Tujuan Manusia dan Tujuan Filsafat

Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Secara umum, kita dapat memahami bahwa manusia memiliki 2 tujuan atau kebaikan dalam seluruh hidupnya. Ada kebaikan mutlak dan kebaikan relatif. Kebaikan mutlak adalah segala kebaikan yang dicapai untuk dirinya sendiri, artinya ini adalah kebaikan akhir yang dinikmati oleh manusia, bukan untuk mencapai suatu kebaikan yang lebih tinggi. Dalam suatu istilah lain, ini adalah makna atau tujuan hidup manusia. Kebaikan relatif, di sisi lain, adalah segala hal yang dilalui atau digunakan manusia untuk mencapai kebaikan mutlak.

Dalam konteks Kristiani, kebaikan mutlak adalah Allah sendiri, Dia yang Ada dan Nyata. Maka kebaikan relatif adalah segala hal yang dicapai dan dilaksanakan oleh manusia untuk mencapai Allah. Secara ketat, karena hanya ada satu Allah, maka segala hal yang ada di dunia ini hadir hanya sebagai kebaikan relatif. Sehingga filsafat pun, bagaimanapun juga adalah kebaikan relatif. Namun, Allah menghendaki kita untuk menikmati Dia sejak hidup di bumi, dalam setiap saat kita bersukacita dan menikmati hidup, kita menikmati secercah cahaya Ilahi, sebelum kita akhirnya menikmati kepenuhan Allah dalam kebahagiaan yang kekal.

Karena itulah konsep kebaikan mutlak dapat dihadirkan di hidup pertama kita tanpa mengatasi Allah sebagai Kebaikan yang Sejati. Di sini filsafat memiliki 2 kebaikan yang selaras dengan kebaikan mutlak dan kebaikan relatif. Pertama, filsafat jelas dapat menjadi alat yang mengantarkan kita kepada Allah dengan memperjelas akal budi kita dan juga memperjelas ajaran Allah sehingga kita dapat semakin dekat kepada Allah. Kedua, filsafat juga dapat menjadi suatu kebaikan mutlak, artinya kita menikmati filsafat sebagai pancaran cahaya Ilahi dan tidak serta merta harus digunakan untuk suatu kebaikan lainnya.

Jadi, di sinilah semua pemikiranku terletak, filsafat sebagai kebaikan mutlak. Namun, maksudku sebagai kebaikan mutlak adalah sebagai berikut. Filsafat memberikan suatu kepuasan batin karena adanya pekerjaan selidik menyelidik akal budi dan menemukan jawaban-jawaban terhadap berbagai masalah manusia. Setiap kali ada jawaban baru, di situ terletak kepuasan batin. Namun, apakah kepuasan ini berhenti di situ? Tidak, maka di sinilah muncul peran filsafat sebagai kebaikan relatif. Artinya, kepuasan batin itu dapat menginspirasi manusia untuk bertindak ke arah yang lebih baik. Kepuasan batin itu barangkali dapat menjadi kesegaran jiwa sehingga manusia ingin mengubah kepuasan itu menjadi kekuatan untuk melakukan suatu kebaikan lain dan akhirnya semakin mendekat kepada Allah.

Maka, aku berharap bahwa tulisan-tulisanku jika tidak serta merta menjadi panduan praktis untuk mencapai Allah, dapat membantu kita mengenal Allah semakin baik karena pada akhirnya filsafat mempelajari Allah pula bersama teologi. Karena filsafatku memiliki satu tujuan akhir, yaitu teologi, atau Allah sendiri. Semoga tulisanku dapat mendatangkan kebaikan bagi manusia, apapun kebaikannya. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas