Kanon Filsafat 15

 Aku tidak menentang konsep bahwa Allah adalah Pencipta, tapi aku menentang konsep bahwa Allah tidak menciptakan segala hal yang ada di dalam isi pikiran-Nya yang kudus. Allah menciptakan segala dunia dan esensi yang ada sehingga kenyataan temporal memiliki suatu titik awal di dalam Dia. Bagaimana contoh dunia lain selain dunia kita? Contohnya adalah dunia fisik seperti Middle Earth. Middle Earth sebagai dunia fiksi dipikirkan sebagai hasil ciptaan seorang JRR Tolkien, tapi karena esensinya ada di dalam Allah, maka sesungguhnya Middle Earth sejatinya adalah ciptaan Allah secara mutlak dan hanya dihasilkan oleh Tolkien.

Namun, tidak ada beberapa dunia yang terpisah melainkan ada satu dunia tunggal yang terdiri dari seluruh esensi itu. Dari segala esensi, ada suatu derajat kebaikan esensi secara objektif di mata Allah. Aku membayangkan bahwa tingkat kebaikan esensi bergerak dari esensi yang paling sederhana, yaitu esensi tunggal menjadi esensi relasional menjadi esensi sistemik yaitu esensi yang kita kenal sebagai dunia atau semesta. Maka, ada satu dunia yang paling tinggi di antara dunia-dunia lain, dan ini adalah dunia yang dipandang Allah sebagai dunia yang paling baik di antara dunia-dunia. Dalam kata lain, inilah dunia Allah.

Satu dunia itu adalah penjabaran dari Kenyataan itu sendiri. Allah yang terjabarkan dalam berbagai esensi yang berelasi dalam satu sistem esensi yaitu dunia adalah dunia itu sendiri. Jadi ada berbagai esensi dunia yang bernilai lebih rendah dari esensi dunia kita dan esensi dunia kita menempati posisi yang mulia di hadapan Allah karena mendatangkan kemuliaan terbesar bagi-Nya. Kita juga dapat berkata bahwa dunia ini adalah dunia yang paling baik karena dunia ini mengandung kelengkapan esensi yang paling tinggi.

Namun, kita harus mengingat bahwa Allah dan dunia tetaplah berbeda. Kecuali kalau kita memandang Allah sebagai Kenyataan. Sebab dunia merujuk pada dunia kita yang terbatas ini. Adapula jika Kenyataan dipahami sebagai penjabaran diri-Nya, maka itu tidak lagi menjadi Allah. Kenyataan hanya menjadi Allah saat dipertimbangkan sebagai suatu kenyataan yang tidak terbatas sehingga timbul atribut-atribut Allah yang lain. Jika Kenyataan tidak memiliki unsur tidak terbatas itu, hilanglah Keilahiannya.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas