Eksamen 29 Maret 2023

Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Hari ini adalah hari pertama aku kembali menunaikan doa malam alias kencan panjang bersama Allah. Hari ini juga aku bermalasan-malasan, tidur-tiduran, tidak mengerjakan apapun yang berguna bagi diriku sendiri. Sekarang aku hendak menebus semua kesalahan itu dengan kencan bersama Allah. Apakah istirahat lama yang aku terima dari Allah adalah rahmat, atau suatu kesalahan yang patut disesalkan? Dalam kondisi ini, ternyata keduanya benar. Istirahat itu sekaligus rahmat dan penyesalan.

Namun, perasaanku didominasi penyesalan karena aku tidak melakukan apapun yang berguna bagi diriku sendiri dan bagi Allah. Tuhan Yesus, kasihanilah aku karena aku ini orang berdosa. Namun, memang benar aku sempat menulis filsafat sedikit. Pada saat yang sama, aku juga tidak mampu mengerjakan UTS padahal aku sudah meniatkan sejak semula untuk mengerjakan UTS pada hari ini. Namun, akhirnya aku jatuh juga. Aku mengatakan aku “rindu pada Allah”, tapi kenyataannya aku tidak melakukan apa-apa untuk mendekati Dia. Aku tidak bekerja.

Kristus menatap aku dengan tatapan dan senyuman yang manis. Di satu sisi aku merasa tidak pantas, di sisi lain aku senang ditatap seperti itu. Aku harus pergi ke Ekaristi besok. Aku harus mengerjakan UTS besok. Aku harus hidup jauh lebih baik dari hari ini, besok. Dan aku harus setia menunaikan doa malam, besok. Tuhan Yesus Kristus, tolonglah aku. Ada kesedihan di latar belakang. Aku tidak tahu mengapa. Aku ingin sekali menggali eksamen ini lebih dalam, tapi rasanya tidak bisa.

“Memangnya kamu mau menggali tentang apa?”

Aku juga tidak tahu, Tuhan.

“Apakah kamu mengharapkan akan adanya pewahyuan yang baru dari-Ku?”

Tidak, Tuhan. Aku hanya ingin melewatkan waktu lebih banyak bersama-Mu. Tapi aku selalu lalai, dan baru sekarang aku dapat menjawab panggilan-Mu untuk kencan bersama-Mu. Di satu sisi, aku bosan dengan

“Kenapa tidak kamu lanjutkan?”

Aku takut, aku tidak mau berkata “Aku bosan dengan Kamu”. Aku tidak bosan dengan Kamu, kalau Kamu mengatakan hal yang sama berulang kali, aku tidak akan bosan. Tapi barangkali ada bagian diriku yang bosan. Dan aku harus mengakui itu. Tidak, aku saja yang tidak mau berkomitmen. Aku hanya ingin mencicipi tanpa menghabiskan. Ya, aku adalah orang seperti itu.

“Berilah dirimu kepada-Ku, dan Aku akan memberikan diri-Ku kepadamu.”

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas