Pengalaman Rohani 9 Maret 2023
Aku kebelet menulis. Inilah yang terjadi pada saat aku sedang kuliah siang ke sore. Aku membayangkan apa yang terjadi bilamana suatu saat aku mati, masuk ke dalam Manunggaling Kawula Gusti atau Persatuan dengan Allah, dan jiwaku dikembalikan ke tubuhku segera tanpa kehilangan persatuan itu. Lalu aku membayangkan bagaimana setelah itu aku hidup dalam sukacita yang sempurna sampai ke akhir zaman dan juga aku hidup melaksanakan kehendak Allah setiap saat. Sesungguhnya itu adalah kerinduanku yang paling dalam, bukan perkara merasakan kebahagiaan dan sukacita tanpa melakukan apa-apa, tapi untuk hidup selaras dengan kehendak Allah secara sempurna. Setiap saat aku berdosa atau lalai memenuhi kehendak Allah, aku menderita dan menyesal dalam batinku.
Lalu, seolah-olah
Allah memberikan aku suatu intipan ke dalam kehidupan semacam itu. Aku kembali
memandang Dia dan seketika aku merasa jiwaku dibasuh air dan darah Kristus yang
keluar dari jantung dan lambung-Nya yang mulia dan kudus. Sehingga seluruh jiwaku
basah dan disegarkan. Tidak seperti biasanya di mana aku dibakar oleh api cinta
Allah yang membakar segala dosaku. Namun, aku merenungkan kembali, apa makna
pandangan ini? Apakah fungsinya? Apakah sekadar untuk menghibur aku di tengah
kesesakanku yang berat belakangan ini, ataukah memang ada suatu dampak rohani
yang baru akan aku ketahui nantinya? Aku tetap sangat bersyukur kepada Allah atas
anugrah ini. Namun, aku takut, bahwa aku akan menyia-nyiakannya.
Karena berkali-kali
aku menerima anugrah Allah yang semacam ini, tapi rasanya hidupku tidak
berubah. Rasanya, hidupku tetap biasa-biasa saja. Aku awalnya ingin menulis
tentang suatu pemikiran bagaimana jika pengalaman itu adalah kuasa Allah yang masuk
dan penerimaan pertama kuasa itu menimbulkan suatu pengalaman damai dan
sukacita, tapi efek sebenarnya tidak akan dilihat sampai berikutnya. Namun,
apakah makna tulisan semacam itu? Aku pikir, akhirnya kontemplasi semacam ini,
yang semata-mata adalah kasih karunia Kristus, paling berguna untuk dibagi-bagikan
untuk meneguhkan saudara-saudariku, menginspirasikan sukacita, dan bisa jadi
menjadi benih transformasi Ilahi.
Namun, ya Allahku, aku
mohon, supaya anugrah yang Engkau berikan ini, air dan darah yang keluar dari
lambung dan jantung-Mu yang mulia dan kudus, sungguh mengubah hidupku dan tidak
hanya menghiburku pada saat ini. Izinkanlah aku untuk merayakan Ekaristi dan
menerima Engkau setiap hari. Izinkanlah aku untuk berpuasa dan bermati raga
setiap hari. Izinkanlah aku untuk berdoa malam dan khususnya berlatih hesikia
setiap hari. Sesungguhnya aku ingin melupakan diriku sepenuhnya dan berkata, “Tuhan,
aku melakukan ini hanya untuk-Mu dan bukan untukku.” Namun aku berdusta jika
aku berkata seperti itu, melainkan, “Tuhan, aku melakukan ini untuk-Mu dan
karena aku rindu bersatu dengan-Mu.” Orang berkata itu bukan egois, itu
sewajarnya dan seharusnya, tapi aku berpikir bahwa itu egois. Aku ingin sekali
seperti Allah, dalam artian aku tidak lagi memikirkan diriku sendiri tapi hanya
memikirkan Allah dan orang lain. Sungguh itulah kerinduanku yang terdalam, Sentire
Cum Dei, Sepikir dan Serasa dengan Allah. Atau Sentire Cum Christi,
Sepikir dan Serasa dengan Kristus.
Comments
Post a Comment