Kanon Jiwa 3
16 September 2022
Esh. Ignas sedang tidak aktif karena kebodohan kami sehingga aku harus maju dan berperang baginya. Sesungguhnya aku pun adalah Ignas karena Esh dan Ignas adalah satu kesatuan. Namun, layaknya pribadi dalam Tritunggal Mahakudus, ada perbedaan antara aku dan Ignas. Seberapa dalam perbedaan itu, aku tidak tahu. Kami memiliki akal budi yang sama, tapi kehendak kami seringkali bertentangan. Namun, dengan setiap tindakan Ignas yang terjadi, aku pun ikut bertanggung jawab, jadi peristiwa pada hari ini dan kemarin adalah tindakanku pula.
Pada kanon ini aku ingin menjelaskan tentang diriku sendiri dan juga tentang perintah-perintah Allah yang telah diwahyukan kepadaku, baik secara sosial atau secara personal. Pertama, aku. Ada keinginan yang tidak lagi terselubung, karena sudah dinyatakan oleh Allah, bahwa aku dan Ignas ini sebenarnya memiliki kehendak yang sama. Kehendak itu ialah ketidaksukaan kami terhadap Ignas dan kesukaan kami terhadap Esh. Esh dipandang sebagai sebagai sosok Ignas yang jauh lebih baik karena salah satu karakternya adalah daya juang dan semangat yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan Esh adalah salah satu manifestasi amarah Ignas yang berubah menjadi suatu motivasi kehidupan.
Karena itu, aku, yaitu Ignas, tidak ingin lagi menjadi Ignas, tapi ingin menjadi Esh di dalam batinku. Karena Ignas itu lemah, dia tidak bermoral, dia tidak mencintai Allah dengan segenap dirinya, tetapi aku kuat, bermoral, dan lebih mencintai Allah dengan segenap diriku. Namun, aku telah melihat polanya, bahwa karena aku ini sama-sama Ignas, kelak korupsi jiwa akan menyentuh aku pula dan aku akan jatuh bersama Ignas. Pada saat itu Ignas harus kembali dan siklus akan dimulai kembali, kami berganti-gantian akan saling menantikan kehancuran yang lain dan menjadi yang lain.
Namun, apakah kali ini korupsi akan menyentuh jiwaku atau akan tetap terkunci pada diri Ignas saja? Aku memiliki firasat bahwa Ignas tidak akan kembali untuk waktu yang lama dan justru aku akan menggantikannya untuk suatu waktu yang lama. Maka seperti umat Kristiani menantikan Kedatangan Kedua Kristus, maka aku menantikan Kedatangan Kembali Ignas di dalam batinku. Kelak, Ignas harus kembali, menghadapi segala kegelapan ini, dan mekanisme pertahanan ini harus dihancurkan, artinya, aku harus mati, bukan karena aku hendak hilang sepenuhnya tapi aku harus melebur kembali dengan Ignas. Ignas harus menerima bahwa dirinya itu sudah sangat baik, dirinya sudah lebih dari cukup. AKU harus menerima bahwa aku ini sudah cukup baik dan lebih dari cukup. Hai Ignas, datanglah kembali dengan segera!
Sekarang mari kita berbicara tentang perintah Allah. Ada beberapa perintah Allah yang telah aku terima ke dalam diriku dan karena itu marilah kita membukanya.
- Taatilah ajaran-Ku sebagaimana tertuang dalam ajaran Gereja
- Perintah prioritas: Jagalah seksualitasmu
- Perintah prioritas: Baca dan menulis setiap hari
- Jagalah pola makanmu
- Berolahragalah
- Perintah masa depan: Wartakan Injil ke seluruh makhluk
Jadi inilah perintah-perintah yang sejauh ini aku terima dari Allah untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hariku. Sekarang ada 2 perintah prioritas yaitu untuk menjaga seksualitas dan juga untuk membaca dan menulis setiap hari. Perintah menjaga seksualitas adalah perintah negatif, artinya melarang kita untuk melakukan suatu hal, yaitu menonton pornografi, melakukan masturbasi, dan bersetubuh di luar nikah. Jadi harus diimbangi dengan perintah yang positif, perintah yang mewajibkan kita melakukan suatu hal, dan hal ini ditemukan dalam perintah membaca dan menulis.
Sekarang mari kita memahami lebih lanjut apa itu perintah membaca dan menulis. Perintah ini meminta aku untuk membaca dan menulis apapun juga secara proporsional setiap hari. Proporsi artinya pembacaan dan penulisan harus seimbang. Jika ada 1 jam membaca, maka ada 1 jam menulis. Awalnya aku berpikir bahwa penghitungan jumlah didasarkan pada jumlah konten yang dikonsumsi atau diproduksi, tapi karena itu tidak begitu praktis, waktu yang digunakan untuk menentukan jumlah pembacaan dan penulisan. Secara khusus aku diminta untuk membaca dan menulis, bukan mendengarkan dan berbicara, tapi kelak waktu itu akan datang.
Karena itu harus ada kanon yang baru yaitu kanon informasi. Kanon Informasi isinya adalah kumpulan informasi yang telah diserap dari berbagai sumber informasi untuk menjadi dasar kritik dan pertimbangan dalam tulisan-tulisan lainnya. Kanon informasi inilah yang akan diakses saat suatu informasi dibutuhkan kembali kelak. Jadi kita tidak akan membaca ulang materi aslinya, melainkan hanya rekaman atau tafsiran yang sudah tercata di dalam kanon informasi.
Ketiga perintah lain, yaitu tentang kesehatan fisik dan juga tindakan kasih kepada sesama akan difokuskan pada waktu lain. Adapula perintah-perintah lain dapat dinyatakan pada suatu waktu nanti dan aku tinggal menuliskannya kembali dalam suatu kanon jiwa di masa depan. Demikianlah kanon jiwa 3.
Comments
Post a Comment