Kanon Filsafat 1

 Ini adalah awal dari kanonku, kanon tulisan-tulisanku yang aku anggap adalah resmi. Apakah itu kanon? Kanon adalah kumpulan tulisan atau karya yang dianggap sah dari suatu entitas atau badan. Maka kanon Ignas Christianto Galih Prasetyo, adalah kumpulan tulisan yang sah berasal dari Ignas Christianto Galih Prasetyo. Kanon yang ini, yaitu kanon filsafat, tentunya bukan satu-satunya kanon yang aku hasilkan, masih ada kanon-kanon lain yang aku buat, seperti kanon fiksi dan kanon psikologis yang akan aku buat kelak. 

Dalam sejarah filsafatku, aku belum pernah berhasil membuat suatu sistem filsafat yang sempurna, yang dapat melengkapi sistem Gereja Katolik. Barangkali karena aku pada dasarnya ingin membangun menara Babel yang baru kepada Allah, dan karena itu Allah selalu menolak karyaku. Dia selalu meruntuhkan karyaku bagaimanapun juga caranya, jadi aku harus selalu memulai ulang menara ini dan kemungkinan besar kanon ini pun akan runtuh dan digantikan dengan proyek yang baru dengan nama dan label yang baru. Kalau kanon ini bertahan 1 tahun saja, artinya ini adalah kehendak Allah yang murni.

Sesungguhnya kanon ini harusnya merupakan kanon filsafat saja, tapi jangan heran kalau dari kanon filsafat ini kalian dapat membaca kepribadianku juga. Namun akan ada bagian kanon psikologis yang lebih mendalam ke psikologiku. Salah satu hal yang berkaitan dengan psikologiku dalam tulisan filsafat yang pertama ini adalah pesimismeku terkait keberhasilan ataupun kegunaan tulisan ini. Baru saja ada orang yang mengatakan bahwa tulisan dan proyek ini tidak berguna, karena sudah ada Kekristenan. Aku tidak membantah, karena memang benar bahwa dari suatu perspektif seluruh kanon ini tidak berguna.

Sebab, kita sudah memiliki Gereja, Tradisi Suci, dan Kitab Suci. Ketiga pilar kebenaran itu seharusnya sudah cukup untuk kehidupan manusia, dan benar, memang cukup. Jadi apakah kontribusi proyek ini terhadap kehidupan manusia? Menurutku nol besar. Namun ada satu orang yang diuntungkan dari tulisan ini, yaitu aku sendiri. Aku menulis semua ini untuk diriku sendiri dan untuk kepuasan batinku sendiri. Aku hanya ingin melihat segalanya dengan mata batinku sendiri, aku tidak mudah percaya kepada perkataan Gereja, aku ingin menjadi bagian dari Gereja yang melihat kebenaran-kebenaran ini dengan mata batinnya sendiri.

Jadi filsafat itu sendiri tidak penting dan tidak berguna karena sudah ada Kristus dan Gereja-Nya. Namun saat aku menggaungkan ketidakpentingan dan ketidakbergunaan filsafat ketimbang Kristus dan Gereja, Dia justru menegur aku dalam kesalahanku. Sebab pada dasarnya filsafat juga berasal dari Allah dan memiliki seorang mempelai, yang bernama teologi. Pernikahan itu terwujud dalam diri Kristus, di mana manusia dan Allah dipersatukan dan bertemu. Dalam kata lain, filsafat dan teologi harus dipersatukan dan memang kehendak Allah yang asli adalah kesatuan antara filsafat dan teologi.

Jadi kesalahanku dan kesalahan setiap orang yang merendahkan filsafat adalah mereka tidak memahami filsafat itu sendiri. Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan, filsafat adalah pencarian akan kebijaksanaan, filsafat adalah upaya manusia untuk mencari kebenaran. Sementara itu kita yang tahu tahu bahwa kebijaksanaan adalah Kristus sendiri, Dialah Kebijaksanaan itu sendiri yang mengatasi segala kebijaksanaan manusia. Filsafat adalah upaya manusia untuk memenuhi lubang besar di dalam hatinya yang hanya dapat diisi oleh Allah.

Jadi filsafat yang sebenar-benarnya akan mengarahkan manusia pada Allah. Namun manusia yang berdosa membenci Allah dan ingin mengisi lubang hatinya dengan hal-hal lain selain Allah, apapun itu yang dia isi, baik itu kekayaan, kekuasaan, atau manusia lain, atau bahkan dirinya sendiri. Maka filsafat disalahpahami, dipelintir, dan dijadikan ajang pembenaran bagi kedosaan manusia, bahkan dijadikan kontradiksi dengan dirinya sendiri. Karena itu filsafat bercerai dari teologi, manusia bercerai dari Allah, dan hasilnya adalah filsafat jatuh ke dalam kegelapan bersama manusia yang menghasilkan dia.

Namun Allah tidak berhenti mencari dan memanggil manusia kepada diri-Nya. Sesungguhnya, yang mencari duluan bukanlah manusia, yang memulai segala hal ini bukanlah manusia, melainkan semua diawali oleh Allah dan akan diakhiri oleh Allah. Kita hanya berada di tengah-tengahnya saja. Teologi adalah tawaran dan wahyu Allah kepada manusia yang harusnya dijawab manusia dengan filsafatnya, yaitu pemahaman manusia tentang teologi itu. Karena mau tidak mau teologi harus diterjemahkan ke dalam filsafat manusia sehingga manusia dapat memahami Allah dan segenap wahyu-Nya.

Pada saat wahyu Ilahi dan pemikiran manusia dapat bekerja sama, maka di situlah terjadi kebaikan dan kebahagiaan sejati bagi manusia yang mencari Allah sebagai Kebaikan dan Kebahagiaan itu sendiri. Jadi pemikiran manusia atau filsafat ditujukan sebagai jembatan antara manusia dan Allah. Karena begitulah manusia mencapai Allah, bukan dengan perasaan semata, melainkan dengan segenap dirinya yang diketuai oleh akal budi didukung oleh hati nurani yang tegak. Jika manusia tidak berpikir tentang Allah, dia tidak akan pernah mencapai-Nya.

Jadi sekali lagi, apakah segala karya ini berguna? Sesungguhnya ya, berguna untuk mencerahkan pikiran manusia untuk kembali lagi kepada Allah dan bersatu kembali dengan Khaliknya. Namun ini baru permulaan dari segalanya. Jadi tentu saja karya ini akan terus berkembang hingga terwujud suatu karya yang terbaik yang dapat menuntun kembali umat manusia kepada Allah. Sebab inilah kehendak Allah bagiku, untuk menulis dan menulis sampai manusia mau mendengar dan mau mengikuti jalan Allah kembali. Kalau tidak ada maknanya, tidak mungkin Allah meminta aku melakukan ini.

Dengan itu tulisan ini sudah selesai. Namun sebagai catatan tambahan. Mungkin pembaca sudah memperhatikan bagaimana tulisanku ini agak serampangan. Karena tulisan ini memang ditulis secara serampangan dalam cara yang aku tidak terlalu pedulikan. Sebab hal yang aku pentingkan saat ini adalah tulisan yang selesai, bukan tulisan yang sempurna. Hal yang penting adalah materinya sudah tertulis, nanti tinggal disempurnakan dalam suatu bahasa yang baik. Namun waktu itu bukanlah sekarang, melainkan di masa depan. Demikian yang dapat aku sampaikan pada saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas