Renungan KGK 31-35

Tahap 1

Aku mengakui bahwa sebagai seorang yang dengan tulus mencari kebenaran, aku dapat mengetahui bahwa Allah ada dengan akal budiku. Gereja mengajar dalam KGK bahwa Allah dapat dibuktikan dengan pengamatan terhadap alam semesta dan terhadap pribadi manusia. Aku tunduk pada ajaran itu. Hanya saja aku tidak pernah dapat memahami bagaimana alam semesta dan pribadi manusia dapat secara definitif membuktikan atau menunjukkan bahwa Allah ada. Namun, aku percaya dengan iman bahwa dengan penalaran tentang semesta dan manusia kita dapat menalar sampai keberadaan Allah yang pribadi.

Aku tertarik untuk menuliskan argumenku sendiri tentang Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah dapat dibuktikan dari penalaran akal budi murni. Namun, ada suatu perasaan yang berkata, “Ini bukan tentang kamu, tapi tentang Allah.”

Seketika aku merasa ragu terhadap diriku sendiri. Namun, aku mendengar panggilan Allah. Lagipula, ini semua dilaksanakan dalam kerangka doa malam, yaitu kencan dengan Allah.

“Tidakkah kamu tahu bahwa pemahaman yang kamu dapat itu juga berasal dari Aku?”

Namun, aku bukan magisterium, aku bukan uskup, aku bukan imam, aku hanya umat awam biasa.

“Dengan pemikiran seperti itu, kamu akan selamanya di bawah.”

Memang selayaknya dan sepantasnya.

“Artinya kamu tidak percaya kepada-Ku. Sebab kamu tidak percaya kepada dirimu sendiri yang Aku ciptakan. Kamu begitu meragukan dirimu sendiri dalam kemampuanmu untuk mengenal Aku dan ajaran-Ku. Sekarang, telitilah alam semesta dan pribadimu sendiri untuk mencapai pemahaman tentang Aku.”

Santo Thomas Aquinas menggunakan argumen tentang pergerakan dan sebab akibat atau kausalitas untuk membuktikan Engkau. Dia menyatakan bahwa suatu rantai sebab yang tidak terbatas panjangnya adalah mustahil. Argumen utamanya adalah jika ada suatu alur sebab akibat yang tidak terbatas, maka tidak akan pernah terjadi apa-apa. Aku hanya mampu menerima argumen itu dengan iman, aku tidak dapat menerimanya dengan akal budi.

“Kalau ada suatu argumen yang lebih meyakinkan dirimu tentang Aku, mengapa kamu merendahkan argumen itu? Sebegitu bencinya kah kamu terhadap wahyu pribadi sehingga kamu pikir kamu hanya dapat berkomunikasi dengan-Ku lewat Gereja? Apakah kamu bukan anggota tubuh-Ku?”

Tapi Tuhan, siapakah aku sehingga aku dapat mendengar suara-Mu?

“Kamu adalah anak dan kekasihku, Ignas.”

Argumenku adalah sampah ya Allah. Memang otakku tidak sampai untuk memahami ajaran-Mu.

“Ignas, jangan sampai kepada pemikiran seperti itu. Poin penting dari ajaran ini adalah bahwa kamu dapat mengenali Aku dengan akal budimu. Bukan tentang argumen apa yang paling baik untuk mengenali Aku. Mengapa kamu terus menerus menghancurkan dirimu sendiri dengan dalih untuk menghormati Aku?”

Karena itulah kenyataannya, bahwa pemikiranku tidaklah berguna sama sekali. Aku hanya berkuasa meneruskan saja, dan bukan memberikan sumbangsih pemikiran yang asli.

“Apakah aku menciptakan Ignas yang tidak berguna, atau aku menciptakan Ignas yang berguna bagi sesamanya? Ingatlah Ignas, setiap kali kamu menghina dirimu, kamu sedang menghina ciptaan Allah, maka kamu menghina Aku yang menciptakan kamu. Jangan dengarkan mereka yang berupaya menghancurkan harga dirimu, tapi dengarlah Aku yang menciptakan kamu.”

Lalu, apa yang harus aku lakukan ya Tuhan Yesus?

“Tulislah segala pemikiranmu yang terdalam tentang ajaran ini. Ajaran-Ku bahwa kamu dapat mengenali keberadaan-Ku dengan akal budi.”

Ya Allahku, aku masih merasakan kerendahan diri dan ketidaklayakan, tapi aku melawan semua itu karena aku mengasihi Engkau, ya Allah. Aku berterus terang, aku tidak memahami bagaimana kita dapat mengenali keberadaan Allah dari alam semesta dan pribadi manusia. Aku berterus terang, menurutku dan dalam pandanganku argumen yang paling baik untuk keberadaan Allah adalah argumen eksistensial, atau argumen kekekalan, karena argumen itu menyerang kodrat Ilahi yang paling dalam, tanpa merujuk pada alam ciptaan sama sekali. Kurang lebih argumen ini sebagai berikut.

Ada suatu unsur di dalam kenyataan yang kekal, kita namakan ini keberadaan. Keberadaan yang kekal bersifat wajib dan tidak dapat berubah. Konsekuensi berikutnya adalah keberadaan ini harus sederhana karena tidak ada potensi perubahan. Konsekuensi berikutnya adalah keberadaan ini harus tidak terbatas karena tidak terbagi. Keberadaan semacam ini kita sebut Allah, dan dengan itu kita telah membuktikan, tanpa keraguan yang mungkin, bahwa Allah itu sungguh ada dan nyata, malah lebih ada dan nyata dibandingkan kita ini. Karena Allah adalah Kepenuhan Keberadaan, dan kita bukan Kepenuhan Keberadaan.

“Sesungguhnya Ignas, ini memang argumen yang lebih baik dari argumen berdasarkan alam semesta atau pribadi manusia. Jika kamu meneliti alam semesta dan pribadi manusia, kamu hanya akan secara samar-samar melihat bahwa Aku ada, tapi dengan argumenmu bahwa ada suatu Keberadaan yang Kekal, kamu secara langsung melihat siapa dan apa Aku ini yang Ada. Jadi janganlah sekali-kali kamu merendahkan dirimu atau pemikiranmu, hanya karena kamu pikir tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Jalanmu mungkin berbeda dari Gereja, tapi tujuan akhirnya tetap tercapai, yaitu Aku, dan ternyata jalan itu jauh lebih baik bagimu dan barangkali akan ada orang-orang yang lebih diuntungkan oleh jalanmu daripada jalan yang tertulis di dalam KGK. Ingat Ignas, barangsiapa menghina ciptaan-Ku, menghina Aku.”

Poin terakhir, pada akhirnya argumen tentang Allah bukan yang terakhir, tapi hanyalah permulaan yang sangat awal mula untuk memasuki iman kepada misteri-misteri Ilahi yang terdalam. Argumen tentang Allah hanya berguna untuk menunjukkan bahwa iman dan akal budi tidak bertentangan melainkan sejalan. Adapula bahwa argumen tentang Allah tidak serta merta adalah kerja akal budi tapi juga sudah melibatkan suatu iman awal. Karena saat kita melihat kebenaran tentang Allah, yaitu Keberadaan Kekal, maka kita sudah memiliki pilihan di hadapan kita, apakah kita menerima atau menolak kekekalan Ilahi. Jika kita menerima, kita selangkah lebih dekat dengan keselamatan, jika kita menolak, kita selangkah lebih dekat dengan kebinasaan.

  

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas