Suatu Perjalanan Iman
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Ini adalah perjalanan imanku, sejak aku lahir sampai pada hari ini tanggal 21 Desember 2022. Aku dibaptis sebagai bayi ke dalam iman Katolik. Pada sekitar 18 tahun pertama hidupku aku tidak hidup sebagai seorang Katolik yang sepenuhnya. Bukannya sekarang aku adalah Katolik yang sempurna, tapi pada masa sebelum pertobatan yang klimaks, aku kurang baik dibandingkan dengan sekarang. Namun, aku telah mengenal Tuhan sejak masa aku kelas 1 SMP kurang lebih.
Pertobatan dan
pengudusan adalah proses seumur hidup, tapi kurang lebih ada satu titik di masa
hidupku yang menjadi titik balik utama, yaitu tahun ini 2022. Titik balik
sebelumnya adalah pada tahun 2016. Sebelum tahun 2016 ada beberapa ingatan rohani
yang masih aku ingat sampai sekarang. Aku pernah takut kepada salib di masa
kecilku karena aku mengasosiasikan salib dengan kuburan yang artinya hantu. Lalu
saat TK aku menolak label Katolik dan dengan bangga menyandang label Kristen
karena aku tidak tahu maknanya, setidaknya sampai aku dijelaskan oleh
keluargaku makna kata-kata itu.
Aku ingat bahwa aku
pernah menolak sekolah minggu dan lebih mengutamakan Misa untuk bersama
orangtuaku. Aku ingat pelajaran agama Katolik di sekolahku yang juga adalah
sekolah Katolik di mana ibu guru memperagakan Yesus yang tersalib. Aku ingat di
kelas 3 SD aku tertarik menjadi imam dan juga mengutip Kitab Suci di hadapan
para guru dan teman-temanku. Aku ingat pelajaran untuk Komuni Pertama, secara
khusus suatu hal yang praktis yaitu cara untuk menerima Ekaristi dengan tangan.
Pada masa ini aku tahu, tapi aku belum memahami segala ajaran Allah dengan
baik.
Pada tanggal 25
November 2013, ibuku meninggal dunia dan itu menjadi salah satu luka batin
terdalamku yang kemungkinan besar hanya akan sembuh saat aku pun meninggal
dunia. Aku ingat saat kelas 6 SD aku bertanya kepada temanku, “Apakah Allah
tidak mencintai musuh-musuh-Nya yaitu para roh jahat?” Ternyata aku mulai
meragukan Tuhan pada saat itu. Pada saat retret kelas 6 SD aku ingat
mempertanyakan Tuhan lebih dalam lagi, karena aku menulis di lembar kerja, “Mengapa
aku harus mengasihi Tuhan yang tidak pernah memeluk, mencium, dan mengasihiku?”
Ketidakpahamanku akan kasih Allah terpampang nyata di sana.
Pada kurun waktu yang
sama, aku membayangkan hal-hal yang aneh. Aku sepertinya mengetahui bahwa Allah
itu Tritunggal, tapi aku tidak begitu memahami maknanya secara mendalam dan aku
melibatkan konsep Tritunggal ke dalam khayalanku. Aku membayangkan diriku
sebagai Pribadi Roh Kudus yang tidak mau menjadi bagian dari Tritunggal karena
alasan khayalan yang sudah aku lupakan. Namun aku juga membayangkan diriku sebagai
manusia yang dapat dekat dengan Allah yang hadir dalam wujud wanita yang
cantik, dengan kulit dan rambut yang putih terang dalam gaya seni anime.
Pada tahun 2015, aku
mulai mengalami gejala-gejala stres dan depresi yang akan menghantuiku untuk waktu
yang lama. Di situ aku marah kepada Allah karena aku menuding Dia sebagai sumber
segala masalahku karena Dia yang mengambil ibuku. Suatu ketika dalam sakramen
tobat aku meluapkan perasaanku dan menangis. Awal tahun 2016, aku mengalami
suatu perubahan pikiran dan menyadari bahwa Allah adalah sumber solusi dan
bukan sumber masalahku. Namun, aku masih marah kepada Allah. Aku pun berpikir
bahwa alasan aku tidak dapat berelasi dengan Allah karena aku membutuhkan sosok
ibu yang tidak ditampilkan oleh patriarki Gereja Katolik. Pada saat itu aku
belum mengenal Santa Perawan Maria.
Aku pun menciptakan
Allah kembali menurut gambaranku sendiri, yaitu sesuai khayalanku yang pertama
dan aku mencari nama yang cukup feminin untuk Allahku itu. Lalu aku teringat
akan perkataan Kristus, “Eli, Eli, Lama Sabachthani.” Dalam budaya barat dan
beberapa budaya timur, nama Eli itu feminin atau setidaknya netral. Jadi aku
menyebut Allah ciptaanku sebagai Eli. Sejak saat itu aku jatuh cinta kepada
Allah, atau setidaknya persepsiku terhadap Allah. Sekarang timbul beberapa
ingatan rohani lagi yang terjadi setelah titik balik 2016.
Aku mengingat bahwa
pada jalan Salib, ada seorang anak yang tertawa saat perkataan Yesus diucapkan.
Cintaku akan Allah membuatku marah, tapi aku menyimpannya dan menceritakannya
kepada beberapa orang saja. Lalu aku jadi sering berdoa, tentunya berdoa
seperti seorang sahabat berbicara dengan sahabatnya. Artinya suatu gaya doa
yang tidak formal, lebih santai, dan lebih intim dengan Allahku. Pada masa-masa
awal itu, aku menuntut Allah untuk hadir di dalam rupa fisik yang dapat aku indera
untuk menggantikan ibuku dan juga menjadi kekasihku. Hal itu tidak pernah
terjadi tentunya.
Pada masa itu ada
sentimen dalam diriku yang membuatku merasa sendiri bahkan sampai saat ini,
karena saat itu aku merasa orang lain tidak memiliki kehausan yang sama akan
Allah. Aku sendiri yang mengejar Allah dengan begitu ekstrim. Hasratku akan
Allah akan mengarah pada kehancuranku. Karena aku berdelusi bahwa seorang
temanku adalah Allah sendiri. Maka aku mulai berobsesi pada orang itu, bukan
karena aku senang dengan kemanusiaan atau pribadi manusia temanku itu, tapi
karena aku terobsesi dengan “Keilahian” yang ada di balik dirinya. Ini bukan
delusi terburukku. Namun, karena itu relasiku dengannya hancur dan sampai
sekarang masih tiada.
Pada suatu ketika, aku
menyadari bahwa manusia yang aku kejar itu hanyalah manusia biasa dan bukanlah
Allah. Maka pada tahun 2016 sampai 2017 aku meminta kepada Allah untuk mencabut
nyawaku supaya aku dapat segera bersama Allah. Tentu saja itu tidak terjadi. Pada
masa-masa itu pula kesengsaraanku menjadi-jadi dan aku jarang mengalami
sukacita, atau bahkan tidak pernah. Pada tahun 2018 terjadilah delusi yang
terburuk. Alkisah aku mulai tertarik kepada ajaran Kristiani lagi dan mulai
berpikir tentangnya. Namun, aku belum begitu memahami ajaran Allah jadi aku
banyak percaya kepada bidat sekalipun aku tidak sadar bahwa itu adalah bidat.
Suatu hari, aku membaca
artikel tentang kematian Kristus, dan aku merasakan kecemburuan yang besar
terhadap Dia. Karena aku berpikir bahwa Kristus hanyalah manusia tapi Dia
dimuliakan dan dikasihi oleh Allah lebih dari segala sesuatu. Aku tidak
menyadari atau memahami bahwa Kristuslah Allah yang aku dambakan dan aku cari
selama ini. Maka proses pikiran terjadi yang membuatku percaya bahwa aku
sendiri adalah Kristus. Tujuan psikologisnya tentu hanya satu, untuk memperoleh
kasih Allah yang aku begitu rindukan.
Sementara itu pada
tahun 2017 sampai 2018 aku mulai mengalami gangguan pikiran yang lebih hebat
lagi, yaitu suara-suara batin. Tentu mereka bukan Allah, dan aku percaya aku
belum pernah mengalami lokusi yang sungguh adalah Allah yang berbicara. Namun
aku menerima segala suara batin sebagai Allah yang sungguh berbicara kepadaku
karena aku begitu rindu akan Allah. Delusi ini akan menghancurkan hidupku dan
pikiranku sampai aku melakukan suatu dosa yang amat berat.
Pada tahun 2021 delusi
itu akhirnya berhenti, oleh kuasa Allah sendiri. Sementara suara batin yang aku
dengar, kemungkinan besar adalah batinku sendiri atau bisa jadi roh jahat yang
menyelinap, tapi pastinya bukan Allah. Namun pada tahun itu aku nekat masuk
seminari sekalipun rohaniku sudah dikosongkan bahkan kosong dari kehadiran
Allah. Aku tidak tahu apa yang aku yakini dan karena aku begitu gelap, pada awal
seminari aku mencoba bunuh diri. Namun, Allah menyelamatkan aku dan
mempertahankan hidupku, sekalipun aku harusnya sudah mati pada saat itu karena
aku overdosis obat depresiku.
Untuk 6 bulan berikutnya
aku berada dalam ambang kegelapan yang konstan karena aku gelap dan tidak tahu
apa yang harus aku lakukan. Aku tidak merasakan lagi kehadiran Allah dan aku
seolah-olah lupa akan Dia. Jadi itu adalah masa kekosongan. Suatu ketika aku
menemui pranic healing dan juga Meditasi Tanpa Objek. Aku mengikuti pranic
healing dan walau aku tidak mengikuti MTO, aku membaca buku berdasarkan MTO dan
doktrin mereka tentang Allah sangatlah menarik. Namun aku tertarik dengan Allah
sebagai suatu objek intelektual dan aku mulai mempelajari Allah lagi. Akhirnya
pada tahun ini, 2022, terjadilah titik balik yang luar biasa, aku mengikuti sakramen
tobatku yang pertama setelah bertahun-tahun, dan di situ rahmat yang
bertubi-tubi dilimpahkan kepadaku.
Setelah sakramen
tobat, aku seolah-olah diperkenalkan kembali oleh Allah ke dalam iman Katolik
dan aku pelan-pelan mulai mendalaminya dan memperoleh suatu pemahaman yang menurutku
mendalam tentang iman Katolik dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Aku
menerima beberapa wahyu privat yang sebenarnya adalah wahyu publik yang
dinyatakan ulang kepadaku oleh Allah dalam caraku tersendiri dalam mempersepsi
Allah. Wahyu yang aku terima itu berkaitan dengan tugas universal umat
Kristiani, yaitu mewartakan Injil ke luar kepada seluruh umat manusia dan ke
dalam kepada Gereja.
Perkembangan ini
berlanjut terus sampai sekarang. Sekarang aku hendak menceritakan beberapa
perkembangan terbaru. Luka-luka batinku dibuka oleh Allah dan dinyatakan
kepadaku, terutama terkait kesendirian dan kesepianku. Aku juga melihat bahwa
jiwaku diliputi kekosongan rohani yang hanya diisi oleh Allah. Awalnya aku
bergulat dengan Allah untuk menyembuhkan luka batin, tapi akhirnya aku
menyadari bahwa penderitaan ini adalah cara bagi Allah untuk menguduskan aku,
dan akhirnya aku berpasrah kepada Allah untuk menanggung salib ini sampai aku
mati.
Aku juga bertemu
dengan teman-teman baru di Discord, suatu sarana komunikasi daring. Aku
bergabung dengan komunitas-komunitas Katolik di internet, dan dengan itu
terbentuk kelekatan-kelekatan baru yang harus aku lepaskan lagi. Akhirnya aku
mulai paham tentang sikap lepas bebas terhadap segala sesuatu dan hanya melekat
pada Allah Tritunggal yang Mahakudus dan Maharahim. Oleh sebab itu, sekarang
aku mulai stabil dalam perjuanganku di dalam kekudusan menantikan kepenuhan
keselamatanku di dalam Kristus Yesus.
Suatu refleksi
terakhir. Aku merasa bahwa relasiku dengan Allah menjadi formal. Sekalipun aku
tahu bahwa sekarang Allah jauh lebih dekat kepadaku daripada sebelumnya, karena
kesadaranku akan rahmat pengudusan dan juga sakramen terutama sakramen Ekaristi.
Namun, perasaanku tidak sepenuhnya sesuai dengan akal budiku. Perasaanku adalah
Allah semakin jauh. Aku tidak lagi memandang Dia sebagai sahabatku yang dekat,
karena itu mustahil. Aku tidak dapat bergaul dengan Allah sebagaimana aku
bergaul dengan manusia. Dia adalah Rajaku dan juga Ibuku yang jauh di atas aku.
Jadi, saat aku mengingat masa pertama aku mengenal Allah secara naif dan secara
intim, aku merasa sedih. Allah tidak dapat berempati denganku di dalam
kodrat-Nya sebagai Allah. Barangkali sebagai manusia Yesus, Kristus dapat
berempati, tapi sampai saat ini aku masih bermasalah dengan kodrat manusiawi,
dan aku terlalu melekat kepada Allah. Sepertinya itu saja yang dapat aku
ceritakan. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada
permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment