Tulisan Bahasa Indonesia Pertama

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin. Sekali peristiwa, aku mendapat permintaan dari seorang saudara untuk menulis hal-hal yang lebih aplikatif berkaitan dengan kehidupan dibandingkan dengan hal-hal yang lebih teoritis sebagaimana aku telah menuliskannya selama ini. Dari hal itu aku juga memperoleh ide untuk kembali menulis dalam 2 bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hal ini tentu akan memberatkan diriku dan juga mungkin saja memusingkan para pembaca, apalagi yang tidak dapat berbahasa Indonesia. Rencanaku adalah menulis semuanya dalam 2 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, sehingga semua pembaca dapat menikmati tulisanku bersama-sama.

Terkait hal-hal aplikatif, aku jujur kurang paham apa yang dapat atau harus aku tuliskan. Apakah itu renungan Kitab Suci, komentar atas kejadian-kejadian yang ada di lingkungan kita, atau pemahamanku tentang cara hidup yang baik. Karena aku sendiri memiliki pemahaman yang sangat sederhana dan minim tentang praktik hidup. Aku menghargai permintaan saudaraku itu yang memintaku untuk menulis hal-hal yang lebih praktis, tapi aku belum dapat mencapai tingkat pemahaman yang seberguna itu. Pemahamanku masih berada pada tahap teori yang lebih rendah dan kurang berguna. Maka aku hanya dapat menulis teori-teori menurut pemahamanku sambil menantikan pemahaman yang lebih praktis dari perkembangan diriku sendiri dan juga oleh rahmat Allah.

Barangkali aku hendak menuliskan perasaanku saat ini karena tulisan-tulisan ini pada dasarnya adalah sarana aku menyatakan perasaanku dan pikiranku kepada khalayak umum. Aku merasakan sedikit kelelahan untuk menulis sebenarnya, barangkali karena aku menghabiskan energiku untuk menulis begitu banyak hal dalam kurun waktu 3 minggu ini. Namun, hal yang lebih menyedihkan adalah aku merasa tulisan sebanyak itu kurang berguna. Tentu kenyataannya tidak seperti itu, anggaplah aku sedang berlatih menulis. Namun, perasaan-perasaan kurang berguna dan kurang berharga sering menghantui dan menyerang aku. Meski begitu, aku tetap berusaha mengandalkan Tuhan untuk melawan segala perasaan negatif, karena Dia sendiri yang sering mengingatkan aku dalam berbagai cara bahwa pikiran-pikiran negatifku seringkali salah.

Saat ini aku menerima suatu inspirasi dari Allah tentang mengapa aku senang menulis hal-hal yang teoritis. Pertama, teori adalah landasan praktik. Namun, hal yang lebih penting adalah karena aku senang menulis teori, teori adalah suatu hal yang menyenangkan jiwaku dan memuaskan akal budiku. Sebab, marilah kita ingat bahwa surga pada hakikatnya adalah pengetahuan yang amat intim akan Allah. Karena itulah hakikat surga disebut dalam Tradisi kita, “Penglihatan Beatifis”, atau secara harafiah Penglihatan yang Baik atau Terberkati. Jadi teori-teori yang tinggi ini sebenarnya adalah pencicipan akan surga, walau pastinya surga lebih dari sekadar menghafal teori atau bahkan kebijaksanaan teoritis di bumi ini.

Aku memang ingin menulis hal-hal yang lebih berguna bagi saudara-saudaraku. Hal-hal yang lebih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tapi aku tidak tahu apa yang dapat dituliskan. Pikiranku begitu melekat pada teologi dan filsafat teoritis sehingga sepertinya sudah mulai menjauh dari hal-hal yang praktis. Aku mengakui bahwa ini hal yang berbahaya bagi diriku sendiri, maka aku memohon kepada Allah untuk memberikan aku rahmat sehingga pada waktunya aku dapat menulis hal-hal yang lebih berguna bagi para saudaraku. Sebab pada akhirnya aku menulis untuk 2 tujuan, yaitu kebaikan dan kesenangan diriku sendiri, tapi juga untuk kebaikan dan sukacita sesamaku manusia. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, amin.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas