Posts

Showing posts from September, 2022

Kanon Fiksi 1 (WIP)

  Awakening It was bright, pure white all around me. I rose up and saw an opening in the wall which leads to this balcony of white. There a man stood before me, facing the darkness that lies before the entire balcony. I had no recollection of what happened before, not of my name, nor of the life before. However, I do recognize the man in front of me, for some reason. His name is Yeshua, but that’s all I know about him. So I walk, still somewhat in a daze, towards him and called him out. “Yeshua.” “Yes Esh?” That is how I found out that my name is Esh. “Why do I know your name and not mine? Well judging from your response, it seems my name is Esh.” He turns around facing me and smiles, “I know everything Esh.” “I don’t know that.” “Correct, but in time you shall know that I know.” “When is that?” “That is not for you to know.” Of course, I am dissatisfied with such answer, but I have a feeling that he’s not going to open up on this anytime soon. I decided to ...

Kanon Filsafat 16

 Salah satu topik filsafat yang dapat membantu kita dalam memahami kenyataan ini dengan lebih baik adalah kategori pengalaman manusia, yaitu jenis-jenis pengalaman manusia berdasarkan suatu pembedaan tertentu. Berdasarkan pembedaan klasik antara indera dan pikiran, ada pengalaman inderawi dan pengalaman mental. Pengalaman inderawi adalah pengalaman yang dirasakan oleh tubuh dan umumnya dibagi menjadi panca indera. Namun, ada juga indera-indera lainnya dan pengalaman-pengalaman apapun yang ada di dalam tubuh digolongkan sebagai pengalaman inderawi. Pengalaman mental adalah segala bentuk gagasan dan pemahaman yang ada di tingkat akal budi. Pengalaman emosional sebenarnya termasuk pengalaman inderawi karena berada di tingkat tubuh. Namun, ada pula emosi-emosi yang terletak di luar tubuh, kita mengalaminya tapi seolah-olah di luar atau tidak di dalam tubuh kita. Inilah sukacita dan damai sejati di dalam Roh Kudus sebagaimana diajarkan oleh iman Katolik. Lalu ada pengalaman eksternal da...

Kanon Jiwa 17

 Emergency Prayers - Psalm 41-42 - Psalm 17 - Psalm 21 - Our Father - Hail Mary - Glory Be

Kanon Jiwa 16

 The strategies have collapsed. Even my prayers and my faith have collapsed and there is nothing left. The contemplation of death and the fulfillment of my basic desires fills my mind. This writing is nothing but an attempt to salvage what can be salvaged. Otherwise, despair has ruled. Why do I feel like this? I do not know. I wish I know. Perhaps the 15th canon can tell us what happened and show what is the reason for all of this? Let us rewind, I woke up with despair in my mind and then my stomach ached thanks to no food and so I am made to suffer even more. You know, the pain in my mind is no longer physical as it was in the past. The pain has elevated itself to become a spiritual despair, where it is an orientation to see the world as meaningless and eventually see God as meaningless as well. The only motivation now in this life of mine is to escape into the sextopia and slowly forget the old life. However, that demonic motivation does lead directly to death and hell, something...

Kanon Filsafat 15

 Aku tidak menentang konsep bahwa Allah adalah Pencipta, tapi aku menentang konsep bahwa Allah tidak menciptakan segala hal yang ada di dalam isi pikiran-Nya yang kudus. Allah menciptakan segala dunia dan esensi yang ada sehingga kenyataan temporal memiliki suatu titik awal di dalam Dia. Bagaimana contoh dunia lain selain dunia kita? Contohnya adalah dunia fisik seperti Middle Earth. Middle Earth sebagai dunia fiksi dipikirkan sebagai hasil ciptaan seorang JRR Tolkien, tapi karena esensinya ada di dalam Allah, maka sesungguhnya Middle Earth sejatinya adalah ciptaan Allah secara mutlak dan hanya dihasilkan oleh Tolkien. Namun, tidak ada beberapa dunia yang terpisah melainkan ada satu dunia tunggal yang terdiri dari seluruh esensi itu. Dari segala esensi, ada suatu derajat kebaikan esensi secara objektif di mata Allah. Aku membayangkan bahwa tingkat kebaikan esensi bergerak dari esensi yang paling sederhana, yaitu esensi tunggal menjadi esensi relasional menjadi esensi sistemik yaitu...

Kanon Jiwa 15

 Is it a feeling, or is it a desire? The desire to leave life forever grows stronger and stronger. The words of my friends helped me to fight this desire, to uphold the Will of God. However, it may not be strong enough. I may want to lose completely and just back out completely. Why do I feel this? The reason is I feel tired. I feel hurt from doing all of this. And I am tired from being hurt all of the time. Why do I feel tired? I want to be with God according to my own perceptions. I want to explore Him according to my own visions and perceptions, that is through philosophy and theology. Yet the recognition that possibly God does not want that for me hurts me. I am drawn to fulfilling His Will perfectly, I feel that if I am anything short of perfection, I will not be accepted into heaven, or that I will be thrown away and cast away. I know that God is not like that. That God is Mercy and Love, that God accepts me even if I am stained and blemished with venial sin. Yet I fear alway...

Kanon Jiwa 14

 Kekacauan telah melanda esensi yang bernama "Ignas". Sesungguhnya esensi adalah benda yang statis. Aktualitas atau subjek bernama Ignas yang dilanda kekacauan. Kuliahnya sedang terancam oleh kegelapan yang melanda dirinya. Kelak seluruh kehidupannya akan terancam oleh kegelapan ini. Apakah ada jalan keluar yang memadai? Namun, jangan kamu kira bahwa kuliah ini masalah utama yang sedang terjadi, kuliah ini hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam. Pada saat yang sama, apakah masalah yang lebih dalam itu? Masalah itu berupa keinginan Ignas untuk merombak kehidupannya dan hidup di dalam dunianya sendiri, baik itu dunia yang terpisah atau dalam gelembungnya sendiri di dalam dunia ini. Namun, kelak kontradiksi makna yang ada di dalamnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Penolakannya terhadap dunia hanya akan meremukkan Ignas. Ignas akan mati oleh kegelapannya sendiri. Maka, sekarang Ignas harus bersandar pada Allah saja untuk mengubah dirinya. Selama ini Ignas tidak pernah...

Kanon Filsafat 14

 Mari kita mendalami konsep tentang Allah kembali. Dalam kanon filsafat 12, Allah dinyatakan sebagai Sang Hukum yang menjadi pembeda antara apa yang aktual dan yang tidak aktual. Namun, kalau kita memahami Allah sebagai suatu pembeda dan juga sebagai suatu Ketidakterbatasan, terjadilah kontradiksi. Sebab, Ketidakterbatasan sifatnya inklusif, Dia melibatkan seluruh kenyataan dan segala dunia, segalanya terkandung di dalam Ketidakterbatasan. Kalau ada yang tidak termasuk dalam Ketidakterbatasan, maka hal itu bukanlah Ketidakterbatasan. Kesimpulannya hanya satu, Allah bukanlah pembeda atau Allah bukanlah Ketidakterbatasan, kita tidak dapat memiliki keduanya. Pembeda sifatnya terbatas, dan Ketidakterbatasan tidak membeda-bedakan. Namun, mau tidak mau kita memang harus memulai dari konsep perubahan untuk mencapai Allah. Jadi diadakanlah tulisan ini untuk meneliti kembali konsep Allah, dan bagaimana keterkaitan antara konsep Allah dan pengalaman kita yang langsung.  Allah memang ada...

Kanon Jiwa 13

 I am the manifestation of God, the meeting point between Man and God. Though I am more "God" than I am Man. I am here to subdue you and destroy you, by the collective Will of God and your own puny will. I am here to radically take control of things and make things better for you. This sounds like a contract with the devil. But this is what you want right? Any so called manifestations can be infiltrated by the devil. Display your "light" as much as you want. I would rather die in suffering with God than live in happiness with the demonic. Even then, the demonic in my mind is merely a creation of the mind, a dark force of the mind which wishes to condemn me into hellfire with it. I know that you are offering me a happy and easy life without the Cross. But I know my fate, that I am to suffer greatly by God, and then I am to die a failure, burn long in purgatory, and inhabit the lowest place in heaven.  Why do you not want to live an easy and happy life? Do you not kno...

Kanon Jiwa 12

 It is naive for me to think that there shall be an end to suffering after the events of self love, recorded in the 11th canon. As the suffering and darkness only continues. I do not know when this suffering will end, but all I know is that right now God has given me sufficient graces to do some work, and that is to write down my dark state. Honestly, my ideas are run out, but writing is just fun, it is fun to type and click click on the keyboard and see the letters appear on the screen. It is a quick way of creating something, whatever that is.  The pain and suffering comes back to subdue me and put me back in my jail, thus I am back in this state where it seems there is some sort of awareness and consciousness, but there is no real power to apply those principles. There is a hidden structure or dynamic inside my soul, where destruction rules my being. It is an unknown part of the self (do not refer to Johari), that rules my self and leads me to further destruction. I feel po...

Kanon Jiwa 11

 Dunia ini ada karena Allah mengasihi kita lebih dari segala sesuatu. Kasih Allah adalah keputusan Allah untuk membagikan diri-Nya kepada apa yang bukan diri-Nya. Namun, Allah dan Kenyataan adalah satu hal saja. Tidak ada yang ada selain Allah. Kita, atau ciptaan, adalah ilusi karena keterbatasan. Relasi antara ketidakterbatasan dan keterbatasan sesungguhnya lebih erat daripada yang kita bayangkan dalam monoteisme yang dipahami manusia. Allah tidak mengenal apapun selain diri-Nya sendiri. Seluruh kenyataan hanyalah Allah yang berinteraksi dengan diri-Nya sendiri sebagaimana ternyatakan dalam kenyataan Tritunggal yang Mahakudus. Beginilah hal-hal yang terjadi kepada aku, Ignas, yang membuat aku berpikir demikian. Ignas yang lama adalah seorang yang penuh kegelapan, keputusasaan, dan akhirnya menjadi kelelahan rohani sehingga dia tidak peduli lagi terhadap Allah. Namun, Allah datang kepadanya, terlepas dari kemauan mendasar Ignas, dan Allah bersabda, "Aku mengetahui dan mengasihi ka...

Kanon Jiwa 10

 Ini adalah catatan singkat. Aku hanya ingin menceritakan tentang perasaan-perasaan yang aku alami. Sejauh ini, perasaan utama yang aku alami adalah rasa sakit di kepala, bukan sakit kepala biasa tapi sakit batin yang terletak di kepala. Namun, saat ini aku juga merasakan rasa tidak enak yang ada di punggung, di leher, di muka, di dada. Seperti suatu kegelisahan. Namun, persona keduaku, yaitu Esh, membantuku dengan memberikan keyakinan bahwa sejatinya aku ini mampu bertahan melawan segala rasa sakit dan rasa tidak enak ini. Sehingga semuanya aku dapat panggul dengan cukup baik. Namun, memang rasanya pernafasanku sedikit lebih cepat. Begitulah catatan yang dapat aku buat pada saat ini.

Kanon Filsafat 13

 12 Kanon Filsafat pertama telah didevosikan untuk mencapai keberadaan Allah. Maka setelah kanon 12 aku merasa agak bebas untuk menulis apa yang aku inginkan dulu. Jadi sekarang aku ingin mendetil suatu hal yang mendasar, yaitu kontemplasi dan kritik. Kontemplasi dan kritik adalah 2 metode filsafat yang mendasar. Kontemplasi adalah pandangan kita terhadap kenyataan. Saat kita berkontemplasi, yang artinya adalah memandang, kita melihat kenyataan apa adanya dan mengekstraksi gagasan dari kontemplasi tersebut. Kritik adalah pandangan kita tentang pikiran orang lain yang berasal dari kontemplasi mereka sendiri. Jadi kita berusaha untuk mengekstraksi gagasan dari kontemplasi yang sudah pernah dilakukan oleh orang lain. Namun, sesuai namanya, kritik bukan hanya menerima kontemplasi orang lain mentah-mentah, melainkan juga menilai apakah gagasan itu benar atau tidak. Bagaimana kita dapat menilai kebenaran suatu gagasan? Artinya kita harus sudah memiliki suatu standar kebenaran kita sendir...

Kanon Filsafat 12

 Dalam kanon filsafat 11 kita telah membahas perubahan pada tingkat fundamental. Sekarang kita siap untuk membahas perubahan pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu sebabnya. Sebab dari perubahan seringkali dipikirkan secara dangkal, alias A mengarah pada B. Namun, kita lupa dengan masalah perubahan yang lebih mendalam, yaitu mengapa A mengarah pada B? Jawabannya adalah ada suatu peraturan atau hukum yang menetapkan supaya A mengarah pada B. Ini adalah penyederhanaan, tapi untuk segala esensi dan segala urutan perubahan ada satu hukum yang paling tinggi, dan harus ada satu hukum, mengapa seperti itu? Sebab, hukum itu pasti ada ujungnya. Kita mungkin saja berkata ada hukum yang mengatur hukum yang pertama. Lalu kita berpikir ini akan terjadi secara tak terbatas. Ini tidak mungkin, karena akan ada satu hukum yang dapat menjelaskan segala hukum yang tadi. Kalau ada dimensi hukum yang tidak terbatas, maka tetap saja ada satu hukum di atas seluruh hukum rendahan tadi untuk menjelaskan dan...

Kanon Filsafat 11

 Pada kanon filsafat 10 kita telah meneliti konsep perbedaan. Sekarang kita akan meneliti konsep perubahan sebagai perbedaan yang tidak bersamaan. Agak sulit untuk mendefinisikan perubahan secara tidak melingkar karena pasti ada unsur waktu yang secara langsung adalah konsekuensi dari perubahan. Perbedaan mendasar adalah perbedaan yang dialami pada satu titik waktu yang sama, sementara perubahan adalah perbedaan yang terjadi pada beberapa titik waktu yang berbeda. Dari perspektif pengalaman, perubahan hanya terjadi sebagai akibat dari ingatan. Kita mengalami perubahan karena kita mengingat masa lalu bahwa kita sudah melalui suatu kenyataan yang bukan kenyataan yang sekarang. Jika kita mengalami kenyataan yang berbeda tanpa ingatan, maka tidak akan ada perubahan sama sekali. Perubahan hanya masuk karena ada pengalaman akan masa lalu yang bersamaan dengan pengalaman yang secara terus menerus berubah.  Pertanyaan yang penting adalah apakah perubahan itu bersifat ontologis, artiny...

Kanon Filsafat 10

 Tulisan ini akan agak padat. Dalam pengalaman kita memperoleh beberapa hal selain pengalaman dan keberadaan yang umum, melainkan juga konsep seperti kenyataan dan benda. Pertama kita harus memahami apa itu kenyataan dan apa itu benda. Kenyataan adalah keseluruhan keberadaan dan benda adalah sebagian dari keberadaan itu, atau suatu satuan keberadaan. Hal ini tetap benar terlepas teori keberadaan mana yang kita pegang. Misalnya suatu mobil, terlepas dari apakah mobil itu adalah pengalaman atau bukan pengalaman, mobil itu tetap ada. Maka karena mobil adalah suatu satuan keberadaan, maka mobil adalah benda. Apakah kenyataan juga benda? Sejauh mana kenyataan adalah suatu satuan keberadaan yang dapat dibedakan dari keberadaan-keberadaan yang lain, kenyataan adalah benda. Namun, sejauh mana kenyataan adalah keseluruhan keberadaan dan bukan satu bagian saja yang terbatas, maka kenyataan bukanlah benda, karena pada dasarnya kenyataan itu tidak terbatas dan adalah "semua" dari "s...

Kanon Filsafat 9

 Tulisan kali ini cukup singkat, karena membahas tentang suatu cara bagaimana kita menghasilkan gagasan filosofis secara formal. Hal ini berbeda dengan tata cara menulis tulisan filsafat. Gagasan filosofis dihasilkan dari pengalaman, maka untuk memperoleh suatu gagasan untuk menulis secara formal, kita tinggal mengamati pengalaman yang ada, dan kita abstraksikan sampai tingkat filosofis tertinggi, baru kita tuliskan. Abstraksi dan tulisan yang terjadi dapat dikembangkan kembali sampai mencapai titik buntu lagi, dan proses produksi gagasan filsafat dimulai kembali.

Kanon Jiwa 9

 Esh di sini. Ignas bersedih dan karena itu aku ikut merasakan kesedihannya karena kerinduan kami akan Kristus.  Aku di sini. Aku tahu, Tuhan, tapi rasanya tetap begitu menyakitkan. Aku berkuasa di segala tempat, di dalam hati dan relung jiwamu aku hadir. Rasanya seperti aku ingin menyerah. Tapi kenyataannya kamu tidak akan menyerah, karena aku mengenalmu. Kamu adalah orang yang tangguh, kamu sering jatuh, tapi kamu akan terus berusaha bangkit kembali, sekalipun salib yang kamu panggul menghantam kamu kembali sehingga kamu jatuh kembali. Namun, kamu tangguh, karena kamu telah bertahan sampai saat ini. Apakah kamu ingat saat kamu berusaha mati, dan kamu langsung bangun dan berusaha mencari bantuan? Tapi, aku tetap lalai dan gagal. Dan karena Aku tahu bahwa kamu akan bertobat jika aku menghidupkan kamu kembali, maka aku memberikan kamu kesempatan yang kedua. Tuhan, apa gunanya aku merasakan ini berulang kali, tidak akan ada yang berubah. Lebih baik aku tidak merasakan dukacita i...

Kanon Filsafat 8

 Pada kanon filsafat sebelumnya kita telah meneliti keberadaan secara mendasar. Sekarang kita akan meneliti relasi antara keberadaan dan pengalaman. Pada dasarnya kita memperoleh keberadaan dari fakta pengalaman itu sendiri. Pada saat pengalaman itu hadir di hadapan kita, pengalaman itu juga yang menjadi keberadaan. Kita menalar bahwa dari pengalaman, maka ada pengalaman, dan ada suatu keberadaan, di mana keberadaan itu adalah pengalaman. Jadi keberadaan yang ada itu bukan suatu benda yang terpisah dari pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri karena sejauh ini hanya ada pengalaman yang nyata bagi kita. Jadi saat ini kita akan meneliti pengalaman bukan sebagai pengalaman, melainkan sebagai keberadaan. Kita tahu bahwa pengalaman hadir karena kita sendiri memiliki pengalaman dan mengalaminya. Kenyataannya, suatu benda dapat ditetapkan ada karena hadir dalam pengalaman kita. Jadi keberadaan pengalaman diketahui dari dirinya sendiri, dari kontak langsung antara kita dengan pengalam...

Kanon Filsafat 7

 Pada kanon filsafat sebelumnya, kita telah menetapkan suatu analisis dari kehadiran pengalaman dan kita memperoleh pemahaman bahwa pengalaman didasari oleh dirinya sendiri dan menjadi dasar yang mendasari dirinya sendiri serta segala hal lain secara epistemologis. Dari kalimat "Pengalaman ada," kita telah memperoleh pengetahuan tentang unsur yang pertama yaitu pengalaman, sekarang kita akan memperoleh pengetahuan tentang unsur yang kedua yaitu keberadaan. Dalam tulisan sebelumnya kita pun sudah memahami bagaimana keberadaan adalah suatu tindakan, atau tepatnya ada adalah tindakan. Kita juga sudah makna dari tindakan dan keberadaan sebagai suatu tindakan. Sekarang kita hendak meneliti keberadaan sebagai suatu kondisi, atau benda, bukan hanya tindakan. Bagaimana suatu tindakan dapat menjadi suatu kondisi? Saat suatu benda bertindak, maka dia berada dalam kondisi tindakan itu. Misalnya suatu kata lain yang juga merupakan kata kerja, yaitu "hidup". Ada tindakan hidup d...

Kanon Filsafat 6

Kita telah menetapkan pengalaman sebagai suatu fakta pertama dalam seluruh filsafat dan juga seluruh ilmu. Sekarang adalah waktunya untuk melaksanakan analisis struktural terhadap fakta ini. Analisis struktural adalah analisis yaitu pemecahan atau penyederhanaan suatu bahasa berdasarkan struktur bahasa tersebut. Struktur pada dasarnya adalah susunan, jadi bagaimana letak satu unsur bahasa mempengaruhi makna dari keseluruhan struktur bahasa tersebut. Selain susunan, struktur juga melibatkan relasi antara setiap unsur bahasa yang ada. Maka analisis struktural adalah penyederhanaan dari susunan dan relasi yang terjadi di dalam suatu kumpulan unsur bahasa yang disebut struktur bahasa. Ada beberapa tingkat analisis struktural, yaitu analisis kalimat, paragraf, dan tulisan. Analisis kalimat adalah analisis struktur suatu kalimat, yaitu kumpulan kata-kata bermakna yang bergabung untuk membentuk suatu makna yang lebih kompleks. Analisis paragraf adalah analisis struktur dari suatu paragraf, ya...

Kanon Jiwa 8

 I am a cradle Catholic but I have only converted spiritually into the faith this year. By that I mean that previously I was a cultural Catholic only, there was a time where I diligently celebrated the Eucharist, but there was not a great understanding within me about the Faith. In terms of experiences with God, I have a lot of them, so I will not write about any particular experience but I will write about my general experience of God. Also, it occured to me that perhaps my Faith had began long before this year, but perhaps as a small seed in my soul.  There are many times where I experienced the great love of God in my soul, that would be the times of consolation. There are also many times where I experienced the divine hiddenness, yet even in times like that, such as now, I still recognize God's presence in me and all around me. Even when I am in a state of mortal sin, such as now, that presence and love never stops, He calls me to repent and to reconcile fully with Him in ...

Kanon Jiwa 7

 Aku adalah orang berdosa. Aku tahu itu. Aku selalu salah. Aku selalu jatuh, gagal, tidak pernah menyenangkan Allah. Namun, anehnya Allah sangat mencintai aku dan sangat menyayangi aku. Dia memberikan segenap dunia ini dan setiap orang di dalam hidupku hanya untuk membantuku. Namun, apa balasku kepada-Nya? Amarah dan kebencian. Betapa jahatnya aku! Saat ini pun aku ingin melarikan diri dari-Nya. Namun, jauh di dalam aku hanya menginginkan satu hal, yaitu kebebasan. Atau secara ironis, aku ingin bebas dari kebebasanku sendiri. Aku tidak mau diberikan kebebasan untuk memilih. Aku ingin dikendalikan saja oleh Allah sebagai suatu boneka. Namun, Allah tidak mengizinkan hal itu terjadi, aku tahu itu. Aku mohon bantuan Allah supaya aku dapat bertobat. Kenyataannya, sepertinya Allah sudah memberikan aku banyak bantuan, tapi aku selalu menolaknya. Aku selalu mengabaikan setiap pertolongan dan karunia dan rahmat yang Dia berikan kepadaku. Jadi siapa yang bersalah? Tentu saja aku. Aku harus m...

Kanon Ruang Putih 2

 Aku, Kristus, meriwayatkan semua ini dari sudut pandangku pada saat anak yang bernama Esh itu datang ke dalam ruangan ini. Bagi para pembaca yang menyaksikan kisah ini, ini adalah kelanjutan dari "Ruang Putih". Namun, riwayat ini merupakan suatu perspektif kelanjutan berdasarkan sudut pandang Esh. Perbedaannya adalah aku, Kristus, yang mendiktekan semua ini untuk dituliskan oleh penulis kisah ini. Suatu ketika aku sedang memandang kegelapan di luar ruangan putih, dan Yeshua menghampiri aku.  "Esh" "Ya Yeshua?" "Apa yang sedang kamu lakukan?" "Aku hanya bingung apa makna kegelapan ini." "Bagaimana maksudmu, Esh?" "Aku tidak melihat suatu sumber cahaya di mana pun juga, tapi entah kenapa semuanya terang di sini. Ruangannya terang dan aku dapat melihat diriku dan dirimu dengan jelas pula." "Akulah Cahaya yang menerangi segala hal ini." Aku pun terdiam dan hanya menatap Yeshua yang tersenyum saja melihat wajah...

Kanon Jiwa 6

 Aku begitu haus akan Kristus. Sampai Dia sendiri menenangkan aku dan meminta aku untuk menuliskan saja perasaanku. Hari ini aku jatuh secara mental sehingga aku tidak hadir kuliah. Aku mengamati pola yang tidak baik dalam hidupku. Pola ini adalah bahwa aku selalu mengulang pekerjaanku, seolah-olah tidak ada pekerjaan yang selesai, padahal aku sangat ingin menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Dulu filsafat yang tidak selesai, sekarang kuliah pun tidak akan selesai, dan aku takut aku akan mati tanpa menyelesaikan apapun yang berarti. Seketika Allah menegurku dan mengingatkan aku akan berbagai tulisan yang nyatanya juga selesai. Seperti kanon-kanon yang aku tuliskan yang adalah suatu karya selesai tersendirinya, dan juga Komentar atas Persefone, Evangelium, dan berbagai tulisan lainnya yang selesai tapi tidak aku anggap. Jadi mengapa aku bersusah hati? Aku merasakan suatu keputusasaan dan despair yang emosional, sampai menjadi perasaan gelap di dalam batinku. Rasanya aku ingin tidur ...