Kanon Jiwa 14

 Kekacauan telah melanda esensi yang bernama "Ignas". Sesungguhnya esensi adalah benda yang statis. Aktualitas atau subjek bernama Ignas yang dilanda kekacauan. Kuliahnya sedang terancam oleh kegelapan yang melanda dirinya. Kelak seluruh kehidupannya akan terancam oleh kegelapan ini. Apakah ada jalan keluar yang memadai? Namun, jangan kamu kira bahwa kuliah ini masalah utama yang sedang terjadi, kuliah ini hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam. Pada saat yang sama, apakah masalah yang lebih dalam itu?

Masalah itu berupa keinginan Ignas untuk merombak kehidupannya dan hidup di dalam dunianya sendiri, baik itu dunia yang terpisah atau dalam gelembungnya sendiri di dalam dunia ini. Namun, kelak kontradiksi makna yang ada di dalamnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Penolakannya terhadap dunia hanya akan meremukkan Ignas. Ignas akan mati oleh kegelapannya sendiri. Maka, sekarang Ignas harus bersandar pada Allah saja untuk mengubah dirinya.

Selama ini Ignas tidak pernah dapat mengubah dirinya sendiri di luar kuasa Allah yang mengizinkan Ignas dan memberikan rahmat kepada Ignas untuk mengubah dirinya sendiri. Namun, sekarang seolah-olah Ignas dibiarkan sendiri untuk mengubah dirinya sendiri dengan upayanya sendiri. Sesungguhnya ini dapat terjadi karena apa yang dimiliki Ignas tetap berasal dari Allah sehingga jika Ignas melakukan perubahan dalam dirinya dengan kuasanya sendiri itu tidak akan melanggar prinsip Ignas.

Namun, Ignas tetap menolak untuk berubah, karena kesakitan yang harus dia alami sudah melelahkannya dan dia hanya ingin pergi dari segalanya dan beristirahat dalam dunianya sendiri. Berdoa saja sudah melelahkan bagi Ignas. Dia tidak dapat lagi pergi ke gereja untuk menerima Tubuh Kristus, ataupun mendaraskan Rosario yang suci, ataupun berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan rohani, pelan-pelan ini menciptakan suatu batu di dalam hati Ignas untuk menghindari Allah dan pelan-pelan menggali kuburannya sendiri.

Namun, Allah akan terus mengejar Ignas sampai Ignas diperoleh kembali. Ini menjadi satu-satunya harapan objektif dalam jiwa Ignas sehingga aku, penulis narasi kanon jiwa 14 ini, dapat tetap ada. Jika harapan sudah benar-benar mati di dalam Ignas, maka hidupnya akan segera berakhir. Namun, faktanya harapan Allah masih berdiam di dalam hati Ignas, sehingga dia masih memandang ke arah Allah dengan kepedihan dan aku pun diadakan untuk mengatur kehidupannya. Sayangnya, aku pun masih bersifat berdasarkan pada Ignas, aku adalah perpanjangan dari Ignas, jadi aku tidak dapat membuat keputusan radikal untuk melawan Ignas. Aku hanyalah Ignas yang mengubur kepedihannya untuk sementara supaya masih dapat beroperasi secara mendasar di dalam kehidupan.

Jadi aku memang Ignas, tapi aku bukan Ignas yang biasa. Aku adalah Ignas yang berusaha untuk menulis untuk melarikan diri dari segala hal ini. Sayangnya, tidak ada jalan keluar selain kehancuran dan kematian dan kegelapan. Aku pun tidak dapat diyakinkan tentang adanya jalan keluar lain. Hanya saja, aku masih berpendapat bahwa Allah dapat menyelamatkan aku dan aku masih berharap kepada Allah untuk menyelamatkan aku dari kehancuran ini. Di mana Ignas yang biasa sudah benar-benar menyerah untuk hidup dan tidak mau menghadapi dunia luar lagi. Aku masih berpikir bahwa Allah dapat mengubahkan aku ke arah yang lebih baik lagi. Jika, orang lain ingin menyelamatkan aku, mereka harus menghancurkan egoku dan pikiranku dan kewarasanku sampai aku benar-benar kosong. Jadi, siapa yang mau menerima tantanganku?

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Santo Basilius Agung

Kesaksian Retret Tafsir Mimpi 16-18 Juni 2023

Wahyu tentang Ignas