Pendahuluan kepada Filsafat

Dalam sejarah hidupku, selalu ada satu ilmu yang menarik perhatianku dengan begitu kuat, dan ilmu itu bukan teologi. Teologi memang menarik dan bahkan penting untuk keselamatan jiwa manusia, tapi teologi terlalu keras bagiku, sehingga tidak ada ruang untuk bergerak. Teologi harus berdasar pada ajaran Gereja yang adalah ajaran Allah sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Salah sedikit dan kita akan menjadi bidat. Namun, ada ilmu lain yang dekat dengan teologi tapi tidak sekeras teologi sehingga masih ada ruang bergerak, yaitu filsafat.

Bagiku, filsafat adalah kembaran teologi, tapi di mana teologi sepenuhnya diakarkan pada ajaran Allah yang eksplisit dan langsung, filsafat didasarkan pada pikiran belaka (Poedjawijatna, 2005). Pikiran belaka artinya kita sepenuhnya mengandalkan pikiran manusia, baik itu pikiran orang lain atau pikiran kita sendiri untuk melaksanakan penyelidikan-penyelidikan terhadap kodrat dan inti terdalam kenyataan. Mengapa filsafat adalah kembaran teologi? Karena obyek materianya sama, yaitu Kenyataan. Obyek formanya saja yang berbeda, di mana teologi membahas Kenyataan dari kesaksian Sang Nyata itu sendiri, filsafat mempelajari Kenyataan berdasarkan kesaksian manusia tentang Kenyataan.

Filsafat juga pastinya berbeda dengan segala ilmu lain di luar teologi dan dirinya sendiri (Poedjawijatna, 2005). Karena ilmu yang biasa terbatas pada pengalaman, atau pengindraan, persentuhan kenyataan dengan indra. Sementara filsafat tidak membatasi dirinya sendiri pada pengalaman, melainkan memusatkan diri pada pikiran belaka pula. Apa yang dimaksud dengan pikiran belaka? Pikiran belaka artinya penalaran murni, penggunaan pikiran secara bermetode dan sistematis untuk mencapai kebenaran tentang kenyataan. Jadi ada semacam tiga pilar ilmu, yang dapat diurutkan sebagai berikut, teologi, filsafat, dan ilmu.

Kalau kita memahami filsafat, maka filsafat sendiri akan bersaksi, bahwa dirinya lebih rendah dari teologi dan adalah hamba teologi. Jadi, kenapa aku berkecimpung di filsafat dan bukan di teologi? Karena relasi antara filsafat dan teologi serupa dengan relasi Santo Yohanes Pembaptis dan Kristus. Santo Yohanes mempersiapkan jalan bagi Kristus sebagaimana filsafat mempersiapkan jalan bagi teologi. Karena itu, jika dilaksanakan dengan benar filsafat dapat membentuk manusia sedemikian rupa sehingga menjadi jauh lebih mudah untuk menerima teologi.

Tulisan ini menjadi pendahuluan menuju tulisan-tulisan filsafat yang hendak kubagikan kepada khalayak umum. Dalam tulisan ini saya hendak menjelaskan 2 aspek yang akan menjadi ciri khas dari tulisan-tulisan saya. Pertama, saya telah menerima bahwa saya hanya dapat menciptakan tulisan atas dasar kebaikan tulisan itu sendiri, dan bukan kebaikan gagasan atau kepraktisan gagasan yang akan disampaikan. Artinya, saya tidak menyampaikan gagasan apapun yang sama sekali baru, itu bukan peran saya. Saya juga tidak menyampaikan suatu gagasan yang dapat diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari, karena saya tidak ahli dalam hal tersebut. Artinya, saya menulis hanya untuk menciptakan tulisan yang dapat dinikmati oleh orang banyak atas dasar kualitas tulisan itu sendiri. Jika gagasan yang terkandung dalam tulisan saya akhirnya berguna, maka syukur kepada Allah, tapi jika tidak, maka kebaikan tulisan saya yang mendasar cukuplah.

Aspek kedua adalah saya akan jarang menggunakan referensi karya orang lain. Karena tulisan-tulisan saya pada dasarnya adalah pemikiran saya sendiri. Namun, bukan berarti saya sama sekali tidak menyadur pikiran orang lain, karena dalam pikiran saya filsafat selalu melibatkan pemikiran pribadi dan juga pemikiran orang lain. Perbedaannya adalah di mana fokus kita? Bagi saya, fokusnya adalah pemikiran saya sendiri. Sehingga saya menulis untuk membagikan penalaran saya sendiri tentang berbagai masalah filsafat. Jika saya memang menggunakan pemikiran orang lain, pastilah tidak saya gunakan mentah-mentah tapi akan saya masak dengan pemikiran saya pula sehingga menjadi suatu pemikiran saya sendiri.

Pada akhirnya, adapula saya memohon bantuan Anda yang membaca karya saya ini, yaitu untuk membantu menanggapi tulisan-tulisan saya dengan mengetik komentar di bagian komentar di post blog saya yang saya bagikan ini. Sebab selama ini saya menulis dengan buta tanpa tanggapan atau masukan konstruktif dari orang lain. Memang saya telah banyak menerima tanggapan positif tentang tulisan saya, tapi kali ini saya ingin sekali supaya saya dapat berdiskusi dengan orang-orang tentang isi pemikiran saya. Aku tahu, bahwa ini terkesan egosentris, tapi begitulah aku ini. Terima kasih bagi Anda yang telah menjawab saya, dan juga bagi Anda yang telah membaca karya saya.

Bibliography

Poedjawijatna, I. R. (2005). Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas