Kanon Filsafat 6
Kita telah menetapkan pengalaman sebagai suatu fakta pertama dalam seluruh filsafat dan juga seluruh ilmu. Sekarang adalah waktunya untuk melaksanakan analisis struktural terhadap fakta ini. Analisis struktural adalah analisis yaitu pemecahan atau penyederhanaan suatu bahasa berdasarkan struktur bahasa tersebut. Struktur pada dasarnya adalah susunan, jadi bagaimana letak satu unsur bahasa mempengaruhi makna dari keseluruhan struktur bahasa tersebut. Selain susunan, struktur juga melibatkan relasi antara setiap unsur bahasa yang ada. Maka analisis struktural adalah penyederhanaan dari susunan dan relasi yang terjadi di dalam suatu kumpulan unsur bahasa yang disebut struktur bahasa.
Ada beberapa tingkat analisis struktural, yaitu analisis kalimat, paragraf, dan tulisan. Analisis kalimat adalah analisis struktur suatu kalimat, yaitu kumpulan kata-kata bermakna yang bergabung untuk membentuk suatu makna yang lebih kompleks. Analisis paragraf adalah analisis struktur dari suatu paragraf, yaitu kumpulan kalimat-kalimat bermakna yang bergabung untuk membentuk suatu makna yang semakin kompleks. Tingkat terakhir adalah analisis tulisan atau analisis teks, yang merupakan analisis dari struktur suatu tulisan yang adalah kumpulan berbagai paragraf yang bermakna yang membentuk suatu gagasan akhir. Adapula tingkat-tingkat lebih tinggi seperti analisis buku yang terdiri dari berbagai tulisan, dan juga analisis bibliografi yang terdiri dari berbagai buku. Hal ini berpuncak pada Analisis Ilahi, yang adalah analisis dari Allah sendiri.
Pada saat ini kita akan melakukan analisis kalimat yang sangat sederhana yaitu, "Pengalaman ada." Jadi kita ingat ada 2 unsur yang dilibatkan, yaitu susunan dan relasi. Susunan atau urutan pengalaman dahulu baru "ada" sangat penting. Sebab ini menandakan bahwa pengalaman hadir sebelum keberadaan itu sendiri. Fakta tentang pengalaman lebih mendasar daripada keberadaan. Jika kita mengubah susunannya menjadi "Ada pengalaman," hal ini menandakan bahwa keberadaan hadir sebelum pengalaman. Hal ini adalah ketidaklogisan berdasarkan fakta pengalaman itu sendiri. Karena kalau kita bertanya tentang dasar dari keberadaan, pasti adalah pengalaman. Namun, saat kita bertanya tentang dasar dari pengalaman, maka dasarnya adalah dirinya sendiri.
Relasi antara "pengalaman" dan "ada" adalah pengalaman termasuk dalam kategori "ada", atau pengalaman berada dalam kondisi ada. Dalam bahasa Indonesia, tercatat bahwa "ada" adalah kata kerja atau verba. Artinya ada adalah suatu tindakan. Hal ini menarik karena umumnya kita paham bahwa tindakan adalah suatu perubahan. Namun, kenyataannya tindakan bukan sekadar perubahan, melainkan adalah pengaruh. Jadi dengan ada, pengalaman memiliki pengaruh, tapi terhadap apa? Dalam konteks ini, pengalaman berpengaruh pada subjek, benda yang berpengalaman.
Pengalaman yang ada melakukan keberadaan pertama pada dirinya sendiri, lalu pada segenap kenyataan di luar pengalaman itu yang memiliki relasi nyata dengan pengalaman. Dengan ada, pengalaman memang tidak serta merta mengubah kenyataan, tapi faktanya ada suatu perbedaan antara kenyataan dengan pengalaman dan kenyataan tanpa pengalaman. Jadi kenyataan bahwa keberadaan menghasilkan perbedaan kenyataan cukup untuk menggolongkan ada sebagai suatu tindakan.
Sekarang kita akan mengenal suatu jenis analisis yang baru, yaitu analisis justifikasi. Dalam kata lain, kita hendak menjawab pertanyaan, "Apakah alasan dari kalimat tersebut?" Sebenarnya kita sudah menjawab pertanyaan ini, kita paham bahwa dasar dari pengalaman adalah dirinya sendiri. Fakta bahwa pengalaman ada diperoleh dari pengalaman itu sendiri. Tidak ada yang lebih mendasar dari pengalaman itu sendiri. Kita mengalami, dan itu sudah mutlak atau tidak dapat dipertanyakan lagi. Justru dari pengalaman kita memperoleh suatu fakta yang baru yaitu keberadaan. Ini yang akan menjadi topik tulisan filsafat berikutnya.
Comments
Post a Comment