Kanon Filsafat 8

 Pada kanon filsafat sebelumnya kita telah meneliti keberadaan secara mendasar. Sekarang kita akan meneliti relasi antara keberadaan dan pengalaman. Pada dasarnya kita memperoleh keberadaan dari fakta pengalaman itu sendiri. Pada saat pengalaman itu hadir di hadapan kita, pengalaman itu juga yang menjadi keberadaan. Kita menalar bahwa dari pengalaman, maka ada pengalaman, dan ada suatu keberadaan, di mana keberadaan itu adalah pengalaman. Jadi keberadaan yang ada itu bukan suatu benda yang terpisah dari pengalaman, melainkan pengalaman itu sendiri karena sejauh ini hanya ada pengalaman yang nyata bagi kita.

Jadi saat ini kita akan meneliti pengalaman bukan sebagai pengalaman, melainkan sebagai keberadaan. Kita tahu bahwa pengalaman hadir karena kita sendiri memiliki pengalaman dan mengalaminya. Kenyataannya, suatu benda dapat ditetapkan ada karena hadir dalam pengalaman kita. Jadi keberadaan pengalaman diketahui dari dirinya sendiri, dari kontak langsung antara kita dengan pengalaman itu. Namun, karena pengalaman hadir secara langsung bagi kita, maka sulit diartikan secara relatif. Dalam cara apa pengalaman ada secara relatif? Pengalaman tidaklah relatif, melainkan pengalaman itu selalu mutlak karena kita berhubungan langsung dengan pengalaman.

Pertanyaan yang baik adalah apakah ada keberadaan di luar pengalaman? Pertanyaan ini bukan tentang apakah suatu keberadaan tetap ada saat kita tidak mengalaminya, melainkan apakah keberadaan yang objektif itu sifatnya merupakan suatu pengalaman atau bukan? Masalah ini dapat kita teliti dengan memahami awal dari pengalaman. Kita paham bahwa pengalaman itu memiliki suatu awal, jadi ada masa di mana kita tidak berhubungan dengan pengalaman atau keberadaan tersebut. Sebelum kita mengalami pengalaman tersebut, apakah kodrat dari keberadaan itu, apakah masih berupa pengalaman atau merupakan suatu keberadaan yang bukan pengalaman?

Sekilas kita dapat mengatakan bahwa pengalaman itu hanya terjadi saat berada di dalam naungan subjek. Namun, itu mengasumsikan bahwa hanya kita subjek satu-satunya di dalam seluruh kenyataan ini, atau hanya manusia yang dapat menjadi subjek. Padahal, tidak ada masalah andaikata keberadaan itu ternyata merupakan subjek tersendiri di mana ada pengalaman yang unik dan berbeda dari pengalaman kita sebagai manusia. Jadi yang terjadi hanyalah peleburan atau asimilasi antara pengalaman itu dengan pengalaman kita sebagai manusia.

Dari situ kita memperoleh 2 teori tentang relasi antara keberadaan dan pengalaman, yaitu teori kesatuan dan teori keterpisahan. Teori kesatuan menyatakan bahwa keberadaan dan pengalaman pada dasarnya menyatu dan setara. Teori keterpisahan menyatakan bahwa keberadaan dan pengalaman tidak menyatu, melainkan bersifat kausal. Kausalitas yang terjadi adalah keberadaan menyebabkan pengalaman untuk terjadi saat bersentuhan dengan subjek, yaitu kita. Apakah ada cara untuk mengetahui teori mana yang benar? Jawabannya adalah tidak ada, setidaknya untuk sekarang.

Dari 2 teori itu juga masih ada 2 teori lain berdasarkan pembedaan yang berbeda. Kedua teori ini adalah teori korespondensi dan teori non-korespondensi. Korespondensi artinya untuk setiap keberadaan pasti ada pengalaman yang sesuai. Teori kesatuan pasti koresponden karena bukan hanya ada kesesuaian 1 lawan 1 antara keberadaan dan pengalaman, melainkan ada kesatuan yang setara antara keduanya. Teori keterpisahan dapat koresponden atau tidak. Namun ini harus kita teliti lebih dalam.

Kemungkinan bahwa untuk setiap keberadaan ada pengalaman yang sesuai itu cukup tidak bermasalah. Namun, bagaimana dengan kemungkinan bahwa tidak semua keberadaan memiliki pengalaman? Kalau seperti itu, artinya ada keberadaan yang sungguh di luar pengalaman, atau tidak berelasi dengan dunia pengalaman sama sekali. Mungkin saja ada suatu sistem keberadaan yang sangat dinamis tapi sebagai suatu sistem sepenuhnya terisolasi dari sistem pengalaman. Apakah ini mungkin? Barangkali, dan dengan menyatakan gagasan tersebut, sistem itu sudah ada, hanya saja esensinya tidak dapat kita ketahui. Pertanyaan yang lebih persis adalah apakah memang pengalaman secara umum terbatas atau hanya kita sebagai manusia yang terbatas? Untuk sekarang kita tidak dapat tahu, tapi barangkali kelak kita dapat memahami jawabannya. Untuk sekarang cukuplah tulisan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas