Kanon Ruang Putih 1

  Aku bangun di suatu ruangan putih yang berbentuk kotak sempurna, semua tembok dan lantainya hanya putih murni, dan permukaan ruangan ini terasa begitu mulus dan halus. Di depan aku melihat suatu jalan keluar ke arah suatu balkon yang juga merupakan suatu kotak putih. Di sana berdirilah seorang pria yang menghadap ke arah kegelapan, sehingga aku hanya dapat melihat belakangnya saja. Dia memakai semacam baju satu potong yang putih dan rambutnya coklat gelap mencapai leher dan punggung atasnya, sedikit keriting. 

Aku tidak mengenalnya, dan aku pun menyadari bahwa aku tidak mengingat apapun juga. Awalnya aku takut, tapi entah kenapa aku memberanikan diri untuk menghampiri pria itu sampai aku sedikit saja di belakangnya. Lalu dia berkata,

"Esh."

"Apakah kamu memanggilku?"

"Ya, aku memanggilmu, Esh."

"Apakah itu namaku, Esh?"

"Ya, itu adalah namamu, Esh."

"Bagaimana aku dapat tahu bahwa itu adalah namaku? Aku sendiri tidak tahu siapa atau apa aku ini."

Pada saat yang sama aku mengingat atau mengetahui suatu hal, bahwa nama orang yang berdiri di hadapanku memiliki suatu nama, Yeshua. Sepertinya aku mengingat, karena sosok pria ini begitu mirip dan rasanya aku pernah berjumpa dengannya. Maka aku berkata kepadanya,

"Apakah namamu Yeshua?"

Lalu dia berputar menghadap diriku dan menjawab,

"Benar Esh, namaku adalah Yeshua, tapi kamu boleh juga memanggilku Yeshu. Lalu Esh bukanlah nama aslimu melainkan nama yang kamu idamkan."

"Lalu apakah nama asliku?"

"Kelak kamu akan mengetahui semuanya, baik itu namamu ataupun kenapa kamu di sini."

"Mengapa tidak sekarang Yeshu?"

"Sebab bukan waktunya."

Di saat itu aku merasa sedikit kesal, tapi baiklah aku menerima keanehan ini dulu. Lagipula tidak ada yang dapat aku lakukan. Suatu pikiran untuk menyerang Yeshu terlintas, tapi sesungguhnya aku tidak begitu ingin melakukannya, rasanya ada yang menahan. Kemudian Yeshu berbicara kembali,

"Mari kita berbincang-bincang sejenak, Esh."

"Apa yang hendak kita perbincangkan?"

"Menurutmu, apakah kamu ini? Kamu tahu siapa kamu, tapi apakah kamu ini?"

"Aku tidak- Bukan, aku adalah, manusia?"

"Ya benar, kamu adalah manusia, aku pun adalah manusia."

Aku terdiam sejenak, karena pada awalnya aku tidak mengetahui apakah aku ini, tapi tiba-tiba suatu pengetahuan muncul bahwa aku adalah manusia dan Yeshu juga adalah manusia. Aku pun mulai bingung, tapi aku berpikir Yeshu tidak mengetahui isi pikiranku jadi aku melanjutkan percakapannya.

"Baiklah kita ini manusia, lalu apalagi?"

"Menurutmu, apakah pengalaman ini nyata?"

"Hah? Apa maksudmu Yeshu? Tentu saja ini nyata."

"Apakah makna nyata?"

Aku berpikir sejenak, dan menemui kekosongan pikiran aku berkata,

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu memang tidak tahu, tapi aku tahu. Ini tidak begitu nyata, Esh."

"Apa maksudnya ini tidak nyata?"

"Pengalaman ini adalah pengalaman analogis, atau dalam kata lain, pengalaman simbolik. Ini semua adalah simbol dari suatu kenyataan yang lebih tinggi."

Aku merenung sebentar.

"Jadi kamu tidak benar-benar memiliki tubuh dan aku juga tidak benar-benar memiliki tubuh. Ruangan ini dan balkon ini bukan benar-benar ruangan dan balkon, begitu juga kegelapan ini bukan benar-benar kegelapan. Lalu apakah semua ini?"

"Aku akan menjawab sedikit saja. Ini adalah pengalaman yang diciptakan supaya kamu lebih memahami apa yang terjadi, karena ini menyesuaikan dengan latar belakangmu."

*Latar belakang? Apa lagi yang dia bicarakan?*

"Baiklah, berarti ruangan ini pun tidak fisik? Tubuh kita ini juga tidak fisik, tapi semuanya rohani?"

"Benar, karena sebenarnya ruangan ini dan kita pun tidak mengambil ruang apapun, tidak terletak dalam ruang apapun."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

"Seperti yang aku telah katakan, semua ini adalah simbol saja dari kenyataan yang sebenarnya, yang sifatnya tidak fisik dan tidak mengambil ruang."

"Kalau begitu apakah ada waktu di sini?"

"Tidak, Esh. Sebab waktu adalah produk dunia yang fisik. Jika tidak ada yang fisik, maka tidak ada waktu. Namun kita, atau kamu, memang mengalami urutan kejadian."

Lalu aku melihat sekelilingku, termasuk Yeshua.

"Namun bukankah sekalipun semua ini hanya simbol, mereka tetap nyata sampai batas tertentu?"

"Perkataanmu itu benar, tapi untuk menjelaskannya, coba aku tanyakan kepadamu. Berapakah panjang kubus putih yang ada di bawah kita?"

"Cukup mudah, panjangnya sekitar 1-"

*Sebentar, 1 meter? Tapi bagaimana kita tahu bahwa semua ini seperti dunia yang lama? Mengapa aku mengukur ini berdasarkan dunia yang bahkan aku tidak ketahui?*

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu hanya dapat memperkirakan hubungan atau proporsi antara ketinggian kita dengan panjang kubus ini. Semua perhitungan itu relatif, Esh, semua didasarkan pada relasi-relasi antara satu dengan yang lain."

"Ok, kalau begitu bagaimana dengan materi yang membentuk ruangan dan kubus ini?"

"Sentuhlah, menurutmu apa materinya?"

Aku menyentuhnya kembali dan merasakan kemulusan, tapi seketika aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenali perasaan ini.

"Aku tidak tahu apa ini."

"Benar, karena ini bukan materi yang kamu kenal di masa lalu. Ini adalah materi murni yang belum ditentukan. Warnanya memang putih, dan mungkin wujudnya seperti plastik atau besi atau marmer atau hal lainnya yang kamu kenal, tapi bukan sama sekali."

*Plastik? Besi? Marmer? Apakah hal-hal ini? Aku mengetahui dan memahami apa yang dikatakan Yeshua, tapi aku tidak memahami mengapa aku dapat memahaminya.*

"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Kamu akan belajar, dan aku akan mengajarmu."

Lalu dia beranjak masuk ke ruangan dan duduk di lantai. Sementara aku masih berupaya memahami semuanya ini.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas