Menyangkal Diri dan Percaya kepada Allah
Dalam nama Yesus yang Mahakudus dan Maharahim. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Aku membuat tulisan ini karena aslinya setiap paket tulisan berisi 3 tulisan dan harusnya 1 paket entah sepenuhnya berisi PKGK atau tulisan lainnya. Setidaknya itu adalah idealismeku yang barangkali agak aneh. Karena itu, dengan adanya hutang 1 PKGK, aku harus membuat 2 tulisan di luar PKGK supaya seimbang antara PKGK dan tulisan yang bukan PKGK. Berhubungan Kristus telah menerangi akal budiku terkait suatu materi yang sedang terjadi dalam hidupku, aku pikir baiklah kalau aku menulis materi itu.
Dalam Injil Matius 16:24,
Tuhan kita bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Bagian yang paling menarik perhatianku adalah
“menyangkal diri”, dan ini telah mengisi pikiranku untuk beberapa lama. Sebab
aku pikir, aku belum mampu menyangkal diri sepenuhnya atau bahkan sama sekali. Alasannya
adalah selama ini Allah menjadi pemuasan egoku. Maka, aku pun tertahan pada
hidup rohani yang nyaman-nyaman saja. Namun, aku pikir barangkali itu juga
adalah ilusi, dan kenyataannya aku sudah pernah menyangkal diri. Sesungguhnya
aku tidak begitu tahu.
Terlepas dari ketidaktahuanku,
ada satu kasus nyata di mana aku sungguh dapat belajar tentang penyangkalan
diri. Kasus itu adalah kuliah. Aku telah jatuh dan gagal di semester 1 dan
sekarang semester 2 pun juga aku lalaikan. Ada pula aku terhimpit antara 2 kemungkinan,
bahwa aku sepenuhnya bersalah atau aku tidak sepenuhnya bersalah atas kegagalan
itu. Namun itu tidak begitu relevan. Hal yang penting adalah saat ini aku
seperti diuji oleh Allah untuk menyangkal diri dan melaksanakan hal yang benar.
Sebab aku sekarang sangat ingin untuk meninggalkan kuliah dan mengejar
filsafat, atau bahkan imamat, atau apapun itu yang dapat memuaskan keinginanku.
Secara hati nurani aku
tahu bahwa melanjutkan kuliah yang saat ini adalah hal yang benar. Sebab secara
intelektual aku tidak tahu apa-apa dan malah terkesan pada akal budiku bahwa
mengejar filsafat jauh lebih baik. Karena filsafat jauh lebih sesuai dengan ketertarikan
dan keinginanku. Namun, di situ aku tahu kalau aku pindah ke filsafat, aku
hanya akan mengecewakan banyak orang dan aku hanya mengejar egoismeku sendiri. Sehingga
aku berpikir bahwa pindah ke jurusan filsafat adalah tindakan yang salah dan
aku harus bertekun dalam jurusan jurnalistik yang saat ini aku dalami.
Di situ egoku yang
jahat kembali bermain, dia memasukkan ketakutan bahwa aku hanya akan menderita
jika aku menyangkal diriku. Padahal, aku ini orang yang beriman, seharusnya aku
yakin dan percaya bahwa Allah akan menyertaiku sepanjang prosesku. Maka dalam
hal ini aku harus berdoa supaya Allah menguatkan aku untuk mengalahkan diriku
sendiri dan segala ketakutan yang palsu. Namun, ada kemungkinan yang buruk,
bahwa egoku akan memutuskan untuk menutup diri bahkan dari Allah dan berputus
asa sepenuhnya, alias merengek seperti anak kecil. Lalu di situ akan terjadi
suatu doa yang lain, doa naluriah. Doa yang aku daraskan dalam kondisi
tergelap, isinya hanya permintaan tolong kepada Allah.
Proses ego yang menjerumuskan
diri ke dalam kegelapan juga adalah ancaman kepada Allah. Kenapa kepada Allah?
Karena biasanya egoisme ini tidak dinyatakan secara blak-blakan, jelas, dia
sudah menutup diri dan mengasingkan diri dari orang lain. Namun, egoisme ini
adalah ancaman kepada Allah, jika Dia tidak sudi mengabulkan keinginanku, maka
aku akan binasa. Sesungguhnya ini adalah tindakan batin yang amat jahat karena
berusaha memanipulasi Allah dengan mengancam Allah. Seolah-olah kita menyandera
diri kita sendiri. Namun harapanku yang terbesar adalah Allah mendengarkan doa yang
paling dalam dari tindakan jahat itu, bahwa aku hanya meminta Dia untuk
menyelamatkan aku.
Pada akhirnya, aku
harus menyangkal diri. Karena “diri” atau ego secara dominan adalah emosi, maka
aku harus hidup bebas dari emosi. Bukannya berarti menghilangkan emosi, tapi
berkuasa atas dia. Dalam hal ini aku sangat sulit melakukannya. Aku berpikir
dan merasa bahwa aku harus berserah kepada penyelenggaraan Ilahi dan berdamai
dengan proses sengsara yang memang harus aku ikuti. Sebab aku tahu dalam jalan
apapun akan ada saja yang menghantam aku dengan perkataan dan perasaan mereka.
Selalu akan ada beban, itu tidak dapat dilarikan diri. Namun, bagaimana aku
dapat memuliakan Allah, itu saja yang penting. Kemuliaan kepada Bapa, dan
Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang
segala abad, amin.
Comments
Post a Comment