Renungan KGK 1-25

 

Pendahuluan Ignas

Shalom HaMashiach, Pax Christi, dan Damai Kristus bagi semua saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus. Ini adalah permulaan dari renunganku terhadap semua isi dari Katekismus Gereja Katolik. Dulu aku menyebutnya sebagai komentar atau tanggapan, tapi sekarang aku menyebutnya renungan karena melibatkan lebih dari sekadar akal budi tapi juga segenap diriku untuk memahami ajaran Gereja yang adalah ajaran Allah. Jadi ada unsur akal budi, tapi juga ada unsur hati atau afeksi yang dilibatkan dalam merenungkan ajaran Gereja yang tertuang dalam Katekismus. Katekismus memang bukan Kitab Suci, jadi pembelajarannya pasti berbeda dan teknik pembacaannya berbeda. Namun, ada derajat kehormatan yang hampir setara, karena Katekismus adalah produk Magisterium Gereja Katolik, artinya sumber akhirnya adalah Allah pula yang mengajar kita melalui suara dan tulisan Magisterium. Jadi sepantasnya kita memahami dan mempelajari ajaran Allah dengan baik di kehidupan ini, jika kita ingin menghindari katekese di api penyucian.

Bagi pembaca tulisan-tulisanku yang lain pastinya familier dengan Imajinasi Kristus. Maka dalam renungan-renunganku termasuk yang ini, akan ada banyak Imajinasi Kristus. Mereka semua adalah bagaimana akal budiku menangkap dan menafsir pesan yang Allah berikan kepadaku melalui Kristus di dalam Roh Kudus. Aku sudah memberikan pendahuluanku, hendaklah Kristus memberikan pendahuluan-Nya sendiri terhadap segala renunganku.

Pendahuluan Imajinasi Kristus

Dari Tuhanmu Yesus Kristus. “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Inilah salah satu perkataanku di dalam Lukas 10:16. Hamba-Ku Lukas memberitakan perkataan-Ku bahwa suara Gereja, tepatnya suara Magisterium Gereja adalah suara-Ku juga. Jadi jika ada di antara kamu yang menolak suara Gereja, artinya kamu menolak suara-Ku dan kamu menolak Bapamu yang ada di surga. Berhati-hatilah anak-anak-Ku. Sekarang hambaku Ignas telah oleh kehendaknya sendiri dan juga bimbingan-Ku memulai suatu karya yang amat mulia, yaitu merenungkan segala ajaran-Ku yang telah Aku berikan kepada Gereja dan membagikan buah-buah renungan itu kepada orang banyak, yaitu saudara-saudarinya dalam iman.

Namun Aku akan memberikan peringatan yang keras. Saat kamu membaca tulisan-tulisan yang dibuat Ignas, apalagi tulisan yang diawali dengan kata-kata “Imajinasi Kristus”, hendaklah kamu membawanya dalam doa. Karena Ignas sendiri tidak yakin dengan kodrat suara yang dia terima, dia hanya percaya kepada-Ku, yaitu Kristus, dan menyerahkan segala hal yang berikutnya kepada-Ku dan Bapa-Ku dan Roh-Ku. Jadi, jika ada isi dari renungan-renungan ini yang sekiranya sesat secara ajaran, ataupun membahayakan secara moral, pertama bawakan perkara ini kepada Ignas, lalu kalau dia tidak menjawab, laporkan ini kepada imam. Biarlah Ignas tunduk kepada penghakiman Gereja sepenuhnya, ingat, Ecclesia Verbum, Dei Verbum.

Sekarang, sedikit tentang teks Katekismus Gereja Katolik (KGK). Teks KGK dirancang supaya dapat dibaca dari awal sampai akhir untuk mengenalkan seseorang ke dalam iman Katolik secara intelektual tanpa membutuhkan latar belakang pengetahuan yang amat dalam. Sebenarnya pasti ada latar belakang pengetahuan yang dibutuhkan, karena ada preposisi-preposisi yang dianggap sudah pasti dalam KGK. Adapula KGK ini hanyalah ringkasan dari iman Kristiani, dan bukan keseluruhan iman itu sendiri. Karena ingat, keseluruhan Wahyu Allah adalah Aku, Kristus, dan Aku tidak dapat dibatasi oleh satu buku saja. Kalau kamu ingin mendalami lebih dari KGK, ada banyak praktik rohani yang dapat kamu lakukan dan banyak pengetahuan yang dapat kamu terima dari Aku sendiri dalam setiap doamu yang bahkan tidak ada dalam buku apapun.

Pada akhirnya, renungan KGK yang dilakukan oleh Ignas ini dibuat untuk mengundang kamu untuk mendalami imanmu dan mempelajari lebih dalam lagi tentang Aku sehingga kamu dapat percaya lebih baik, berharap dengan lebih teguh, dan mengasihi dengan lebih sempurna. Jadi jangan berhenti pada renungan ini saja, tapi sekiranya kamu mencari Aku dalam Ekaristi dan dalam doa dan dalam sesamamu dengan semakin gencar lagi. Biarlah renungan ini hanya menjadi batu pijakan dalam perjalananmu kepada-Ku. Sekarang, Aku memberkati kamu yang membaca renungan ini dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, amin.

Renungan Ignas

Allah yang sempurna menciptakan manusia untuk bersatu dengan-Nya dalam pengetahuan dan kasih. Karena itu Allah memanggil manusia yang tercerai berai oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya yang kudus yaitu Gereja. Untuk mencapai hal tersebut pada kepenuhan waktu Allah telah mengirim Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus dan melalui Dia di dalam Roh Kudus, manusia menjadi anak-anak angkat Allah sehingga mereka pun berhak mewarisi kehidupan terberkati Allah, yaitu kebahagiaan yang sempurna bagi setiap orang.

Supaya panggilan ini diteruskan kepada seluruh dunia, Kristus mengutus para rasul dan penerusnya untuk mewartakan Injil di seluruh dunia menurut amanat agung. Artinya menjadikan pengikut Kristus dari segala bangsa, membaptis mereka dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, dan mengajar mereka segala hal yang telah diperintahkan Kristus. Para rasul melaksanakan tugas ini dengan setia dan seiring Tuhan bekerja bersama mereka dan mengonfirmasi pesan-Nya dengan tanda-tanda yang menemani para rasul.

Setiap orang yang dengan pertolongan Allah telah menjawab dan menerima panggilan Kristus didorong oleh kasih Kristus untuk meneruskan Kabar Baik kepada seluruh dunia. Harta ini telah diterima oleh para rasul dan dijaga dengan setia oleh para uskup, penerus para rasul, dan semua umat Kristus dipanggil untuk meneruskan kekayaan ini kepada angkatan-angkatan berikutnya, dengan mengakui iman mereka, menghayatinya dalam semangat berbagi persaudaraan, dan merayakannya dalam liturgi dan doa.

Nama “katekese” diberikan kepada keseluruhan proses Gereja untuk membentuk murid-murid, untuk membantu manusia percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah, supaya mereka hidup dalam nama Kristus, mendidik mereka dalam kehidupan ini, sehingga membangun Tubuh Kristus. Menurut Catechesi tradendae, katekese adalah pendidikan iman bagi semua orang yang melibatkan pengajaran ajaran Kristiani dalam cara yang organik dan sistematis. Tujuannya adalah menginisiasi para pendengar ke dalam kepenuhan hidup Kristiani.

Sekalipun tidak secara formal sama, katekese dibangun atas beberapa unsur misi pastoral Gereja yaitu pewartaan misionaris, penyelidikan dasar kepercayaan, pengalaman hidup Kristiani, perayaan sakramen, integrasi ke dalam komunitas Gereja, dan kesaksian apostolik dan misionaris. Katekese secara intim berkaitan dengan keseluruhan hidup Gereja, bukan hanya dari ekspansi geografis atau peningkatan numerik, tapi juga perkembangan internal Gereja dan kesesuaian dengan rencana Allah bergantung secara esensial pada katekese.

Masa-masa pembaruan dalam Gereja juga merupakan momen-momen intens dalam katekese. Dalam era Bapa Gereja, banyak uskup kudus yang mengerjakan katekese, seperti Santo Kiril Yerusalem, Santo Yohanes Krisostomus, Santo Ambrosius, dan Santo Agustinus. Pelayanan katekese selalu menimba energi segar dari konsili, contohnya Konsili Trente. Konsili Trente menghasilkan Katekese Romawi yang menjadi salah satu ringkasan ajaran Kristiani yang terbaik. Setelah itu banyak para kudus yang kembali berkontribusi kepada katekese, yaitu Santo Petrus Kanisius, Santo Karolus Borromeus, Santo Turbius Mongrovejo, dan Santo Robertus Bellarmine. Maka tidak mengagetkan pada saat Konsili Vatikan II, katekese kembali menarik perhatian. Direktori Kateketik Umum (1971), Sinode Uskup untuk evangelisasi (1974) dan katekese (1977), seruan apostolik Evangelii nuntiandi dan Catechesi tradendae menunjuk pada kenyataan ini. Sinode Luar Biasa Para Uskup di tahun 1985 menghendaki suatu ringkasan seluruh ajaran Katolik dirumuskan, maka Paus Santo Yohanes Paulus II memulai langkah-langkah yang menghasilkan KGK.

Katekismus ini ditujukan untuk menyajikan suatu sintesis organik dari isi esensial dan mendasar dari ajaran Katolik berkaitan dengan iman dan moral dalam terang Konsili Vatikan II dan seluruh Tradisi Gereja. Sumbernya adalah Kitab Suci, Bapa Gereja, liturgi, dan Magisterium Gereja. Karya ini ditujukan kepada para uskup, lalu kepada para redaktor katekismus, para imam, dan kepada para katekis. Adapula karya ini juga berguna bagi semua umat Kristiani yang lain.

Katekismus ini dibagi menjadi 4 pilar, yaitu Kredo, Sakramen, Hidup Iman, dan Doa orang yang beriman. Mereka yang menjadi milik Kristus melalui iman dan Baptisan harus mengakui iman Baptisan mereka di hadapan manusia. Maka pertama Katekismus menjelaskan wahyu, iman, dan akan Allah Tritunggal. Berikutnya Katekismus menjelaskan bagaimana keselamatan dari Kristus dihadirkan dalam tindakan suci liturgi Gereja, terutama dalam 7 sakramen. Ketiga, Katekismus menjelaskan tujuan akhir manusia, melalui tindakan yang benar dan tindakan yang memenuhi kedua hukum kasih. Terakhir Katekismus menjelaskan makna dan pentingnya doa di dalam hidup orang beriman, diakhiri dengan komentar singkat terhadap 7 permohonan di dalam Doa Tuhan.

(Bagian berikutnya dari Katekismus membahas petunjuk menggunakan Katekismus dan juga adaptasi Katekismus, petunjuk teknis yang tidak begitu relevan untuk renungan ini)

Terakhir, dari Katekismus Romawi, bahwa segala ajaran dan pengajarannya harus ditujukan pada kasih yang kekal. Apapun yang diusulkan untuk dipercaya, diharapkan, atau dilaksanakan, kasih Tuhan harus selalu dapat diakses. Supaya siapapun dapat melihat bahwa segala pekerjaan keutamaan Kristiani yang sempurna datang dari kasih dan berakhir hanya pada kasih.

Renungan Imajinasi Kristus

Dari Tuhanmu Yesus Kristus. Pada saat ini Ignas sudah mengantuk dan lelah, tapi Aku menguatkan dia untuk tetap menulis renungan ini. Katekese janganlah dianggap sebagai pendidikan iman yang membosankan. Katekese adalah nama lain dari pewartaan, dan apa yang diwartakan? Aku, yang adalah Kristus. Jadi, jangan dipikirkan sebagai suatu hal yang merupakan tambahan saja dan dapat dibuang sehingga kita hanya perlu “perbuatan baik” saja. Jangan salah, setiap pembacaan Kitab Suci dalam Misa dan pengkhotbahan oleh Imam adalah katekese. Setiap kali kamu mewartakan Aku dengan benar, itulah katekese. Dari gagasan yang tertulis di dalam KGK, kita dapat menyimpulkan, bahwa katekese adalah jiwa Gereja itu sendiri. Pewartaan Injil itu identik dengan katekese, dan karena itu katekese adalah apa yang mempertahankan keberadaan Gereja.

Tanpa katekese, Gereja akan cepat runtuh. Namun karena Aku melalui Roh-Ku mendorong setiap umat untuk terus berbicara dan berbahasa tentang Aku, maka Tubuh-Ku dapat terus hidup dan dipertahankan sampai akhir zaman. Saat kamu ingkar untuk berbicara tentang Aku, maka apa bedanya kamu dengan orang ateis yang berlaku baik? Saat kamu ingkar untuk berbicara tentang Aku, ingat apa kata Gereja, kamu tidak berguna bagi-Ku ataupun bagi dirimu sendiri. Jadi berkatekeselah, dengan syarat kamu sudah mengkatekese dirimu sendiri dengan baik. Istilah katekese digunakan karena objeknya adalah KGK. Secara lebih luas, berevangelisasilah, wartakanlah Injil yang terkandung dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Dengan syarat, kamu sudah mewartakan Injil kepada dirimu sendiri dulu. Bilamana Aku tidak hadir dalam engkau, bagaimana kamu dapat mewartakan Aku kepada orang lain? Selamat mewartakan Aku dalam katekese, dan Aku memberikan berkat-Ku dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, amin.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas