Upaya Kontemplasi 1
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Aku ini seorang Dominikan Awam, jadi aku punya kewajiban untuk membagikan buah-buah kontemplasi kepada orang-orang lain. Dulu aku pernah berupaya untuk menuliskan kontemplasi dulu, tapi aku ini orang munafik, jadi barangkali aku lebih sering menulis renungan daripada kontemplasi. Namun, sepertinya banyak juga “renungan” itu sebenarnya adalah kontemplasi terselubung. Sebab aku tidak selalu menulis dari pikiranku saja, tapi kalau kamu mencermati, banyak juga tulisanku yang merupakan hasil dari perjumpaan pribadiku dengan Kristus, Tuhan Allah kita.
Kali ini, setelah
memperoleh ilmu yang tepat tentang renungan dan kontemplasi dari seorang
sahabat karibku yang juga sekaligus guruku, aku berusaha menuliskan kontemplasi
resmiku yang pertama. Pertama, kita membedakan antara renungan dan kontemplasi.
Renungan pada dasarnya adalah sekadar pemikiran kita, belum dijadikan tindakan
nyata atau belum dialami secara nyata. Kontemplasi adalah kenyataan yang
dialami, dan di dalam kenyataan itu kita bertemu dengan Allah. Tidak harus kita
sedang dalam kondisi rohani yang dikhususkan, misalnya dalam Ekaristi atau doa
atau perbincangan teologis. Mungkin saja kontemplasi terjadi di dalam kondisi
non-rohani atau sekuler atau profan, misalnya kita sedang makan bakso lalu
berjumpa dengan Allah di situ. Mungkin terdengar lucu, tapi kontemplasi
sejatinya seperti itu. Sesuai salah satu slogan Ignasian, “Menemukan Allah dalam
segala sesuatu.”
Saat aku memahami
makna kontemplasi aku mengasosiasikan kontemplasi dengan suatu kegiatan aktif.
Masalahnya, aku orang yang jarang melakukan amal kasih secara aktif. Aku lebih
banyak mendoakan orang lain dan itu pun tidak disiplin. Kontemplasiku terjadi
karena aku memang berusaha mencari Allah. Kali ini pun sama saja. Kisahnya
seperti ini, atas petunjuk guru dan sahabatku, aku sedang berusaha mengenal
diriku sendiri dengan bantuan Kristus. Namun, di tengah proses itu aku menemukan
amarah yang mendalam akan Allah, dan aku berdosa berat melawan bukan hanya
Kristus tapi juga Santa Perawan Maria, Bunda kita yang tercinta. Setelah
berdosa berat aku semakin berdosa dengan melempar salib di tembok sampai korpusnya
lepas dan skapulir coklatku ke lantai.
Namun, Kristus tidak
marah. Ya Dia awalnya marah, tapi akhirnya Dia menenangkan aku dan mengarahkan
aku untuk mencari pertolongan. Setelah itu Dia mengarahkan aku untuk berdoa
tobat dan mengungkapkan sesal sempurna. Maka aku pun meratap dan aku memohon
ampun kepada Bunda Maria dan kepada Tuhan Yesus karena dosa yang begitu keji
melawan mereka berdua. Aku akhirnya dituntun kepada pemahaman bahwa selama ini,
potensi dosaku terletak pada ketidakjujuranku pada Allah dan juga kesombonganku.
Aku berdalih bahwa dengan rahmat Allah, aku sudah tercukupi dan aku tinggal
memuliakan Allah saja. Itu adalah kesalahan fatal, aku tidak mengakui kenyataan
bahwa sebenarnya aku sangat rindu untuk bersama Allah dan aku memang cinta pada
Allah, dalam arti aku ingin bahagia dengan bersatu dengan Allah.
Sebenarnya aku tidak
tahu apakah masih ada potensi dosa yang lain atau hanya ini saja. Namun, pastinya
aku kembali diingatkan akan segala pelajaran yang telah diajarkan Allah
kepadaku. Pertama, aku harus jujur kepada Allah bukan pada saat-saat tertentu
saja tapi pada setiap saat. Karena kejujuran kepada Allah juga jujur kepada
diri sendiri. Dengan menyuarakan segala perasaan dan pikiran kita kepada Allah,
kita ikut paham apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Dengan itu kita dapat
mengenali apa yang sebenarnya masih kurang pada diri kita, apa yang harus
diperbaiki, dan apa yang sudah baik sehingga dapat kita syukuri dan gembirakan.
Kedua, aku harus
membawa Allah setiap saat, atau melihat Allah setiap saat, tanpa memalingkan
hati sedetikpun. Ini selaras dengan kejujuran kepada Allah. Karena saat kita
jujur setiap saat, artinya kita mengarahkan diri kita kepada Allah setiap saat.
Dengan itu kita melihat Allah setiap saat, bukan artinya kita mati dan
mendapatkan visiun beatifis segera, tapi kita berkontemplasi setiap saat. Dalam
arti lebih konkrit lagi, kita melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa
hidup kita, bahkan dalam setiap detik hidup kita. Hanya dengan kontemplasilah kita
dapat memenuhi perintah Kristus untuk “berdoa senantiasa” dan “tidak jemu-jemu
berdoa”.
Apa yang aku rasakan
sekarang? Sekarang aku merasakan kedamaian dan sukacita yang amat mendalam. Aku
melihat bahwa Kristus sungguh mengasihi aku tanpa syarat karena 2 hal, Dia rela
menderita penderitaan yang terberat demi aku, dan setelah menderita seperti itu
karena aku Dia masih mengasihi dan mencintai aku. Sesungguhnya aku semakin
diberikan hak istimewa karena Kristus menunjukkan kasih-Nya secara lebih
eksplisit melalui imajinasi batin. Jadi, bahwa selama ini aku berdosa sungguh
keterlaluan, karena aku menyia-nyiakan Kasih yang amat Tulus dan Murni
kepadaku, yaitu Sabda Allah sendiri, Tuhan kita Yesus Kristus.
Anehnya, dengan dosa
berat inilah aku dituntun untuk melihat betapa mendalamnya kasih-Nya kepadaku. Hal
ini mengingatkan aku akan setiap dosa yang aku lakukan. Sesungguhnya, sekalipun
aku berdosa, Kristus selalu mengajarkan sebagai berikut, “Jangan berlarut-larut
dalam rasa bersalah, tapi bangkitlah dengan segera dan kembalilah kepada-Ku.” Apa
arti “kembalilah kepada-Ku”? Bukan hanya mengubah perilaku, tapi juga mengubah
afeksi. Tinggalkan penghukuman diri yang berlebihan dan kembali bersukacitalah.
Jadi aku dapat bersukacita sekalipun aku sadar aku sebenarnya sudah berdosa
berat. Karena di situ aku sudah menyesali dosaku dengan sempurna, dan aku
tinggal menyempurnakan pertobatanku dalam sakramen tobat.
Aku mengakhiri kontemplasi
singkat ini dengan suatu renungan filosofis tentang rahmat Allah. Allah hadir
dalam 2 dimensi, dimensi kekekalan dan dimensi waktu sekaligus melalui Misteri
Inkarnasi. Karena itu di satu sisi Allah terikat waktu dan tidak terikat waktu
pada saat yang sama. Artinya, sekalipun kita belum melaksanakan sakramen tobat,
selama kita sudah memiliki sesal sempurna yang melibatkan komitmen untuk
bertobat dalam sakramen, Allah memperhitungkan dalam kekekalan bahwa kita sudah
melaksanakan sakramen tobat dan Allah dapat menerapkan rahmat tobat itu kepada
kita. Artinya kita memperoleh beberapa rahmat aktual seperti sukacita dan
damai. Namun, untuk memperoleh rahmat kita secara utuh kembali, memang
dibutuhkan sakramen tobat sehingga pengudusan kembali kepada kita. Ini hanya
opini teologis yang didasarkan pada kodrat Ilahi yaitu kekekalan dan juga
pengalaman pribadi. Karena aku yakin bahwa sukacita dan damai sejati hanya berasal
dari Allah. Semoga kontemplasi singkat ini berguna bagi kalian semua. Kepada
sahabat-sahabatku yang secara khusus aku mohon bantuannya, silakan berikan
tanggapan apakah ini sudah memenuhi syarat kontemplasi atau masih jatuh dalam
renungan. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua, Santa Perawan Maria, Santo
Yusuf, Para Kudus dan Para Malaikat di surga mendoakan kita semua. Kemuliaan
kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment