Kanon Filsafat 14
Mari kita mendalami konsep tentang Allah kembali. Dalam kanon filsafat 12, Allah dinyatakan sebagai Sang Hukum yang menjadi pembeda antara apa yang aktual dan yang tidak aktual. Namun, kalau kita memahami Allah sebagai suatu pembeda dan juga sebagai suatu Ketidakterbatasan, terjadilah kontradiksi. Sebab, Ketidakterbatasan sifatnya inklusif, Dia melibatkan seluruh kenyataan dan segala dunia, segalanya terkandung di dalam Ketidakterbatasan. Kalau ada yang tidak termasuk dalam Ketidakterbatasan, maka hal itu bukanlah Ketidakterbatasan.
Kesimpulannya hanya satu, Allah bukanlah pembeda atau Allah bukanlah Ketidakterbatasan, kita tidak dapat memiliki keduanya. Pembeda sifatnya terbatas, dan Ketidakterbatasan tidak membeda-bedakan. Namun, mau tidak mau kita memang harus memulai dari konsep perubahan untuk mencapai Allah. Jadi diadakanlah tulisan ini untuk meneliti kembali konsep Allah, dan bagaimana keterkaitan antara konsep Allah dan pengalaman kita yang langsung.
Allah memang adalah Hukum yang mengatur perubahan, atau suatu entitas yang lebih tinggi yang mengatur perubahan. Jadi kalau kita bertanya apa sebab dari perubahan, jawabannya adalah memang Allah. Hanya saja Allah bukan pembeda antara apa yang aktual dan yang tidak aktual, dan karena segala esensi bersifat kekal, Allah bukanlah pencipta atau penghancur, Allah adalah "adalah". Allah adalah Keberadaan dan Ada yang murni. Karena segala perubahan sama-sama nyata, jadi Allah pun bukanlah pencipta yang menciptakan ini dan tidak menciptakan yang lain. Namun, Allah menciptakan segala hal, dalam arti, Allah adalah alasan dari segala hal secara mutlak.
Alur logikanya seperti ini, ada perubahan. Perubahan pasti terjadi karena suatu Hukum. Pasti ada Hukum yang paling tinggi. Hukum yang paling tinggi ini kita namakan Allah. Hal yang menjadi masalah adalah apakah pasti ada satu Hukum yang paling tinggi atau ada beberapa Hukum yang paling tinggi? Misalkan ada perubahan X, Y, dan Z. Untuk setiap perubahan ini, ada satu hukum yang mengaturnya. Maka, hukum X tidak usah melibatkan Y dan Z karena di luar kuasanya. Ya, kenyataannya banyak hal di dunia ini yang saling terkait dan saling terhubung, karena itu kita berkata bahwa ada satu Hukum yang mengatur kita, dan Hukum itu kita namakan Allah.
Namun, pertimbangkan contoh X, Y, dan Z tadi. Jika X, Y, dan Z adalah hukum-hukum yang berbeda yang mengatur esensi-esensi yang berbeda. Maka, harus ada perbatasan yang jelas antara X, Y, dan Z. Sejauh mana X bersifat terbatas, dia tidak dapat menyentuh Y atau Z. Lalu karena X adalah hukum yang terbatas, kita bahkan tidak dapat mengatakan bahwa X bersifat sederhana dan memiliki pengetahuan tentang Y dan Z atau bahkan X. Namun, kita harus bertanya, mengapa X bersifat terbatas, mengapa Y dan Z juga terbatas? Berikutnya, apakah X, Y, dan Z sungguh terpisah ataukah ada kesamaan yang menyatukan mereka?
Kenyataannya, X, Y, dan Z sama-sama termasuk dalam kenyataan, sebagai 3 esensi yang berbeda. Kenyataannya, hal yang membuat X, Y, dan Z terbatas adalah apa yang mempersatukan mereka, yaitu kenyataan. Kenyataan adalah kesatuan X, Y, dan Z, yaitu 3 esensi yang berbeda yang dipersatukan di dalam satu esensi kenyataan. Jadi, kenyataannya adalah Kenyataan itu sendiri bersifat tidak terbatas, dan dari ketidakterbatasan itu kita dapat menalar seluruh sifat-sifat kenyataan dan juga memberikan nama Allah kepada Kenyataan. Maka, Allah dinalar bukan dari perubahan atau kausalitas, tapi dari keberadaan itu sendiri. Jika ada yang ada, maka ada Allah.
Kalau kita masih ingin menalar dari perubahan atau kausalitas, kita harus bertanya, "Apakah dari beberapa hukum dapat dinalar satu hukum?" Lalu, "Jika ada satu hukum yang mengatur segala perubahan, bagaimana kita tahu hukum itu tidak terbatas?" Faktanya, ada hubungan yang putus di antara konsep hukum dan konsep ketidakterbatasan. Namun, kalau kita mempertimbangkan bahwa kenyataan itu sendiri mengandung segala hal, maka di situlah kita menemukan Allah yang sejati sebagai Ketidakterbatasan yang mengatasi segala ketidakterbatasan lainnya.
Dari fakta bahwa Allah adalah Kenyataan yang Tidak terbatas dan Sederhana, teori keterpisahan dan teori non-korespondensi tentang pengalaman dan keberadaan hancur sehancur-hancurnya. Sebagai Kenyataan, Allah tidak terikat ruang dan waktu, melainkan di atas ruang dan waktu. Sehingga Allah hadir di segala waktu dan di segala tempat, atau tepatnya, di segala esensi. Allah juga adalah Pengetahuan Sempurna, sehingga Dia tahu lebih dari apa yang dapat kita ketahui tentang benda apapun. Bagi Allah, segala esensi itu sama jelasnya bagi-Nya, karena itu tidak ada perbedaan aktualitas bagi Allah, semuanya sama-sama jelas dan nyata.
Ada 3 dimensi pengetahuan Ilahi, atau 3 dimensi Allah sebagai Pengetahuan. Ada Pengetahuan Esensi, Pengetahuan Relasional, dan Pengetahuan Kontekstual. Pengetahuan Esensi adalah Pengetahuan Sempurna tentang setiap Esensi yang akhirnya berujung pada Pengetahuan Allah akan diri-Nya sendiri. Pengetahuan Relasional adalah Pengetahuan Esensi juga, tapi fokusnya adalah Pengetahuan tentang Esensi yang adalah Relasi antara berbagai Esensi. Dimensi ketiga adalah Pengetahuan Kontekstual, yaitu Pengetahuan tentang segala perspektif atau subjektivitas pengalaman yang ada, yaitu pengalaman-pengalaman yang terbatas. Dalam kata lain, menurut satu esensi yang ada, apakah yang benar?
Comments
Post a Comment