Api Pemurnian dan Imajinasi Kristus
Dalam nama Allah Tritunggal yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Rasa sakit mendera batin di dalam kepalaku. Rasanya otakku sendiri yang dibakar oleh api penyucian. Api ini turun dan ikut membakar batin yang ada di dadaku sampai ke perut. Namun, api terpusat di kepala. Inilah api yang aku derita sejak dulu, tapi sebenarnya aku tidak pernah begitu memahami apa kodrat sebenarnya dari api ini. Aku hanya memahaminya sebagai pemurnianku di bumi. Api ini tidak bertentangan dengan sukacita Kristus yang menetap di dalam diriku. Namun memang, deraan ini sedikit banyak membuatku sulit bekerja, karena bukan sekadar sakit raga, tapi sungguh sakit rohani yang mempengaruhi segala kejiwaanku pula.
Sakit ini adalah
penderitaan tertinggi bagiku, karena tidak ada rasa manisnya sama sekali,
sepenuhnya pahit. Penderitaan yang rasanya kosong, seolah-olah, ah, aku lupa
mau menulis apa, ya intinya begitu. Barangkali jika aku jatuh ke neraka aku
akan menderita seperti itu dengan lebih ekstrim lagi. Makanya aku ke neraka
dulu di bumi, supaya tidak usah ke neraka di alam rohani. Berbeda dengan
penderitaan yang ada di hati, di mana aku masih bisa menangis, di sini begitu
kosong sehingga ratapan menjadi mustahil karena apa yang ingin ditangisi?
Rasanya segala hal telah terbakar dan hangus oleh api cinta Allah. Namun, aku
bukan protes, aku dengan senang hati dibakar oleh cinta kasih-Nya. Hanya saja
kita sebagai manusia harus mengekspresikan dirinya dan sekali-kali dihibur, ini
adalah praktiknya.
Renungan ini selain mengekspresikan
penderitaanku juga adalah awalan dari renunganku yang baru terhadap KGK atau
Katekismus Gereja Katolik. Bukan perkara pendahuluan kepada KGK, tapi lebih tepatnya
tentang teknis aku merenungkan KGK. KGK memang bukan Sabda Allah jadi jangan
didekati dengan gaya semacam Lectio Divina, tapi didekati murni secara
intelektual. Namun, aku masih merenungkan, apakah aku harus memakai suaraku
sendiri ataukah aku harus menggunakan suara Allah yang sejati. Sebenarnya
begini, tidak ada suara Allah yang sejati yang datang kepadaku, semuanya adalah
imajinasi tentang “Jika Allah bersabda kepadaku, apa yang akan Dia katakan
kepadaku dan seperti apa?” Buku Imitatione Christi kan juga ditulis
seperti itu, kalau aku salah, kritiklah aku sampai aku remuk redam.
Jadi aku sekarang
memahami bahwa aku tidak pernah menerima Suara Ilahi secara langsung, semua
diterima melalui imajinasiku dulu, lalu imajinasiku mengkomunikasikan pesan
Ilahi kepadaku, atau seringkali, tipu daya yang jahat tapi disamarkan dalam
rupa Ilahi. Itulah alasan aku sering jatuh, karena aku terlalu percaya pada
imajiinasiku. Sungguh memalukan dan gobloklah aku ini! Sehingga aku tidak
memahami kodrat Ilahi dan cara Dia berbicara kepadaku. Karena itu, barangkali
aku dapat memanfaatkan imajinasiku, sebagai “Imajinasi Kristus”, yang berbicara
kepadaku tapi sesungguhnya hanyalah imajinasiku. Karena aku tahu, kalau Allah sungguh
berbicara kepadaku, tubuhku pastinya sudah tidak sadar lagi. Namun, karena tidak
seperti itu, artinya aku belum pernah mendengarkan suara Allah secara murni,
masih imajinasi saja.
Karena itu, aku
memutuskan bahwa dalam menuliskan renunganku terhadap KGK aku akan menggunakan
gabungan antara suaraku sendiri dengan imajinasi Kristus. Aku akan membayangkan
apa yang kira-kira Kristus akan katakan tentang KGK ini. Karena saat aku menggunakan
imajinasi Kristus, memang rasanya akal budiku lebih terang. Ada suatu efek
psikis yang nyata dari penggunaan imajinasi Kristus. Aku rasa cukup saja
renungan ini pada saat ini. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment