Laporan ke Malang 21-25 April 2023
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Sebelum memasuki laporan utama, aku ingin menyatakan dahulu bahwa laporan ini fokus pada deskripsi batin dan bukan pada hal-hal lain. Tempat dan peristiwa dijelaskan sejauh mana berkaitan dengan peristiwa batin. Mengapa seperti ini? Karena aku sendiri masih berproses dengan diri sendiri sehingga aku fokus ke dalam. Aku berdoa kepada Allah bahwa pada waktunya aku dapat fokus ke luar dan mendeskripsikan hal-hal yang ada di luar diriku, bukan sekadar di dalam.
Perjalanan ke Malang
dari tanggal 21 sampai 25 April 2023 menghasilkan banyak buah pikiran dan
kesadaran. Terjadi banyak proses pengenalan diri sendiri di Malang, baik itu
sukacita atau dukacita, tapi semuanya di dalam sukacita Kristus. Pada hari
pertama, aku melihat keindahan taman Sakura di AEON dan aku teringat kisah
tanteku yang menceritakan bagaimana Allah memberikan suatu hadiah baginya. Namun
kali ini aku diingatkan Tuhan, “Hadiah bagimu dan bagi sesamamu.” Lalu, aku
mengalami suatu mistisisme dari pekerja di Shihlin dan di SPBU. Aku tersentuh
karena aku menyadari betapa berharganya setiap jiwa manusia di mata Tuhan,
termasuk diriku.
Awalnya aku takut
karena ada seorang sahabat yang aku memiliki masalah, tapi ternyata sepanjang
seluruh perjalanan aku tidak pernah berinteraksi dengannya. Aku lalu mengingat
suatu peristiwa yang lalu di mana aku melayani seorang sahabat secara sederhana
tapi juga sengsara. Kenangan itu menjadi kenangan yang amat berharga justru
karena ada sengsara. Aku lalu merenungkan apa peranku dalam perjalanan ini,
yaitu sebagai saksi, sebagai murid, sebagai anak yang baik yang lebih banyak
diam mendengarkan dan meresapkan segalanya ke dalam hati. Akhirnya aku mulai
banyak berdoa hening bagi kelancaran perjalanan dan juga bagi orang-orang yang
ikut.
Hari kedua, aku
bereuni dengan sahabat lama yang sudah lama tak aku ajak bicara. Lalu di kosan
temanku, aku tidak tidur melainkan berjaga-jaga bersama Kristus. Aku diajak
Tuhan untuk mendaraskan Rosario dalam batin dan doa-doa lain, hal ini
menimbulkan sukacita. Dalam perjalanan ke Malang, aku duduk di paling belakang.
Di situ aku merasakan keterasingan dan pengucilan, tapi aku mampu berdamai dengan
semua itu. Hari ketiga, aku berekonsiliasi dengan teman sekamarku. Kemudian aku
mengalami hadirat Allah di tengah kehambaran emosional. Aku juga akhirnya
kembali bersukacita saat makan. Pada malam hari, kami mengadakan perjamuan
Paskah Yahudi, tapi tidak ada emosi yang luar biasa, rasanya begitu tenang dan
hambar di dalam diriku sendiri. Namun aku mengenali signifikansi perjamuan ini
oleh iman dan akal budi. Setelah semua itu, aku merasakan berbagai macam emosi,
kebanyakan sedih.
Hari keempat, pada
pagi hari aku bertemu dengan anjing-anjing lucu yang membuat aku sangat
bersukacita. Namun, saat Misa Latin aku sengsara karena harus menahan BAB. Hal
ini malah menambah sukacitaku karena aku dapat berpartisipasi dalam sengsara
Kristus. Pada perjamuan kedua, aku sempat terpengaruhi anggur, tapi akhirnya
sedih juga setelah perjamuan. Hari kelima. Setelah Misa harian, aku bertemu
seorang ibu yang amat baik dan aku pikir itu adalah predestinasi juga. Namun,
saat pergi ke kapel adorasi di sebelah Katedral, aku menangis dan dikuasai
perasaan buruk selama beberapa jam sampai akhirnya aku disembuhkan oleh Allah.
Pada malam hari aku berfilsafat berusaha menelusuri kodrat Allah.
Hari keenam, aku
merasa hambar, dan segera menjadi sedih di akhir. Namun, anehnya melihat ke
belakang aku berpikir itu adalah pengalaman yang baik. Hari ketujuh, aku
gelisah kembali, tapi aku pasrah kepada Allah dan berhasil pulang. Itulah hari
ini. Pada akhirnya aku menerima pewahyuan dari Allah tentang kodrat-Nya dan
tentang misteri Inkarnasi. Dari perjalanan ke Malang aku berhasil berdamai
dengan segala peristiwa hidupku. Aku berdamai dengan luka batin yang akan terus
menemani sampai ke surga. Aku belajar untuk menemukan Allah dalam segala hal.
Aku belajar untuk bersukacita dalam sengsara dan juga dalam kebiasaan hidup. Aku
mengenali bahwa aku berharga dan dicintai sehingga aku harus melakukan hal yang
sama kepada diriku sendiri. Akhirnya aku belajar bahwa setelah segala hal
dilakukan, aku hanya perlu berserah kepada Allah setiap saat di segala tempat.
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan,
sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment