Kanon Filsafat 7
Pada kanon filsafat sebelumnya, kita telah menetapkan suatu analisis dari kehadiran pengalaman dan kita memperoleh pemahaman bahwa pengalaman didasari oleh dirinya sendiri dan menjadi dasar yang mendasari dirinya sendiri serta segala hal lain secara epistemologis. Dari kalimat "Pengalaman ada," kita telah memperoleh pengetahuan tentang unsur yang pertama yaitu pengalaman, sekarang kita akan memperoleh pengetahuan tentang unsur yang kedua yaitu keberadaan. Dalam tulisan sebelumnya kita pun sudah memahami bagaimana keberadaan adalah suatu tindakan, atau tepatnya ada adalah tindakan. Kita juga sudah makna dari tindakan dan keberadaan sebagai suatu tindakan.
Sekarang kita hendak meneliti keberadaan sebagai suatu kondisi, atau benda, bukan hanya tindakan. Bagaimana suatu tindakan dapat menjadi suatu kondisi? Saat suatu benda bertindak, maka dia berada dalam kondisi tindakan itu. Misalnya suatu kata lain yang juga merupakan kata kerja, yaitu "hidup". Ada tindakan hidup dan ada kondisi "kehidupan". Hal yang sama terjadi antara ada dan keberadaan. Sebagaimana kehidupan adalah kondisi makhluk yang melaksanakan hidup, maka keberadaaan adalah kondisi benda yang melaksanakan tindakan ada.
Jadi apakah esensi dari keberadaan atau kondisi tindakan ada? Sejujurnya kita tidak begitu tahu, aku pun tidak begitu tahu apakah esensi dari keberadaan.
Namun, ada beberapa sifat keberadaan yang dapat kita kenali. Pertama, keberadaan dapat dipahami sebagai suatu relasi. Tepatnya, keberadaan adalah kemampuan suatu benda untuk mempengaruhi benda lainnya dan memiliki suatu kehadiran yang berdampak pada kenyataan di luar dirinya. Ini adalah pemahaman yang mendasar dan agak konvensional. Aku berkata konvensional karena ada suatu argumen pengecualian yang dapat dikatakan menyanggah konsep keberadaan sebagai relasi.
Faktanya, mungkin saja ada suatu benda yang tidak berdampak sama sekali pada benda lain. Dalam kata lain, benda itu terisolasi dari segenap kenyataan lainnya. Namun, benda yang sungguh terisolasi dari benda-benda lain dapat dikatakan "tidak ada" karena berada di luar jangkauan dan relasi benda-benda lain. Ada pula benda yang terisolasi itu juga tidak dapat menjangkau dan berelasi dengan sistem benda yang lainnya. Namun, kalau ada suatu sistem relasi yang pada kenyataannya dapat mempersatukan seluruh kenyataan, maka benda terisolasi itu menjadi mustahil karena seluruh benda terhubung dan tersatukan oleh satu benda yang lebih tinggi ini.
Terlepas dari kemungkinan bahwa benda terisolasi ini mustahil, untuk mengakomodasi kemungkinan seperti itu, maka kita membutuhkan suatu pemahaman baru. Maka ada pemahaman bahwa keberadaan adalah kehadiran. Namun, apakah itu kehadiran? Patut diperhatikan bahwa kehadiran hanyalah sinonim yang memperjelas apa makna keberadaan. Sekalipun kehadiran memang adalah definisi dari keberadaan menurut KBBI. Sementara itu, kalau kita melihat makna "hadir", hasilnya juga tetap "ada", jadi ini adalah pengertian yang melingkar.
Makna kehadiran akan lebih jelas saat kita meneliti konsep Allah dan melihat relasi antara Allah dan keberadaan atau kehadiran. Untuk sekarang kita hanya perlu memahami bahwa kehadiran artinya adalah hadir bagi dirinya sendiri atau kehadiran mutlak di dalam kenyataan. Jika 2 hal itu terpenuhi, maka keberadaan sudah ada. Jika tidak, barulah keberadaan itu tidak ada. Pembedaan ini mengarah pula pada pembagian antara 2 jenis keberadaan, keberadaan relatif dan keberadaan mutlak.
Keberadaan relatif adalah esensi keberadaan yang berdasarkan relasi, dan puncaknya adalah relasi dengan pengalaman karena begitulah kita mengetahui adanya keberadaan. Keberadaan mutlak adalah esensi keberadaan yang berdasarkan kehadiran mutlak suatu benda, atau dapat juga dikatakan sebagai keberadaan esensial. Namun, untuk sekarang itu saja yang dapat kita katakan tentang keberadaan. Sebab masih ada pembahasan yang lebih mendalam tentang keberadaan, terutama dalam keterkaitannya dengan pengalaman.
Comments
Post a Comment