Langkah Berikutnya

 Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Pada suatu waktu tertentu, aku mengenali bahwa sekarang aku harus selalu berwaspada dan bersiap siaga melawan segala godaan dosa. Artinya, aku harus selalu menggunakan akal budiku ketimbang perasaanku. Perasaan dan emosi tidak disentuh kemuliaan Allah sehingga masih tidak teratur di masa ini. Maka, barangsiapa mendasarkan hidup mereka pada perasaan dan emosi, maka dia pun akan jatuh dalam ketidakteraturan.

Dulu, aku masih mencari Allah berdasarkan emosi keinginanku terhadap Allah. Konsekuensinya apa? Jika aku tidak merasa ingin Allah, aku akan jatuh dalam dosa. Maka aku pun mengamati bagaimana Allah memurnikan aku dari segala kelekatan emosional yang tidak teratur. Sampai akhirnya aku dituntun untuk melihat sendiri akibat dari kelekatanku terhadap konsolasi-konsolasi Ilahi. Dalam proses, penghiburan hilang satu per satu, hingga aku jatuh dalam keputusasaan karena aku tidak bergantung pada Kebenaran Ilahi yang Kekal. Namun, Allah menuntun aku untuk kembali kepada-Nya dan menyadari secara penuh bahwa keselamatan hanya akan terjadi jika aku sepenuhnya mengikuti Dia yang adalah Sabda dan Kebenaran yang Kekal, Dia yang meraja di akal budi. Maka aku harus ditempa untuk melihat melalui akal budi dan bukan melalui perasaan.

Bukannya perasaan itu harus diabaikan sama sekali. Perasaan itu sebenarnya netral, bilamana kita bergantung pada perasaan untuk membentuk pengetahuan kita, maka perasaan telah menjadi batu sandungan bagi kita. Sebaliknya, jika pengetahuan digunakan untuk membentuk perasaan, maka perasaan akan menjadi semacam mahkota kemuliaan yang datang dari pengetahuan. Adapula perasaan bukan menjadi tuan, tapi menjadi hamba dari pengetahuan, artinya perasaan mendukung pengetahuan dan bukan sebaliknya. Dalam suatu istilah lain, perasaan adalah data dari pengetahuan, tapi bukan pengetahuan itu sendiri.

Maka, aku harusnya hidup menurut apa yang aku ketahui dan aku imani dengan pasti tentang Allah. Bukan menurut apa yang aku rasakan tentang Allah. Seharusnya bagi kita semua untuk mengejar Allah dan kekudusan-Nya tanpa dipengaruhi tapi tetap memperhatikan segala dinamika batin kita. Sekarang adalah waktunya bagi kelekatan emosional untuk dilepaskan. Dengan kelekatan itu lepas, maka pertobatan tidak lagi diiringi oleh perasaan-perasaan yang megah, tapi hadir dalam kesederhanaan hidup yang didasari oleh kesederhanaan Ilahi.

Sebagai catatan akhir. Pada suatu tulisanku yang lalu aku mengingat, bahwa aku menulis tentang doa yang hening. Hal ini dilakukan dalam tataran doa praktis. Apa maksudnya? Doa yang ditujukan untuk suatu hal. Doa yang ditujukan untuk doa yang tertinggi alias Persatuan Manusia dengan Allah. Jika kita sudah mengenali Allah dengan baik, maka kita berhenti memohon segala macam dan kita berhenti berbicara secara vokal kepada Allah tapi hanya dengan lantunan jiwa kita. Apakah ini sepenuhnya benar? Ada kebenarannya tapi tidak mutlak. Karena akan ada waktu di mana doa kita semata-mata untuk mengekspresikan diri kepada Allah, dan Allah mengekspresikan Diri kepada kita. Artinya kita telah mencapai tingkat tertinggi doa, di mana doa bukan lagi untuk memperoleh ini dan itu, tapi semata-mata karena doa itu sumber sukacita kita. Jadi kita berbicara kepada Allah karena itulah yang menyenangkan hati kita. Itulah doa yang sejati. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas