PKGK 1

Pengantar

Teks ini adalah kelanjutan dari Pengantar PKGK. Ada pula beberapa konsep di teks ini akan menjadi lebih jelas jika dibaca dulu Pembuktian Keberadaan Allah. Lalu catatan, ontologi atau ontologis artinya berkaitan dengan keberadaan atau sifat ada. Teks selanjutnya adalah PKGK 2

Terjemahan

Allah, sempurna dan terberkati secara tidak terbatas di dalam diri-Nya sendiri, dalam suatu rencana kebaikan yang murni secara bebas menciptakan manusia untuk berbagi dalam kehidupan terberkati diri-Nya sendiri. Untuk alasan ini, pada setiap tempat dan waktu, Allah mendekat kepada manusia. Dia memanggil manusia untuk mencari Dia, mengenal Dia, dan mengasihi Dia dengan segenap tenaganya. Dia memanggil semua manusia, tercerai dan terbagi oleh dosa, ke dalam kesatuan keluarga-Nya yaitu Gereja. Untuk mencapai hal ini, pada saat kepenuhan waktu telah tiba, Allah mengirimkan Putra-Nya sebagai Penebus dan Juruselamat. Dalam Putra-Nya dan melalui Dia, Allah mengundang manusia untuk menjadi, di dalam Roh Kudus, anak-anak angkat-Nya dan karena itu ahli waris dari hidup-Nya yang terberkati.

Pemahaman

Allah sempurna dalam 2 aspek, aspek ontologis dan aspek moral. Secara ontologis kita sudah tahu bahwa Allah adalah Keberadaan yang tidak dinodai oleh apapun yang lain karena Dia sederhana dan Dia juga Tidak Terbatas karena Kesederhanaan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan kesempurnaan ontologis. Untuk melandaskan kesempurnaan moral Allah, kita harus memahami sedikit tentang kenyataan moral. Moralitas didasarkan pada pengalaman akan kebaikan atau kebahagiaan. Perkaranya adalah Allah adalah Kebaikan itu sendiri atau Kebahagiaan itu sendiri. Dalam satu perspektif, kebaikan diasosiasikan dengan keberadaan tapi ketidakbaikan diasosiasikan dengan ketiadaan. Perspektif itu berkembang menjadi penalaran bahwa kebaikan dapat ditafsirkan sebagai tujuan apapun yang tercapai. Allah adalah Kesempurnaan Keberadaan itu sendiri maka Dia telah mencapai dan mengetahui apapun yang dapat diinginkan. Karena itu Allah haruslah sempurna secara moral dan bebas dari segala noda dosa yaitu pelanggaran terhadap hukum moral. Karena Allah adalah Hukum Moral itu sendiri, maka Dia tidak dapat melanggar diri-Nya sendiri.

Kebebasan Allah dapat dipahami bahwa Allah bertindak sepenuhnya menurut kodrat-Nya sendiri, dan tidak bertindak menurut apapun yang di luar atau selain dari diri-Nya sendiri. Kebebasan Allah bukan berarti Allah akan bertindak semena-mena atau secara tidak logis. Karena dalam suatu sudut pandang, Allah tidak dapat melawan diri-Nya sendiri dan Dia terikat oleh kodrat-Nya sendiri. Ada pula salah satu atribut Ilahi adalah Keharusan. Maka Dia harus ada, dan segala yang melekat pada diri-Nya sendiri sebagai atribut atau kodrat juga harus ada pada-Nya. Maka tetap saja Allah wajib menciptakan manusia dan juga segala tindakan Ilahi yang lainnya.

Allah adalah Kebaikan Sempurna, sehingga apapun yang Dia lakukan haruslah baik pula. Namun, karena kebaikan Ilahi tidak mungkin kembali kepada Allah karena tidak akan berguna bagi Allah, kebaikan itu harus diarahkan kepada apa yang Dia lakukan yaitu ciptaan. Segala hal yang dilakukan oleh Allah adalah semata-mata untuk kebaikan ciptaan. Namun, karena Allah adalah Kebaikan yang Sempurna, maka ciptaan diciptakan untuk mendekat dan menyatu dengan Allah. Untuk itu haruslah ada ciptaan yang dapat menyatu dengan Allah, dan nama dari ciptaan itu adalah manusia.

Manusia sendiri tidak dapat mencapai Allah oleh kekuatannya sendiri, maka manusia haruslah ditopang oleh rahmat, yang artinya pemberian, Allah untuk mencapai Dia. Segala rahmat yang diberikan Allah kepada manusia hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk membawa manusia semakin dekat kepada Allah. Kita dapat berkata bahwa rahmat diberikan setiap saat di setiap tempat karena kalau kita hidup, itu hanya karena rahmat dan kasih Allah yang tak terhingga. Allah dapat dengan kuasa-Nya mencabut nyawa kita kapanpun juga. Namun, karena kasih-Nya yang tak terhingga, kita masih hidup karena Allah memandang bahwa lebih baik kita hidup daripada mati. Dengan rahmat-Nya, manusia diharapkan mencari, mengenal, dan mengasihi Allah dengan segenap kekuatannya, karena artinya adalah menggunakan segenap diri untuk memperoleh Allah.

Kesatuan manusia dengan Allah artinya adalah kesatuan manusia dengan sesamanya. Kesatuan inilah yang disebut Gereja. Pada saat kepenuhan waktu telah tiba, Allah mengirimkan Putra-Nya, Yesus Kristus, sebagai Penebus dan Juruselamat. Saat kita bersekutu dengan Kristus, melalui Kristus dan di dalam Dia, kita menjadi anak-anak angkat Allah dalam Roh Kudus. Disebut “angkat” karena kita tidak sekodrat dengan Allah, sementara Kristus sekodrat dengan Allah dan karena itu adalah Allah. Namun, itu menunjukkan kasih Allah yang begitu besar, bahwa sekalipun kita adalah anak angkat, Dia memberikan kita rahmat seperti kita adalah Anak-Nya sendiri. Dalam makna warisan, artinya kita menerima apa yang dimiliki oleh Allah, yaitu Kebahagiaan-Nya yang terletak pada Pengetahuan Allah terhadap diri-Nya sendiri, maka kita akan mengetahui Allah secara “tatap muka” di akhirat nanti. Istilah “ahli waris” tidak dapat ditafsir bahwa Allah akan mati, karena Allah tidak dapat mati.

Pembagian

Pengetahuan Kodrati

·       Allah Sempurna

·       Allah Bebas

·       Allah menciptakan

·       Allah memberikan rahmat kepada manusia untuk bersatu dengan-Nya

·       Keberadaan entitas Gereja

Pengetahuan Adikodrati

·       Nama Gereja

·       Keberadaan Yesus Kristus dan Roh Kudus, alias keberadaan Tritunggal Mahakudus

·       Peran Yesus Kristus dalam mempersatukan manusia dengan Allah

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas