Renungan KGK 26-30
Ignas – Tahap 1
Apakah iman itu? Iman
adalah jawaban manusia kepada Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia
dalam suatu terang yang berkelimpahan sembari manusia mencari makna hidupnya. Karena
manusia diciptakan oleh Allah demi persatuan dengan Allah sendiri, maka selayaknya
manusia diciptakan dengan suatu kerinduan yang amat mendalam akan Allah, yang
terukir pada hati manusia sendiri. Hal ini dapat kita terima dari wahyu kodrati
dan juga wahyu Ilahi, bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Manusia
tidak sekadar menikmati kebaikan duniawi dan ragawi, tapi dia predestinasikan
untuk menikmati kebaikan yang lebih tinggi, yang sifatnya surgawi dan rohani
alias Allah sendiri.
Karena kerinduan itulah
manusia menciptakan berbagai macam agama dan ritual dan tradisi untuk berusaha
mencapai Allah. Gejala ini begitu universal sehingga kita dapat mengatakan
manusia adalah makhluk religius. Namun, karena perkara sejarah manusia, ada
banyak ambiguitas dalam tradisi-tradisi religius manusia. Hanya dalam Gereja
Katolik terdapat kejelasan agama yang sempurna, karena hanya dalam Gereja
Katolik ada Kebenaran yang Sempurna yaitu Kristus sendiri. Selain itu, dapat
dikatakan bahwa semua keinginan manusia berakar pada keinginan religius,
bersatu dengan Allah Tritunggal.
Namun, manusia karena
kehendak bebas dapat menolak panggilan atau kerinduan Ilahi. Alasannya
bermacam-macam, tapi pada akhirnya dapat kita tarik menjadi beberapa alasan
saja. Pertama, manusia menyalahkan Allah untuk kejahatan yang sebenarnya
berasal dari manusia atau ciptaan jahat lainnya. Sehingga dia menjauhi Allah
karena dia tidak memahami siapa Allah yang sebenarnya. Kedua, manusia sendiri
yang menolak Allah karena dia tahu siapa Allah, tapi tidak mau mengikuti Dia
dan karena itu manusia memutuskan untuk jatuh dalam perpisahan yang kekal.
Sebenarnya hanya 2 alasan itu saja, tapi dari 2 alasan ini ada banyak variannya.
Sejauh mana manusia memahami identitas Allah, hanya Allah yang dapat menilai sepenuhnya.
Sekalipun manusia
sudah menolak Allah, atau tepatnya sebagian yang menolak, Allah tidak berhenti
memanggil manusia. Ada satu alasan mengapa Allah tetap memanggil mereka yang
Dia tahu akan menolak Dia. Karena memang Allah menghendaki mereka untuk
diselamatkan dan dipersatukan dengan Dia, tapi mereka memilih dengan bebas
untuk menolak Dia sehingga Allah yang menghormati kehendak bebas manusia
memilih pula untuk membiarkan mereka. Ingat, Allah tinggal dalam kekekalan,
sehingga kehendak bebas manusia bagi Allah terjadi pada kekekalan juga. Komunikasi
antara Allah dan jiwa manusia terjadi dalam kekekalan, Allah menawarkan
keberadaan yang sempurna bagi semua manusia pada satu saat yang sama, dan pada
satu saat itu juga manusia menjawab Allah. Hanya kita saja yang mengalami
jawaban itu secara temporal.
Saat Allah memanggil
manusia, mereka yang hendak menjawab Dia akan ikut mencari Allah. Namun,
pencarian ini, yang pada akhirnya adalah pencarian akan kebenaran, tidak hanya
melibatkan akal budi yang jernih tapi juga kehendak yang benar dan hati yang
tegak, artinya seluruh diri manusia harus sudah mengarah pada kebenaran untuk
mencari dan menggapai Allah. Pada suatu titik kritis dalam kehidupannya, manusia
harus membuat keputusan yang menentukan nasib kekalnya, Allah atau tidak. Tidak
apa? Ya tidak saja. Karena hanya Allah Keberadaan yang sejati, di luar Allah
hanya ada ketiadaan yang menyiksa. Namun, sebelum kehendak itu, manusia sudah
diperlihatkan “tirai Ilahi” yang secara tidak langsung menunjukkan siapa Allah.
Dari situ manusia dapat memilih, untuk menerima atau menolak Allah.
Ignas – Tahap 2
Aku diminta Kristus
untuk merenungkan perkara ini lebih dalam lagi, dan bukan hanya dari tataran
intelektual. Dalam pengalamanku, segala ini benar adanya. Hal yang ingin
kutegaskan adalah semua ini sebenarnya sangat sederhana. Kita tahu siapa Allah,
semua orang tahu siapa Allah, baik secara terang atau secara samar-samar. Jangan
salah, orang ateis atau antiteis atau satanik atau apapun itu pun tahu tentang
Allah dan dalam hati mereka tahu bahwa Allah ada. Jadi semua orang tahu bahwa
ada Allah dan mereka tahu tentang Allah. Sebab bagaimana mungkin manusia tidak tahu
tentang apa yang dia kehendaki? Perkaranya begini, setelah manusia tahu tentang
Allah, apakah dia memilih Allah atau tidak? Semuanya adalah pilihan yang
berasal dari pilihan yang paling mendasar dan pada saat yang sama paling
penting, “Allah atau aku?” Karena sebenarnya di dunia ini hanya ada 2 tuan,
dirimu atau Allah. Kamu menyenangkan dirimu sendiri atau kamu memuliakan Allah.
Jalan pertama malah membuat kamu menderita dan jalan kedua malah membuat kamu
bahagia.
Ignas – Tahap 3
Semua keinginan bersumber
pada keinginan akan Allah. Sesungguhnya, saat manusia berdosa, itu bukan
manusia yang sekadar menolak Allah karena suatu alasan yang arbitrer. Sebenarnya
dalam kedosaannya, manusia sedang mencari Allah, tapi dengan melawan Allah. Manusia
tidak atau mungkin sebenarnya sudah menyadari bahwa apa yang dia cari hanya ada
di dalam Allah, tapi karena kehendak bebasnya dia memutuskan untuk mencarinya
di luar Allah. Hasilnya adalah penderitaan. Di sini ada misteri kebebasan manusia.
Banyak yang memperdebatkannya. Namun, ajaran Gereja sebenarnya jelas, kebebasan
manusia memang memiliki unsur arbitrer atau acak. Dalam arti, manusia menjadi
sebab efisien dari tindakannya sendiri. Allah adalah sebab dari kodrat manusia,
tapi Allah hanya menciptakan manusia yang berpotensi berdosa, bukan manusia
yang pasti berdosa. Camkan baik-baik perbedaannya. Kalau manusia pasti berdosa,
artinya kan Allah itu juga cacat. Kenyataannya Allah adalah Kebaikan Sempurna,
maka apa yang keluar dari diri-Nya pastilah baik apa adanya.
Ignas – Tahap 4
Pada saat aku berdosa
seksual, aku sesungguhnya mencari Allah. Ya tidak selalu, jadi perkataanku
bahwa dosa pasti memiliki akar penyelewengan religius itu tidak mutlak. Terkadang
aku hanya tergerak oleh kedagingan. Namun mari kita teliti, apa yang diinginkan
daging? Sebenarnya sama saja, Allah juga. Hanya saja daging itu kehilangan
keutamaan-keutamaan Ilahi sehingga tidak dapat menginginkan Allah sesuai dengan
Allah, tapi menginginkan Allah sesuai dengan dirinya sendiri. Apa artinya?
Menginginkan Allah sesuai dengan Allah artinya mengikuti perintah Allah dalam
bagaimana bersatu dengan Dia. Menginginkan Allah sesuai dengan diri sendiri
artinya berupaya bersatu dengan Allah tanpa melibatkan Allah.
Analogi yang akan aku
sampaikan agak mengerikan, tapi harapanku adalah pesannya sampai. Jalan pertama
adalah menikah dengan Allah secara baik, bersatu dengan-Nya melalui jalan yang “resmi”
atau tepatnya dengan persetujuan Ilahi. Jalan kedua adalah memerkosa Allah. Ya
bahasanya keras tapi aku berpikir seperti itu. Kenapa memerkosa? Karena kita
ingin memperoleh Allah tanpa memikirkan Allah. Jadi sangat egosentris. Allah
yang penuh kasih itu kita perkosa dan siksa dengan segala dosa kita yang
sebenarnya adalah yang kita inginkan itu Allah, tapi kita tidak mau mengikuti
ketetapan Allah tentang bagaimana mencapai Allah.
Maka dalam dosa
seksualku, tujuanku adalah secara harafiah bersatu dengan Allah, tapi aku tidak
ingin bersatu dengan cara Allah, tapi dengan caraku, yaitu dengan segala macam
dosa seksual. Entah kehendak jahat itu disadari atau tidak, tapi akarnya memang
itu. Sebenarnya kalau kita renungkan, dosa itu memang tidak masuk akal,
alasannya bodoh dan konyol. Namun, kita dapat memilih untuk menjadi bodoh dan
konyol, dan melakukan dosa memang adalah kebodohan dan kekonyolan. Pilihan itu
yang menjadi kritis, apa yang lebih kita cintai, diri kita sendiri atau Allah? Namun,
lebih tepatnya, apakah kita lebih ingin menanggung penderitaan karena cinta
sejati, atau kita lebih ingin menanggung penderitaan karena menolak cinta
sejati? Kedua jalan sakit, tapi ada yang tidak sesakit yang lain dan
kesakitannya menjadi lebih bermakna dan malah manis. Jalan manakah itu?
Sepertinya kita semua tahu apa itu.
Comments
Post a Comment