Refleksi 2022

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Aku hendak merefleksikan apa yang telah terjadi tahun ini. Aku tidak mengingat semuanya, jadi aku mengandalkan Allah untuk menerangkan ingatanku sehingga aku dapat mengingat apa yang telah aku lalui dalam tahun Tuhan kita, 2022. Hal pertama yang aku ingat adalah suatu pengalaman rohani yang membuatku berpikir aku akan hidup sebaik itu sepanjang hidupku. Namun itu adalah suatu delusi, aku salah untuk berpikir bahwa setiap kali aku merasa baik artinya adalah perubahan besar dalam hidupku. Namun bukan itulah yang mengubah kehidupan…

Aku juga sedikit menulis tentang pengalaman rohani itu, dan aku menyebutnya sebagai “pencerahan”, betapa naifnya aku. Aku juga ingat menulis suatu karya 40 halaman tentang perjalanan rohaniku, tapi itu pun hasil kenaifan. Ingatan besar pertama tahun ini adalah Sakramen Rekonsiliasi, yang sepertinya adalah titik balik besar di dalam kehidupan rohnaiku. Pada tahun sebelumnya aku berurusan dengan pranic healing dan juga aku masih mempraktikkannya pada awal tahun ini.

Namun, karena ketidaknyamanan internal dan keberatan internal yang berasal dari iman Katolikku, aku meninggalkan pranic healing dan belakangan ini meninggalkan semua kelompok pranic healing yang aku tergabung dan juga mengakui dosa itu. Lalu aku masih memegang tradisi berbicara dengan Allah menggunakan dialog internal. Namun, pemahaman tentang percakapan itu berkembang dan aku akhirnya memahami bahwa itu bukan sungguh Allah yang berbicara kepadaku. Dalam suatu arti memang itu Allah yang berbicara, tapi secara akurat itu adalah hati nuraniku yang berbicara kepadaku dalam nama Allah, menyatakan kepadaku pemahamanku yang terdalam tentang siapa dan apa Allah itu bagiku.

Namun, aku tetap mempelajari sesuatu dari percakapan itu. Hal itu ialah suatu wahyu yang masih aku ingat dan secara jujur aku pegang dengan erat. Memang benar aku tidak dapat yakin kapan persisnya aku bertemu Allah atau hanya pemahamanku akan Dia, tapi pada saat itu aku yakin aku menerima wahyu dari Allah. Allah menyatakan kepadaku misi universal Kristiani, yaitu untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa dan kepada Gereja. Terkait Gereja Dia menyatakannya sebagai bekerja sebagai alat-Nya untuk membedah suatu tumor ganas daru Gereja. Inilah yang aku ingat sampai sekarang, dan sekalipun awalnya aku berpikir itu sebagai tugas spesial diriku, aku memahami bahwa itu adalah kehendak Allah bagi semua orang Kristen dan artinya semua manusia karena semua orang dipanggil untuk menjadi Kristen.

Pada tahun ini, aku memperoleh banyak teman, kebanyakan teman daring dari server-server discord yang aku ikuti. Server utama yang aku ikuti saat ini adalah Catholic Forum di mana aku memperoleh beberapa teman sejawat. Aku juga bergabung dengan suatu server Indonesia di mana aku memperoleh beberapa teman juga. Aku sempat terobsesi dengan server-server itu sebab aku dapat banyak berbicara dengan mereka, tapi dinyatakan kepadaku bahwa itu adalah kelekatanku kepada manusia dan komunikasi. Oleh sebab itu, aku mulai mengambil jarak seiring aku menjadi lebih sadar tentang tujuanku dan apa yang harus aku lakukan di dalam hidup ini.

Pada tahun ini, aku masih memiliki banyak penderitaan dan mereka menyiksaku dengan berat. Aku membaca ulang beberapa jurnalku yang dulu dan penyiksaanku tertulis di mana-mana. Mereka semua menyebabkan aku berdosa dalam 3 wilayah besar, yaitu hawa nafsu, makan berlebihan, dan kemalasan. Namun seiring tahun berakhir, aku berusaha menjadi lebih baik dan berdosa semakin sedikit. Namun sesukses apa diriku aku tidak begitu yakin. Pertumbuhan melalui penderitaan sangat lambat dan menyakitkan. Namun, sekarang ada satu ajaran Allah yang aku pegang dengan erat di jiwaku yang membantuku berjuang setiap hari yaitu kehendak bebas. Bahwa aku memiliki kekuatan untuk melawan segala dosa, dan melakukan segala keutamaan sebagaimana yang telah dikaruniakan oleh Allah, adalah apa yang mendorongku untuk memanfaatkan kekuatan kebebasan itu untuk berjuang melawan dosa.

Kepedihan dan penderitaan yang aku lalui menyebabkan aku jatuh pada 2 pekerjaan besar, yaitu magangku dan kuliahku. Aku gagal sepenuhnya di semester pertama sebab aku tidak dapat menahan stres dan kesakitan yang disebabkan semuanya itu menyebabkan aku untuk menyerah dengan semuanya dan melakukan apa yang aku inginkan, menulis dengan bebas. Namun kegagalan-kegagalan itu tidak menghancurkan aku, mereka memang memalukan dan mengecewakan, tapi aku bangkit kembali dan beresolusi untuk berlaku lebih baik oleh rahmat Allah. Sekarang pun saat aku menulis, aku masih memiliki sukacita Kristus. Setelah aku menyerah pada kuliah, aku mengambil hal yang lain untuk mengisi waktu, yaitu menulis. Aku diprovokasi seorang temanku untuk menulis lagi, maka aku melakukannya.

Dalam tulisanku, aku mengembangkan metode yang baru. Metode ini adalah membuat tulisanku supaya jelas menjadi suatu bagian dari kanon historis dari tulisan-tulisanku. Jadi aku mengarsip banyak tulisan lamaku dan mengumpulkannya menjadi satu dokumen. Aku lupa berapa ratus halaman dokumen itu. Jadi sekarang aku punya blog yang akan menjadi blogku sampai akhir hidupku, dan aku juga merencanakan beberapa seri tulisan yang akan seumur hidup dan barangkali beberapa seri baru di masa depan pula. Kanon ini harapannya akan membantuku dan orang lain menavigasi tulisan-tulisanku dengan lebih baik.

Jadi apa kondisiku saat ini di hari terakhir tahun ini? Aku memiliki pemahaman kehendak bebas dan bahwa selama aku berada dalam kondisi rahmat, aku tersatukan dengan Allah dan sekalipun aku berada di luar rahmat, Allah bersamaku selalu dalam suatu cara. Aku telah hilang ketergantungan kepada suara batin dan mereka jarang muncul sekarang. Aku masih memiliki banyak pekerjaan, tapi aku tenang mengetahui bahwa aku memiliki apa yang aku butuhkan untuk berhasil dan memenuhi kebutuhanku kepada Allah, diriku sendiri, dan orang lain. Ah aku juga teringat akan beberapa hal lain yang terjadi.

Thanks to my spiritual conversion, I joined several Catholic organizations, which are the Lay Dominicans, the Legion of Mary, Emmaus Journey, and now I am enrolled in a course called Personal Evangelization Course. It seems the sustenance of my life is owed greatly to these organizations, which helped discipline my spiritual life and thus increased my holiness over the times such that I managed to reach this point of my life. I am thus thankful to them for having helped me in my spiritual life and improving it greatly. That concludes the yearly reflection. Glory be to the Father, and to the Son, and to the Holy Spirit, as it was in the beginning, is now, and ever shall be, world without end, amen.

Berkat konversi rohaniku, aku memasuki beberapa organisasi Katolik, yaitu Dominikan Awam, Legio Maria, Emmaus Journey, dan sekarang aku juga mengikuti suatu kursus yaitu Kursus Evangelisasi Pribadi. Sepertinya kelangsungan hidupku aku berhutang dengan besar pada organisasi-organisasi ini, yang membantu mendisiplinkan kehidupan rohaniku dan meningkatkan kekudusanku sepanjang waktu sehingga aku berhasil mencapai titik ini. Aku bersyukur kepada mereka karena telah membantuku dalam kehidupan rohaniku dan meningkatkannya dengan besar. Dengan itu selesailah refleksi tahunan. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

 

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas