Kanon Ruang Putih 2

 Aku, Kristus, meriwayatkan semua ini dari sudut pandangku pada saat anak yang bernama Esh itu datang ke dalam ruangan ini. Bagi para pembaca yang menyaksikan kisah ini, ini adalah kelanjutan dari "Ruang Putih". Namun, riwayat ini merupakan suatu perspektif kelanjutan berdasarkan sudut pandang Esh. Perbedaannya adalah aku, Kristus, yang mendiktekan semua ini untuk dituliskan oleh penulis kisah ini.

Suatu ketika aku sedang memandang kegelapan di luar ruangan putih, dan Yeshua menghampiri aku. 

"Esh"

"Ya Yeshua?"

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Aku hanya bingung apa makna kegelapan ini."

"Bagaimana maksudmu, Esh?"

"Aku tidak melihat suatu sumber cahaya di mana pun juga, tapi entah kenapa semuanya terang di sini. Ruangannya terang dan aku dapat melihat diriku dan dirimu dengan jelas pula."

"Akulah Cahaya yang menerangi segala hal ini."

Aku pun terdiam dan hanya menatap Yeshua yang tersenyum saja melihat wajahku yang kebingungan. Aku pun berpikir,

*Hah, dia yang menerangi segala hal ini? Tapi rasanya dia tidak bersinar, biasa-biasa saja. Bagaimana dia dapat mengatakan bahwa dia adalah cahaya? Orang yang aneh, dan menarik.*

Lalu Yeshua tertawa kecil-kecilan, dan aku sedikit kesal menimpalinya,

"Heh, apa yang lucu, kawan?"

"Tidak, lucu saja melihat kamu kebingungan, kelak kamu akan memahami semuanya."

"Apakah kamu dapat berjanji?"

"Ya, itu adalah janjiku, dan aku selalu menepati janjiku."

"Baiklah, kalau itu yang kamu katakan."

"Sekarang tentang makna kegelapan yang kedua, sebenarnya ini hanya pengalaman simbolik tentang ketiadaan."

"Ketiadaan?"

"Benar, ketiadaan. Artinya selain ruangan ini dan kita berdua tidak ada apapun juga."

"Ok, itu cukup dapat dimengerti. Namun, kalau itu adalah kebenarannya, apakah aku dapat melangkah melampaui ruangan ini?"

"Marilah kita coba."

Lalu Yeshua mengundang aku untuk berjalan menghampiri ujung dari kubus putih yang ada di bawah kaki kami.

"Cobalah kamu berjalan atau berlari menuju arah kegelapan itu."

"Baiklah."

Maka aku berusaha berjalan ke ujung balkon, tapi anehnya kakiku hanya bergerak di tempat. Namun, bukannya aku berjalan di tempat, kakiku bergerak maju tapi seolah-olah aku berjalan di treadmill. Pada saat yang sama, lantai balkon putih murni jadi tidak ada cara untuk mengenali apakah aku berjalan di treadmill atau tidak. Karena itu aku berusaha berlari, dan hasilnya tetap sama. Aku berusaha sprint, dan hasilnya tetap sama saja. Maka aku berhenti dan bertanya kepada Yeshua.

"Yeshua, apa maknanya?"

"Bukankah aku sudah berkata, bahwa tidak ada apa-apa selain ruangan ini dan kita?"

*Hmm, benar juga.*

"Sekarang cobalah lagi, dan kamu akan melihat perbedaannya."

Lalu aku melakukan hal yang sama, tapi kali ini aku dapat melangkah melampaui lantai balkon. Kakiku menapak, di pemandangan yang sama dengan Yeshua di depanku? Aku berbalik badan dan melihat ruangan putih itu lagi, sementara di depanku adalah pemandangan gelap itu bersama Yeshua.

"Yeshua, ini sangat aneh."

"Benar katamu, tempat ini memang tidak biasa, tapi itu hanya permainan kecil saja. Apa yang kamu dapat dari permainan kecil ini?"

"Barangkali kegelapan ini bisa berupa apapun?"

Yeshua tersenyum,

"Ya untuk sekarang hal itu cukup."

*Cukup? Apakah maksudnya ada pelajaran tambahan?*

"Sekarang lihatlah kembali kegelapan itu dan cobalah sentuhlah."

"Baik."

Aku pun menyentuh kegelapan itu dan terasa ada suatu hambatan, seolah-olah tanganku hanya dapat menyentuh sebatas balkon ini. Lalu Yeshua bertanya lagi.

"Katakan kepadaku Esh, apakah kegelapan ini suatu tembok hitam yang tebal dan tak terbatas, atau suatu papan transparan tipis, di mana ada ruang kosong melampaui papan ini?"

Aku merenungkannya sebentar, dan memperoleh suatu jawaban.

"Jawabannya adalah kita tidak dapat tahu."

"Benar Esh, sekarang coba rentangkan tanganmu lagi ke dalam kegelapan."

Aku melakukannya, dan kali ini tanganku berhasil melampaui balkonnya.

"Ah! Berarti tadi hanya papan tipis, begitukah?"

"Tidak juga, mungkin seperti itu, tapi bagaimana kalau ternyata tadi benar-benar tembok hitam, dan tembok itu hanya menghilang?"

Aku pun terdiam dan memahami maksudnya.

"Jadi kesimpulannya adalah ada berbagai macam tafsir dari kenyataan dan kita tidak akan tahu kecuali kita memahami kenyataan utuhnya?"

"Benar sekali Esh."

"Lalu bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran apapun kalau seperti itu?"

"Jawabannya adalah kita tidak dapat mengetahui, kita hanya dapat percaya. Untuk sekarang cukuplah pembelajaran kita."

Lalu Yeshua kembali memasuki ruangan dan duduk kembali bersandar di tembok. Sementara itu aku hanya semakin bingung.

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas