan, aku tidak
pernah dipenuhi secara nyata, hanya ada obat penawar rasa sakit, bukan
kesembuhan. Aku terus menerus mencari Engkau dengan setia, tapi Engkau selalu
menjawab “Bersabarlah”. Ya Allah, sampai kapan aku harus menantikan Engkau?
“Janganlah kamu
berpikir bahwa ada ini atau itu yang kurang padamu. Sesungguhnya Aku bersabda
kepadamu, kamu itu cukup, lebih dari cukup. Namun, karena itulah Aku memberikan
segala penderitaan ini kepadamu, untuk menguduskan dan memberikan kepadamu
kemuliaan yang lebih besar.”
Ecce Ancilla Domini,
fiat mihi secundum Verbum tuum.
“Maka pergilah dan makanlah
sebagai puasa batinmu bagi-Ku.”
Kengerian menutupi
pikiranku. Rasa gelisah dan cemas turun atas diriku. Ke mana aku harus
berlindung? Allah tampak ikut menghakimi aku bersama mereka. Aku hanya perlu
menunaikan kewajiban akal budiku. Tapi mana yang benar? Semuanya terlihat
kabur. Sekarang aku dikoyakkan batinnya untuk sungguh tidak memikirkan diriku
sendiri. Tapi aku tahu, Allah akan menegur aku dan bersabda,
“Kasihilah dirimu
sendiri, apakah kamu tidak mau berbahagia?”
Sementara aku berpikir
aku ingin hidup demi kemuliaan Allah saja. Lalu Allah bersabda,
“Apakah tidak bisa
keduanya? Kemuliaan-Ku dan kebahagiaanmu kamu kejar dengan setara. Kemuliaan-Ku
adalah kebahagiaanmu dan kebahagiaanmu adalah kemuliaan-Ku.”
Kemuliaan kepada Bapa,
dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan
sepanjang segala abad, amin.
Ya Tuhanku dan
Allahku! Aku ingin menyatakan diriku di hadapan-Mu. Aku memang berkeinginan
untuk bertindak sepenuhnya menurut akal budi, tapi nyatanya aku jatuh melulu.
Aku hanya ingin bertanya kepada-Mu ya Allah, apakah ada prosedur yang dapat
menjamin keberhasilanku, ataukah aku harus sepenuhnya bergantung kepada-Mu?
Kali ini aku tidak tahu jawabannya ya Allah. Aku tahu bahwa jika aku menerima
kesembuhan dari-Mu saat ini, kelak aku akan masuk ke pemurnian-pemurnian yang
lebih tinggi lagi. Jadi keinginanku untuk menderita demi Engkau tidak akan
lalai. Malah aku harus terus berkembang. Masalahnya ya Allah, aku tidak tahu
cara berkembang saat ini. Aku sudah berusaha, tapi rasanya tidak cukup.
Sekarang aku menantikan pertolongan yang datang dari-Mu ya Allah, bukan
penghiburan emosional, tapi pertolongan perubahan kehendak yang aku cari dan
nantikan dari-Mu ya Allah. Sekarang, segala perkara hidupku aku serahkan ke
dalam tangan-Mu yang Mahakuasa dan hati-Mu yang Mahakudus dan Maharahim.
Tuhan Yesus, aku
kembali hadir di persimpangan jalan. Kali ini aku sungguh tidak tahu apa yang
lebih baik. Apakah aku hendak menuntaskan kuliahku dulu sampai selesai
sepenuhnya baru masuk seminari, atau pada waktu yang dekat aku mengundurkan
diri dari kuliah dan aku segera masuk seminari? Keduanya memiliki kebaikannya
masing-masing. Pada pilihan pertama, kuliah pastilah memberikan wawasan
tersendiri. Ada suatu kekayaan rohani yang dapat ditimba dari kuliah. Namun,
pada pilihan kedua, aku segera diserap ke dalam imamat dan aku dipertahankan
lebih kuat. Pada pilihan pertama, sebenarnya panggilan dan kehendak menuju
imamat itu akan diendapkan lebih baik, sehingga saat aku masuk seminari aku
sebenarnya lebih kuat untuk menunaikan panggilan Allah. Namun, aku tidak yakin.
Aku takut menghadapi penderitaan yang bertubi-tubi. Aku takut aku akan
terbayang-bayang oleh imamat dan penderitaan di imamat yang lebih ingin aku tanggung.
Aku tahu pasti Engkau
akan menyertai aku dalam setiap langkah hidupku. Namun, sekarang saja aku sudah
merasa berat. Itulah yang menjadi dasar ketakutanku. Bahwa aku akan jatuh dan
Engkau akan mengizinkan aku jatuh. Semakin lama aku memandang, pikiranku
semakin mengenali bahwa aku menginginkan masuk seminari dengan segera karena
aku ingin melarikan diri dari dunia. Namun, pada saat yang sama Engkau ingin
aku hidup di dalam dunia, tapi tidak oleh dunia. Sementara di sini aku sedang
berusaha melarikan diri dari dunia.
“Kamu ingat tulisan
tentang para rahib di padang gurun yang tidak meninggalkan dunia tapi membawa
dunia dalam doa mereka. Jadi janganlah kamu berlari dari dunia, tapi hadapilah
musuhmu dengan gagah perkasa, dan Aku pasti menyertaimu. Kamu akan jatuh?
Pasti, tapi apakah artinya Aku meninggalkan kamu? Tentu tidak. Aku selalu
menyertai kamu sekalipun dalam kegelapan. Ya kita sudah membuat perjanjian
bahwa di kala tertentu kamu akan jatuh begitu dalam hingga melihat Aku saja
tidak dapat. Dan itu tidak apa-apa, setelah itu Aku akan menarik kamu lagi dari
dalam kegelapan. Jadi jangan takut, tenanglah dan ketahuilah bahwa Aku adalah
Allah.”
Comments
Post a Comment