Kasih, Kekudusan, dan Perasaan

Dalam nama Allah Tritunggal yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Renungan ini berawal dari suatu inspirasi tentang bagaimana kasih itu sebenarnya bekerja. Singkat kata, aku memahami bahwa kasih adalah tindakan kehendak yang didasarkan pada akal budi. Akal budi mengenali apa yang harus dilakukan menurut Hukum Kasih atau apa yang sesuai dengan Allah, dan kehendak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh akal budi. Itu wujud sederhananya. Artinya emosi atau perasaan tidak bermain peran dalam pelaksanaan kasih itu sendiri.

Masalahnya, kita sering kali masih terbawa oleh perasaan dalam pelaksanaan kasih. Kita berpikir seperti ini, “Apa yang aku rasa adalah kasih.” Bukannya, “Apa yang aku pikir adalah kasih.” Ini masih baik sebenarnya, akan lebih buruk kalau kita memperhitungkan kasih sebagai tindakan baik yang membuat diri kita merasa baik. Jadi fokusnya pada perasaan psikologis yang duniawi. Kasih seharusnya berasal dari akal budi dan kehendak yang murni, yang mengenali apa itu Kebaikan Sejati yang dikehendaki Allah bagi sesama kita. Namun, ada catatan kritis tentang peran perasaan dan emosi di dalam kasih.

Kebaikan terakhir bagi manusia adalah Manunggaling Kawula Gusti alias Persatuan Manusia dengan Allah alias dalam Tradisi Latin Gereja Katolik, penglihatan beatifis. Kebaikan ini secara analogis adalah suatu perasaan, pengalaman, dan emosi. Namun kita tidak boleh menyamakan kebaikan ini dengan perasaan duniawi, melainkan melampaui segala hal yang kita kenal di dunia ini. Jadi ada kemiripan tapi bukan kesamaan. Jadi dalam tataran rohani, kita memang mengasihi untuk mendekatkan diri kita dengan Allah yang adalah Kebaikan Sejati dan artinya untuk merasakan Allah, atau tepatnya mengetahui. Namun dalam tataran ragawi, justru kebalikan yang terjadi. Kita harus menyangkal segala emosi dan perasaan kita.

Kasih yang sejati di bumi dapat terlihat dalam seorang pribadi yang memberikan kepada Allah dan sesamanya, padahal tindakan itu sepenuhnya menyengsarakan dan menyiksa dia dalam tataran dunia. Entah raganya yang tersiksa atau jiwanya yang tersiksa karena dia mengasihi. Karena itu Kristus bersabda kurang lebih, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seorang sahabat yang memberikan nyawanya kepada para sahabatnya.” Apa makna memberikan nyawa? Dalam hal ini artinya memberikan seluruh dirinya sendiri, sampai dia kehilangan dirinya sendiri dan kehilangan segala kebaikan yang dia miliki. Hasilnya adalah penderitaan yang menyentuh inti diri manusia. Sebenarnya pesan ini digaungkan Kristus sepanjang kisah Injil.

Kasih seperti itu aku anggap kasih yang sejati karena saat itu kita melihat bahwa seseorang sudah mampu bertindak sepenuhnya menurut Kebenaran Ilahi yang Kekal dan bukan hanya menurut kebaikan-kebaikan yang semu. Aku belakangan ini mengenal lebih dalam konsep Malam Gelap Indra dan Malam Gelap Jiwa. Orang yang dapat tetap mengasihi dengan tulus di dalam Malam Gelap Jiwa, yaitu kondisi di mana tidak ada lagi penghiburan apapun baik secara jasmani atau secara rohani, dapat dipastikan adalah orang yang kudus, karena dia memiliki kesempurnaan kasih. Pertanyaannya, apakah setiap orang mampu melaksanakan ini? Ya, karena setiap orang memiliki kehendak bebas, tapi tidak setiap orang memilih untuk melaksanakan kasih yang gila ini.

Sekarang kita berlanjut ke dalam kekudusan. Aku seringkali mendengar narasi bahwa kekudusan itu lebih dari sekadar baik. Hal ini benar, dengan catatan bahwa “baik” artinya “baik” menurut dunia atau dalam tataran manusiawi, bukan Ilahi. Kita seringkali mendengar bahwa kita diminta oleh Allah untuk menjadi kudus, dan bukan sekadar baik. Hal ini benar, karena kita memang seharusnya menjadi kudus dan bukan sekadar baik menurut kadar kita sendiri. Namun, dalam mata Allah, kekudusan itu identik dengan kebaikan diri-Nya sendiri. Kekudusan adalah kesempurnaan Kebaikan yang ada di dalam Allah.

Jadi saat kita dituntut untuk menjadi kudus, maksudnya kita dituntut untuk memiliki kesempurnaan kebaikan, artinya kita harus baik menurut standar Allah, dan bukan baik menurut standar kita sendiri. Karena itu dikatakan bahwa orang ateis pun dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, tapi itu tidak menyelamatkan karena tidak sempurna dalam kebaikan Ilahi yang adalah kekudusan. Sementara hanya yang kudus yang dapat bersatu dengan Allah karena Allah ialah Kekudusan itu sendiri, atau Kesempurnaan Kebaikan. Karena itu Gereja dengan tegas mengajarkan bahwa melakukan perbuatan baik yang semu saja tidak cukup untuk menghantarkan kita kepada surga, melainkan perbuatan yang kudus, alias baik secara kekal yang dibutuhkan untuk menghantarkan kita kepada surga, dan itu pun tidak cukup kalau tidak ada rahmat Allah. Namun, perbuatan kudus pastilah tanggapan kita secara positif menerima dan bekerja sama dengan rahmat Allah, sehingga apa yang kita katakan sebagai perbuatan kudus bukanlah perbuatan kita sendiri tapi adalah kerja sama antara kita dan Allah.

Karena itulah dalam standar Allah, kebaikan yang tertinggi bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan jasmani sesama kita, tapi kita mengarahkan mereka untuk kembali kepada Allah, Sang Kebaikan itu sendiri, dalam kata lain memenuhi segala kebutuhan rohani sesama kita pula. Kesejahteraan jasmani atau kecukupan jasmani tidak lagi menjadi tujuan akhir tapi menjadi batu pijakan untuk mencapai kesejahteraan dan kecukupan sejati yaitu yang rohani. Di sinilah kekudusan menjadi lebih tinggi dari sekadar berbuat baik. Karena dalam kekudusan kita membawa diri kita sendiri dan orang lain kepada Kebaikan yang Sejati yaitu Allah, dan bukan berhenti pada tangga atau batu pijakan yaitu kebaikan-kebaikan di dunia. Inilah yang membedakan kita yang menerima Allah dan mereka yang menolak Allah.

Aku ingin mengakhiri dengan suatu refleksi yang barangkali sangat berat, yaitu dosa seksual. Kalau pemerkosaan atau kekerasan dan pelecehan seksual jelas sekali menyakiti orang lain. Namun, mari kita pertimbangkan dosa-dosa seksual yang “tanpa korban” alias victimless crime. Mengapa Gereja Katolik memasukkan semua dosa itu sebagai dosa berat? Mengapa Kristus sendiri mengajarkan bahwa berhawa nafsu saja terhadap lawan jenis kita sudah termasuk dosa? Karena pada saat kita melakukan dosa seksual, kita telah memalingkan hati kita dari Allah kepada penyembahan berhala. Berhalanya adalah kenikmatan seksual, yang sebenarnya kita tahu tidak sebaik atau bahkan sebanding dengan Kasih Allah atau Kebaikan Ilahi atau Kekudusan.

Namun, bagaimana dosa seksual dapat tergolong sebagai penyembahan berhala? Karena dapat dipastikan bahwa kita sekadar mengejar kenikmatan seksual yang timbul dari tindakan-tindakan seksual tersebut. Artinya kembali lagi ke konsep perasaan dan kasih, kita bertindak hanya menurut kebaikan semu dan bukan kebaikan tertinggi yaitu Allah. Jangan salah, setiap kali kita memilih kebaikan yang lebih rendah daripada Allah sendiri, apalagi saat kita sadar sepenuhnya terhadap pilihan kita, itu sudah melanggar Kasih Allah, alias dosa. Dosa seksual menjadi dosa mortal atau dosa berat karena kita sepenuhnya menyerahkan diri kita bukan kepada Allah, tapi kepada berhala kenikmatan seksual.

Dalam renungan KGK ku, aku memberikan analogi yang mengerikan, yaitu pemerkosaan terhadap Allah. Namun, di dalam dosa seksual analogi itu semakin nyata. Karena kita harus ingat bahwa relasi paling tinggi antara manusia dan Allah adalah relasi perkawinan, Allah adalah mempelai laki-laki dan kita manusia adalah mempelai perempuan. Pada saat kita melakukan dosa seksual, kita bukan hanya berselingkuh melawan Allah, tapi kita memperkosa Dia. Karena kita berusaha memperoleh Allah yang dilambangkan dalam kenikmatan seksual, tapi dengan paksa, dengan cara kita sendiri, tanpa seizin atau sekehendak Allah. Bukankah pemerkosaan seperti itu juga? Kita berusaha memperoleh seseorang, tapi dengan melukai dan menyakiti orang yang kita inginkan itu. Pada akhirnya, kalau kita pahami lebih dalam lagi, kita hanya menginginkan diri kita sendiri, dan bukan orang itu. Sebagai tambahan. Karena Kristus menderita semua akibat dari dosa kita, jadi setiap dosa kita, baik seksual atau yang lain, juga mendera dan membunuh Kristus, camkan baik-baik.

Maka, kekudusan itu melibatkan diri kita mengarahkan dan memberikan diri kita sepenuhnya kepada Allah yang adalah Kebaikan yang Sempurna dan Sejati. Jangan sampai kita berselingkuh dari Allah kepada kebaikan-kebaikan yang semu yang akan hancur. Melainkan, marilah kita berpegang teguh pada iman kita dan selalu menghadap Allah sampai kita semua dipersatukan kepada-Nya dalam kematian badan dan kebangkitan badan pada saat Kristus datang untuk kedua kalinya. Sekarang, hendaklah aku menutup renungan ini dengan suatu doa yang barangkali dapat digunakan orang lain.

Marilah berdoa,

Ya Allah Tritunggal yang Mahakudus dan Maharahim, bimbinglah kami selalu menuju kekudusan yang sempurna di dalam Engkau. Jangan biarkan kami tergoda oleh perasaan dan pengalaman duniawi yang adalah kebaikan semu, tapi arahkanlah kami selalu kepada Engkau yang adalah Kebaikan yang Sempurna dan Sejati. Semoga kami dapat selalu memilih Engkau dan hanya Engkau di dalam kehidupan kami. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas