Kanon Jiwa 1
14 September 2022
Inilah awal mula dari kanon jiwa Ignas Christianto Galih Prasetyo. Kanon yang mencatat segala macam perasaanku dan pemikiranku tentang diriku sendiri dan hidupku. Dalam jiwaku terletak suatu kegelapan yang amat besar, tapi begitulah segala manusia. Jadi apa yang spesial? Tidak ada, selain kesadaranku yang lebih tinggi. Hal ini bukan hanya pengakuanku saja melainkan juga pengakuan orang lain bahwa aku memiliki suatu kualitas yang lebih tinggi, dan pada akhirnya itu adalah kesadaran yang lebih tinggi. Namun semakin tinggi suatu kesadaran, maka semakin berat beban dan semakin gelap luka yang dia tanggung. Itulah yang terjadi padaku saat ini.
Apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidup? Selama ini aku hidup atas arahan orang lain dan bukan atas keinginanku sendiri. Secara doktrinal Gereja memang mengajar bahwa kita harus menyangkal diri kita sendiri, bahkan itu adalah ajaran Kristus sendiri dan bukan ajaran Gereja saja. Namun bagaimana kalau arahan orang lain adalah untuk menghalangi aku dari mencapai Kebenaran yang sejati? Bagaimana kalau arahan orang lain tidak mempertimbangkan diriku yang sebenarnya?
Aku harus berhati-hati dalam tulisan ini supaya aku tidak menyalahi rasionalitasku sendiri. Pada akhirnya terpampang nyata apa yang sebenarnya aku inginkan, yaitu diriku sendiri. Aku tidak ingin mengikuti ajaran orang lain, karena selama ini itu yang aku lakukan. Aku ingin melihat Kristus dengan mata jiwaku sendiri dan aku ingin mengikuti Dia menurut apa yang aku lihat sendiri. Sesungguhnya ada perasaan bahwa ini adalah suatu hal yang salah, yaitu untuk melaksanakan apa yang aku inginkan dan bukan persepsi orang lain tentang apa yang harusnya aku lakukan.
Namun di sisi lain, apakah aku sungguh mau menolak diriku sendiri selamanya dan hanya mengikuti kata orang lain dan kata orang lain? Apakah aku memang sanggup mengikuti perintah Kristus untuk menghancurkan diriku sendiri dan meninggalkan keakuanku sepenuhnya? Aku tidak sanggup. Aku ingin melayani Engkau ya Kristus tapi dengan caraku sendiri. Aku ingin mengikuti-Mu tapi dengan pemikiranku sendiri. Kalau ini akan mengantarkan aku ke dalam neraka, biarlah hal itu terjadi. Karena pengadilan-Mu ialah sempurna dan aku tidak dapat dan tidak ingin menolak Engkau.
Salah satu perkara konkrit tentang keinginan ini adalah kuliah. Aku tidak ingin kuliah lagi karena aku ingin menyelesaikan perkara diriku sendiri sampai lengkap. Yaitu aku ingin menyelesaikan pemikiran dan tulisan filsafatku sampai semuanya selesai. Aku ingin sungguh mendevosikan diri kepada pekerjaan itu sampai selesai. Aku tidak ingin diganggu oleh kuliah atau tugas kuliah atau pekerjaan lainnya sampai filsafat dan teologiku selesai. Namun dunia menekanku untuk tetap kuliah karena alasan "Jalani saja". Tidak aku tidak menerima alasan itu, aku akan menjalani apa yang aku pandang bernilai bagi diriku.
Dan sayangnya, aku memandang bahwa kuliah tidak lagi bernilai sepenuhnya bagi diriku. Ya memang aku tahu bahwa semuanya ada nilainya dan seterusnya. Namun kenyataannya adalah aku memilih dan menginginkan suatu hal yang berbeda, suatu nilai yang lain. Saat ini aku sudah tidak peduli tentang "benar" dan "salah", aku memiliki maknaku sendiri yang hendak aku pertanggungjawabkan di hadapan Allah saja.
Gerakan Kedua
Apa yang telah terjadi padaku? Mengapa aku berubah menjadi seorang yang ingin dirinya sendiri saja? Bukankah aku ini orang yang senang menghamba dan merendahkan hati kepada orang lain? Namun aku lelah seperti itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri untuk satu kali saja, dan memuaskan segala keinginanku. Ya Allah, biarlah aku bebas saja menjadi diriku sendiri sampai selamanya. Aku tahu bahwa ada yang berubah dalam diriku, tapi aku tidak peduli lagi, waktunya telah tiba bagiku untuk mengambil kendali kembali. Demikian pembukaan kanon jiwaku.
Comments
Post a Comment