Undangan Komunitas Filsafat Teologi
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Aku mempersembahkan tulisan ini bagi kemuliaan Allah dan bagi kebaikan kamu yang membaca tulisan ini. Aku memiliki suatu gagasan yang dapat menjadi kenyataan. Kamu sudah beberapa kali membaca tulisanku dan aku mendengar beberapa dari antara kamu memuji tulisanku. Oleh karena itu aku mengucap syukur kepada Allah yang menyelenggarakan semua ini dan terima kasih kepadamu yang telah mengapresiasi aku dan karya-karyaku.
Sedikit latar
belakang. Aku menulis awalnya sebagai kebutuhan untuk mengekspresikan diriku
dan untuk berpikir. Lalu tulisanku memperoleh makna yang baru, sebagai
peneguhan iman dan hidup saudara-saudariku dalam Kristus dan dalam kemanusiaan.
Namun pada saat yang sama aku membutuhkan sahabat dan teman-teman untuk
berdialog denganku tentang apa yang telah aku tulis. Jadi, aku memang
mengapresiasi segala penghargaan dan pujian yang telah diberikan kepada
karya-karyaku, tapi aku juga membutuhkan suatu dialog yang lebih mendalam atas
dasar karya-karyaku sehingga dapat dihasilkan suatu karya yang lebih baik lagi.
Latar belakang kedua. Aku
menyadari bahwa tulisan-tulisanku tidak berguna hanya dalam membagikan
pengalaman iman, tapi juga dalam membagikan pengetahuan yang dibutuhkan untuk
kesehatan rohani, maksudku adalah Ajaran Allah atau Sabda Allah, dalam kata
lain Kristus sendiri. Karena itu aku tergerak dan melihat suatu gagasan yang
berisi suatu komunitas yang intinya adalah tentang Kristus atau Sabda Allah
tapi bukan hanya secara teologis tapi juga secara filosofis, dalam kata lain komprehensif
berbicara tentang Kristus, tentunya dalam batasan Sabda-Nya yang diajarkan oleh
Gereja Katolik yang Kudus.
Didasarkan pada
talentaku untuk memahami, menulis, dan mengajar tentang hal-hal ini dan
kebutuhan akan teman-teman untuk berbagi pikiran dan saling menumbuhkan
pemahaman iman maka aku mencetuskan gagasan untuk membentuk suatu komunitas
filosofis-teologis dengan satu tujuan, saling berbagi pikiran tentang filsafat
dan teologi sehingga tercipta kesatuan hati dan pikiran dalam Kristus. Aku
tahu, aku sudah tergabung dalam beberapa komunitas yang hendak memperdalam pemahaman
teologis, jadi apa perbedaan antara komunitas yang aku gagas dengan
komunitas-komunitas lainnya?
Perbedaan utama adalah
filsafat, bukan dalam arti filosofi komunitas, tapi keberadaan filsafat itu
sendiri. Dalam komunitas-komunitas yang aku tergabung, aku melihat bahwa
filsafat tidak dipersatukan dengan teologi untuk membentuk suatu pemahaman
kenyataan yang komprehensif. Maka aku hendak menawarkan suatu perbedaan yang tidak
aku temukan, yaitu filsafat. Mengapa filsafat penting? Filsafat penting karena
menjadi dasar dari teologi dan sebenarnya adalah teologi pula, tapi bersifat
kodrati, artinya teologi yang dipelajari dari sudut pandang kodrati atau
perspektif manusia. Setidaknya begitulah filsafat yang benar.
Jika teologi adalah
pembelajaran tentang Allah berdasarkan wahyu-Nya yang adikodrati, filsafat
adalah pembelajaran tentang Allah berdasarkan wahyu-Nya yang kodrati. Apakah
perbedaan antara wahyu adikodrati dan wahyu kodrati? Wahyu adikodrati adalah segala
pengetahuan tentang Allah yang berasal dari Allah secara langsung. Sementara
wahyu kodrati adalah segala pengetahuan tentang Allah yang berasal dari Allah
melalui alam ciptaan. Mengapa kita membutuhkan wahyu kodrati di samping wahyu
adikodrati? Kalau wahyu adikodrati saja yang dibutuhkan, maka filsafat menjadi
tidak berguna dan ajaran Gereja menjadi cukup. Kenyataannya tidak seperti itu.
Wahyu kodrati justru
dibutuhkan sebelum wahyu adikodrati karena kita manusia memahami segala hal
dari perspektif kodrati atau manusiawi. Wahyu kodrati bertugas untuk
menerjemahkan wahyu adikodrati menjadi suatu bentuk yang dapat lebih mudah
dipahami oleh manusia. Setiap dokumen dan ajaran Gereja, kalau tidak
diterjemahkan melalui filsafat, tidak mungkin dapat dipahami. Karena dari
keberadaan Gereja itu sendiri ada suatu pendasaran filosofis yang harus dapat
dipahami supaya kita sungguh memahami keabsahan kewenangan Gereja dalam mengajar.
Begitu pula untuk setiap ajaran Gereja dan bahkan keberadaan Allah sendiri
didahului oleh filsafat.
Di dalam filsafat juga
terkandung cara berpikir yang penting untuk memahami segala ajaran Allah. Jika ada
cara berpikir teologis, malah itu diperoleh dari filsafat. Pada akhirnya,
filsafat bukan suatu tandingan dari teologi, tapi suatu bagian yang tak
terpisahkan dari teologi dan malah adalah satu kesatuan dengan teologi. Tanpa filsafat,
teologi kehilangan mempelainya sehingga kekurangan suatu kuasa. Filsafat tanpa
teologi juga sama, hanya menjadi suatu celotehan yang tidak berguna. Segala
filsafat harus diarahkan kepada Allah (teologi) dan segala teologi harus berakar
pada filsafat yang benar yaitu Kristus sendiri.
Karena itu, jika kamu
tertarik dengan gagasan komunitas ini dan ingin bergabung atau bekerja sama
denganku, silakan menghubungi aku secara pribadi. Aku tidak akan mencantumkan
kontakku karena aku membagikan tulisan ini secara pribadi sehingga kamu dapat segera
menghubungi aku. Kepada kamu yang menjawab aku, terima kasih, tapi jika kamu
tidak menjawab aku, aku tetap berterima kasih karena telah membaca tulisan ini.
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan,
sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.
Comments
Post a Comment