Konsep Kebenaran dan Keberadaan
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim, kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Dalam tulisanku yang berjudul “Pendahuluan kepada Filsafat”, telah tertulis bahwa tujuan filsafat adalah mempelajari kenyataan atas dasar pikiran semata. Dalam kata lain, kita berusaha memperoleh kebenaran tentang kenyataan. Untuk menyederhanakan perkara, kebenaran diartikan sebagai kesesuaian antara pikiran dan kenyataan. Dalam arti pikiran semata, bukan berarti pengalaman indrawi dibuang, tapi pikiran diutamakan di atas pengalaman.
Sekarang bagaimana
kita memperoleh kebenaran? Kita tidak tahu, karena konsepnya saja belum ada. Jadi
kita harus membangun konsep kebenaran dan kenyataan dulu. Kenyataan kurang
lebih dapat diartikan sebagai keseluruhan dari yang ada, atau kepenuhan
keberadaan. Pertanyaan berikutnya alamiah, apa itu keberadaan? Pertanyaan ini
kritis karena akan menentukan cara kita mengumpulkan kebenaran. Pada saat yang
sama, jawaban dari pertanyaan ini sudah merupakan suatu kebenaran tersendiri
tentang hakikat kebenaran dan keberadaan. Kebenaran ini pulalah yang menjadi
dasar dari segala kebenaran lain.
Secara konvensional,
keberadaan atau benda yang ada diartikan sebagai segala benda yang dapat
berinteraksi dengan pengalaman manusia. Ini adalah keberadaan relatif, karena
keberadaan diukur berdasarkan relasinya dengan pengalaman manusia. Adapula di
dalam konsep keberadaan relatif ada setidaknya 2 subkonsep, yang didasari pada
pembatasan pengalaman manusia. Ada keberadaan yang didasarkan pada pengalaman
indrawi saja dan ada keberadaan yang didasarkan pada pengalaman pikiran pula. Untuk
tulisan ini aku akan melibatkan pikiran sebagai alat pengukur keberadaan pula.
Dalam konsep ini sekilas sederhana dan mudah, artinya apapun yang tidak dapat diukur
oleh pengalaman sama sekali tidak ada dan tidak usah dipikirkan apalagi
diperbincangkan.
Namun, ada satu konsep
keberadaan lain yang gila dan menentang konvensi filosofis yang ada, yaitu
keberadaan non-relatif atau dapat pula disebut keberadaan mutlak. Keberadaan
mutlak adalah keberadaan benda-benda yang tidak bergantung pada relasi dengan
pengalaman manusia. Konsep ini aku adakan karena ada masalah dengan konsep
keberadaan relatif, yaitu status atau kondisi benda-benda yang di luar
pengalaman. Keberadaan relatif tidak dapat mengakomodasi benda-benda atau hal-hal
yang tidak dapat disentuh oleh pengalaman. Padahal mereka sebenarnya hadir,
tapi hanya di luar pengalaman saja. Maka keberadaan mutlak diadakan untuk
menjawab masalah ini.
Keberadaan relatif dan
keberadaan mutlak sama-sama berpengaruh pada konsep kebenaran. Kebenaran yang
relatif pada pengalaman manusia dapat diukur, karena ada alat pengukurnya yaitu
pengalaman manusia. Kebenaran yang tidak relatif pada pengalaman manusia tidak
dapat diukur, karena keberadaannya tidak bergantung pada alat pengukur apapun. Namun,
kurang lebih ada relasi antara keberadaan relatif dan keberadaan mutlak. Jika
suatu benda ada secara relatif, maka dia juga ada secara mutlak. Namun, benda yang
ada secara mutlak belum tentu ada secara relatif. Jadi ada benda-benda yang
barangkali ada, tapi sungguh dan sama sekali di luar pengalaman kita.
Kita harus memahami
bahwa keberadaan relatif dan keberadaan mutlak bukanlah 2 konsep yang bertentangan,
melainkan 2 konsep yang saling melengkapi. Keberadaan mutlak menjadi konsep
keberadaan yang merupakan perpanjangan dari keberadaan relatif untuk menjangkau
hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh keberadaan relatif. Keberadaan relatif
unggul dalam perkara kepastian, karena ada alat pengukur yang relatif dapat
diandalkan yaitu pengalaman kita. Di sisi lain dia menutup diri dari segala
kemungkinan yang di luar pengalaman dan beresiko menjadi antroposentris. Manusia
menjadi hakim keberadaan padahal manusia hanyalah bagian kecil dari keberadaan.
Keberadaan mutlak unggul dalam perkara objektivitas, karena hakimnya menjadi
keberadaan itu sendiri dan bukan apa kata manusia. Di sisi lain kekurangannya
adalah sangat samar-samar dan gelap bagi manusia, karena hanya terverifikasi
saat bersentuhan dengan pengalaman manusia.
Sekarang aku hendak
membuka pertanyaan baru, karena ada unsur pengalaman yang dilibatkan dalam keberadaan
relatif, maka pertanyaannya adalah pengalaman siapa yang menjadi hakim atas
keberadaan? Sejauh ini kita mengasumsikan antroposentrisme dalam keberadaan relatif.
Namun, bagaimana jika ada suatu pengalaman objektif, atau kesadaran mutlak yang
dapat menyadari segala hal yang ada? Jika ada kesadaran yang didefinisikan seperti
itu, maka keberadaan relatif dan keberadaan mutlak menjadi setara, karena ada
korespondensi satu lawan satu antara setiap keberadaan dengan pengalaman. Dalam
situasi tersebut, jika ternyata ada benda yang di luar kesadaran mutlak, maka
sungguh benda itu tidak ada, karena tidak dapat berpengaruh pada kenyataan yang
lain bagaimanapun juga.
Dalam proses tulisan
ini, aku sempat memikirkan tentang perspektif lain dari keberadaan mutlak, yaitu
tentang keberadaan deklaratif. Jadi keberadaan mutlak ada tanpa harus dapat
dialami oleh manusia. Maka, sedikit saja bukti bahwa ada suatu keberadaan sudah
menunjuk pada adanya keberadaan mutlak. Saat kita menyatakan adanya keberadaan
apapun, itu sudah menjadi tanda pengukuran bahwa keberadaan yang dinyatakan itu
sungguh ada secara mutlak terlepas dari pengalaman kita. Namun, sejatinya keberadaan
itu tetap tidak ditentukan oleh pengalaman kita, tapi kita hanya mengungkapkan
bahwa keberadaan tersebut ternyata benar adanya.
Maka, agaknya kita
harus menerima bahwa kebenaran memiliki 2 dimensi, yaitu kebenaran yang
berdasarkan pengalaman, dan kebenaran yang berdasarkan kemutlakan. Kebenaran
yang berdasarkan pengalaman menggunakan segala macam pembuktian empiris dan mental
untuk membuktikan bahwa ada suatu keberadaan. Kebenaran yang berdasarkan
kemutlakan tidak menggunakan pembuktian, walau sebenarnya tetap ada hanya tidak
sama dengan yang pengalaman, melainkan berdasarkan deklarasi bahwa ada suatu
hal yang ada. Hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut ke dalam konsep
pembuktian dan pengetahuan. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment